
Tari membuka mata dan tertegun melihat ia tertidur di dalam pelukan Wilard. pria itu masih memejamkan mata di bawah selimut.
Tari melebarkan matanya ketika sadar pria ini sam sekali tidak memakai baju dan ia pun terkesiap..
"Apakah.."?
Tari bergerak dengan rasa syukur karna tidak merasa kehilangan sesuatu dari tubuhnya. berati ia masih utuh.
Gadis itu hendak bangun namun karna terllilit selimut tubuhnya kembali jatuh dan kali ini menimpa tubuh Wilard dengan posisi tubuhnya menindih tubuh Wilard, pria itu membuka mata seketika dan keduanya saling memandang..
"Aaku...tidak sengaja."
"Kau...sengaja.."
"Tidak..." Tari menggeleng..
"Kau sengaja ingin agar menyentuhku bukan."?
"Kau sudah gila." desis Tari melotot..
Wilard tertawa dengan gemas lalu membalikan posisi Tari agar gadis itu berada di bawahnya, menikmati wajah pagi Tari pria itu tersenyum.ia pura-pura tidur tadi dan membiarkan Tari mengendap-endap dengan ekspresi panik.
"Kau....bagaimana caranya aku menghukummu."?
"Bebaskan aku, dengan aku pergi kau tidak akan kesulitan" Tari membujuk.
"Dalam mimpimu sayang."
Kata-kata Tari membuat Wilard semakin gemas, menunduk pria itu kembali mencumbu bibir Tari di pagi hari, memabukan dan membuat sesuatu di dalam dirinya bergejolak. jemarinya yang lain bergerak menikmati keindahan di balik baju tidur Tari.
"Hentikan..astaga, aku minta maaf." jerit Tari tertawa dan saat itu juga cumbuan itu terlepas.
Wilard tersenyum dengan penuh kemenangan..dan bangkit dari tempat tidurnya... Wilard menutup senyumnya sementara Tari memperbaiki kancing bajunya yang terlepas.
"Mandilah, lalu turun dan sarapan bersamaku."
Pria itu berbalik dan melangkah...
"Tunggu.."
"Ya."
Tari beranjak dari ranjang dan menatap Wilard yang memunggunginya...
"Bolehkah aku membuat taman bunga di samping rumah besar."?
"Untuk apa."
"Tidak..dirumah orangtuaku aku senang menanam bunga."
"Berapa lama bunga itu bertahan hidup."? tanya Wilard.
__ADS_1
"Mungkin sebelum ulang tahunku bunga itu akan mati." ucap Tari.
"Baik,..lakukanlah sesukamu." Wilard melangkah keluar kamar dan meninggalkan Tari yang terdiam, lambat-lambat gadis itu tersenyum..
"Mengapa hatiku berdebar."? desahnya dengan wajah merona.
💗💗
"Luka di bahu anda sudah mulai mengering tuan Wilard." ucap dokter pribadi Wilard membalut dengan perban.
"Bagus." ucap Wilard dengan nada tenang.
Pintu diketuk dan seorang anak buahnya masuk seraya menunduk di hadapannya dengan penuh hormat.
"Theo." ucap Wilard, lalu memberi isyarat agar dokter pribadinya meninggalkan mereka sendiri.
"Ada apa."?
"Maaf tuan Wilard, tapi tuan Sean sudah mendesak tentang pertukaran yang akan dilakukan."
Wilard melonggarkan tenggorokannya..matanya terpenjam dengan berbagai pemikiran.
"Kau sudah mengatakan apa alasanku."?
"Yah..tapi tuan Sean ingin segera bertemu dengan nona Tari."
"Katakan aku ingin memilikinya lebih dahulu."
"Theo.."
"Ya tuan." pria yang menjadi tangan kanannya itu terdiam, mengapa tuan Wilard seperti ragu kali ini. bukan tanpa alasan tuan Wilard tidak pernah terlihat ragu. apa yang sudah terjadi.
"Apakah apa yang aku lakukan ini benar adanya."?
"Tentu saja tuan, mengapa anda ragu..apakah sebenarnya tuan...."
"Tidak..itu tidak mungkin Theo, aku tidak mungkin jatuh cinta pada musuhku sendiri, dia menembakku dia melukaiku, dan sudah sepantasnya ia mendapatkan hukuman." ucap Wilard mengepalkan tangannya. luka dibahunya membuatnya membenci Tari.
