
Livia menatap dingin untuk kesekian kalinya pelayan mengantarkan makanan ke kamarnya. ia hanya diam dan duduk di ranjang dengan pandangan yang kosong.
"Nyonya Livia, makanlah sedikit saja." ucap pelayan itu dengan tatapan sedih. sudah seharian ini Livia tidak menyentuh makanan sedikitpun jika terus seperti ini maka tubuh nyonya Livia akan sakit, apalagi wajah ya yang terlihat begitu pucat.
"Aku tidak ingin apapun, bawa pergi saja dari sini."ucap Livia tak menoleh sedikitpun pada pelayan atau makanannya.
"Tapi nyonya."
"Pergi dari sini." jerit Livia marah.
Pelayan itu langsung melangkah keluar ruangan dengan wajah ketakutan.
Sementara Rusell sudah mendapat informasi soal Livia yang tidak mau menyentuh makanannya. ia menjadi sangat kesal.
"Tetap bawakan makanan itu aku sendiri yang akan membuatnya makan." ucap Rusell dengan tajam.
💚
Pintu kamar terbuka dan Rusell masuk dengan seorang pelayan yang membawakan makanan untuk Livia. wanita meletakan nampan berisi makanan di atas meja dan keluar dari sana.
Rusell menarik nafas ketika melihat Livia berbaring miring di ranjang dan membelakanginya.
pria itu mendekat seraya menarik kursi untuk duduk di hadapan Livia.menatapnya dengan dalam.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan Livia." tatap Rusell.
Livia tak sedikitpun menatap Rusell ia memalingkan matanya. tetap diam dalam diam.
"Apa kau sengaja ingin menantangku dengan aksi mogok makanmu, kau pikir aku akan melepaskanmu ya." ucap Rusell tertawa.
"Pergilah...aku tidak ingin bicara padamu dan tidak ingin melihat wajahmu." ucap Livia dengan dingin.
"Livia dengarkan aku, cepat makan makananmu sekarang."
"Aku tidak mau."
Mata Rusell membara...diraihnya tubuh Livia untuk menatapnya. wajah Livia yang pucat begitu membayanginya. mengapa Livia tidak menyerah saja,mengapa harus menahan kesakitan demi pria lain yang bukan suaminya.
"Kau membunuhnya." ucap Livia lantang.
"Tapi dia ingin merebut kau dariku."
"Kau selalu saja berpikir jika aku akan pergi darimu atau seseorang akan merebutku..aku istrimu dan kau tidak pernah menganggapku."
"Itu karna kau menghancurkan kepercayaanku Livia, kau selalu ingin lari dan lari dariku dan aku...tidak akan memberi kepercayaan kepadamu Livia."
"Terserah kepadamu." ucap Livia menutup mulutnya.
__ADS_1
Sekarang kau harus makan Livia."
"Untuk apa..aku bahkan tidak merasa lapar sedikitpun."
"Livia berhenti menguji aku."
Rusell mencengkram wajah Livia, dengan sinar mata yang sangat tajam seakan menusuk kedalam hati Livia.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengancamku termasuk dirimu Livia, jika kau tidak mau menyentuh makananmu sedikit saja..maka aku berjanji aku akan menembak salah satu pelayan dirumah ini untuk mengganti kekesalanku karnamu."liriknya dingin.
"Tubuh Livia bergetar saat ini, apa yang Rusell katakan tidak sungguh- sungguh kan, bagaimana mungkin membunuh orang segampang itu, apalagi orang itu tidak bersalah. wajah Livia sangat pucat saat ini.
"Rusell...kau tidak sungguh-sungguh untuk mengancamku kan.? suara Livia tercekat.
"Apa kau ingin bukti untuk menguji kesungguhanku.?
Livia melonggarkan tenggorokannya, saat Rusell memanggil salah satu pelayan dirumah ini. seorang gadis muda tampak berdiri dengan tatapan polos.
Livia mencegah tangan Rusell ketika pria itu dengan santainya meraih pistol dari dalam sakunya dan mengarahkan pada gadis muda itu.
"Livia, nasibnya ada didalam tanganmu ." tatap Rusell dengan dingin...
Gadis yang melihat pistol itu di arahkan Rusell di kepalanya mulai gemetar, memandang Livia dengan ekspresi memohon...
__ADS_1
"Nyonya Livia." desahnya dengan airmata yang menetes.