"Tuan Wilard jika anda ragu atas perasaan anda, kita bisa membatalkan kerjasama dengan tuan Sean sebelum semua terlambat...aku akan mengurusnya."
"Tidak.aku tidak akan membatalkan kesepakatanku hanya karna seorang gadis kecil..dia harus menanggung segalanya, kesepakatan ini bernilai jutaan dolarr ini lebih penting bagiku."tegas Wilard.
Theo menghela nafas, ia yakin tuan Wilard sudah jatuh cinta pada nona Tari hanya saja ia belum sadar akan semua itu.
"Baik tuan Wilard jika itu keputusan anda maka saya harus segera memberi kabar pada tuan Sean jika kesepakatan kita masih berlanjut, saya hanya ingin mengingatkan anda tuan..setelah saya memberi kabar maka anda tidak bisa lagi merubah keputusan."ucap Theo menunduk hormat.
"Aku tidak akan merubah apapun Theo."
"Baik tuan." Theo lalu menunduk sebelum meninggalkan ruangan itu.
Wilard memejamkan matanya...........Tari, kau tidak berarti apa-apa bagiku.. batin Wilard mengeraskan hatinya.
__ADS_1
💘💘
Tari menatap senang ke arah taman bunga yang telah selesai dibangun untukknya. Charli! pelayan Wilard membantunya untuk menanam bibit bunga.
"Nona..apa bunga-bunga ini sangat indah."?
"Yah...kau akan melihat bagaimana bunga ini mekar nanti dan harumnya akan membuatmu nyaman." ucap Tari sambil menanam.
Helikopter terbang rendah di atas atap rumah besar tanda kalau Wilard telah pulang. Tari menatap dengan senyuman. akhir-akhir ini tak ada lagi tatapan tajam dari Wilard hingga hubungan mereka sangat manis. Charli yang melihat Tari melamun dan tersenyum sendiri hanya menggeleng, sepertinya nona Tari sudah jatuh cinta.
"Nona...itu tuan Wilard sedang menuju kesini."
Tari mengangguk dan menatap ke arah Wilard yang melangkah ke arahnya, sementara para pelayan yang lain meninggalkan tempat ini termasuk Charli.
"Ehm....bunga-bunganya sudah di tanam."? tanya Wilard mendekati Tari yang tampak cantik.
"Yah..aku telah menanam semuanya dengan baik, dan kita tinggal menunggu waktu untuk melihatnya tumbuh." Tari melepas sarung tangan dan celemeknya dan menyerahkannya pada pelayan.
"Kau darimana Wilard."?
"Aku ke kota untuk mengurus beberapa hal."
"Baiklah..kau seorang pembisnis yang sibuk...ayo duduk dulu..aku tadi membuat kue dan kau harus mencobanya." seru Tari mendudukan tubuh Wilard di bangku taman dan ia pun segera berlari ke arah dapur yang memamg tidak jauh.
Sementara Wilard hanya mendesah..mengapa hatinya berdebar...mengapa...?
Tak berapa lama kemudian Tari tampak keluar dari sana dengan senyum manisnya, rambutnya tergerai indah tertiup angin sambil memegang nampan berisi kue-kue yang dibuatnya.
Wilard masih terdiam dan berusaha tersenyum, ketika Tari meletakan kue berbentuk bunga itu di atas meja.
"Bahkan kue pun kau membentuknya seperti kelopak bunga." ucap Wilard menggeleng tersenyum.
...Tari menempatkan tubuhnya di samping Wilard dan hendak menyuapi kue ke dalam mulut Wilard dsn keduanya membeku ketika mata mereka saling memandang dengan penuh arti....
"Ayo buka mullutmu." ucap Tari menuntut.
"Kau tidak meracuniku bukan."? bisik Wilard ketika wajah mereka mendekat satu sama lain.
"Kau menuduhku ya."? wajah Tari berubah sedih..
"Aku hanya bercanda..."
"Baik...aku akan mencoba kebih dahulu, jika kue ini ada racunnya, maka aku yang mati lebih dahulu."
Tari menggigit kuenya lebih dahulu namun ia membeku ketika Wilard juga menggigit kue yang sama, bibir mereka bertemu dengan getaran aneh yang menyerang keduanya...
Wilard merengkuh pinggang Tari hingga tubuh mereka menyatu, pria itu mengecup bibir Tari dengan gemas....
"Manis." bisiknya pelan.........
Tari tersenyum malu.....
__ADS_1