
Elena melngkah masuk kedalam area gedung kampusnya dengan wajah yang cemas. seluruh pikirannya dipenuhi dengan bagaimana ia bisa melakukan pembatalan pernikahan mereka. ia sangat takut pada Rafael. bagaimanapun pernikahan akan menjadi satu untuk selamanya, jika bukan sekarang ia memikirkannya. kapan lagi.. Rafael akan terus menjadikan alat pelampiasan di tempat tidur dan tidak perduli perasaannya sedikitpun. Elena menggelengkan kepalanya, tapi bagaimana caranya.
Berjalan dengan menundukan kepala membuat Elena menjadi tidak fokus. dan tiba-tiba saja ia menubruk dada bidang seseorang hingga membuat tubuhnya goyah, namun beruntung karna sesuatu menahan tubuhnya. Elena mengangkat wajahnya dan tertegun melihat seorang pria menatapnya dengan begitu dalam.
Sadar dalam posisi pria itu menahan tubuhnya, Elena menegakan tubuhnya. bagaimana kalau Rafael melihatnya di peluk pria lain. pria itu tak akan mengampuninya.
"Maafkan aku nona." ucap pria itu berpakaian casual santai tersenyum kepadanya. sepertinya dia adalah mahasiswa disini.
"Aku yang harus minta maaf, aku melamun sepanjang jalan..terimakasih kau sudah menolongku." Elena membalas dengan senyuman.
"Namaku Kenzo, panggil saja aku Ken, aku semester 4 di jurusan seni." ucap pria itu mengulurkan tangannya.
"Aku Elena, aku adalah mahasiswa baru di jurusan Bisnis Wisata." Elena membalas uluran tangan Kenzo dengan ramah.
"Baiklah, karna kau masih baru disini, bagaimana kalau aku mengantarmu sekaligus menunjukan kelasmu." tatap Ken penuh harap.
"Baiklah jika kau tidak sibuk."
"Aku tidak sibuk dalam 30 menit kedepan."
"Mengapa." ucap Elena sambil mereka berjalan.
"Dosen biasanya akan sedikit terlambat." balas Ken jujur.
...........**............
Rafael menggertakan giginya ketika mendengar percakapan Elena dengan seseorang bernama Ken. bagaimana ia bisa tau....itu gampang saja, karna diam-diam ia telah menempelkan alat penyadap kecil di gantungan tas milik Elena yang memungkinkan dirinya mengontrol Elena dari jauh, Elena tidak akan curiga dan tentu saja Elena tidak tau rencananya.
Rafael menyandarkan punggungnya di ruangan milikknya di sebuah gedung tinggi. matanya memandang nyalang pada pemandangan lewat kaca jendelanya.
jemarinya memainkan pulpen mahal di tangannya.
"Elena Rive, kau mau mengujiku yah...lihat saja nanti hukuman apa yang akan kau dapatkan ketika kau berani melanggar semua peringatan dariku." ucap Rafael sambil memejamkan matanya, dengan senyuman kemenangan.
*********************
Elena melangkah bersama teman barunya bernama Tiara menuruni tangga parkiran keduanya tampak saling bercanda. dan mengenal pribadi mereka masing-masing.
"Jadi kau anak tunggal yah, sama sepertiku yah..aku juga anak tunggal." ucap Tiara tersenyum.
"Itu sebabnya kita cocok." sambung Elena tersenyum.
"Eh...siapa pria tampan disana." tunjuk Tiara pada sosok Rafael yang sedang menatap mereka dengan tajam.
"Dia..adalah kakakku." ucap Elena berbohong.
"Tampan sekali dia." puji Tiara terpesona.
"Biasa saja kok."
Rafael yang menyadari perkataan Elena semakin tidak sabar ingin menghukum Elena.
"Haii...." ucap Rafael lebih dahulu menyapa dengan ramah.
Tiara merasa akan terbang hanya mendengar suara Rafael. sedangkan Elena hanya menaikan alisnya.
__ADS_1
"Kau adalah...."
"Kakak Elena."jawab Rafael sambil melirik sinis pada Elena.
"Bagaimana bisa Rafael tau jika ia mengaku sebagai adikknya."
"Kau kakak yang luar biasa baik." ucap Tiara menjadi salah tingkah.
"Terimakasih nona, tapi maaf..kami harus buru-buru..ada acara keluarga." pamit Rafael merasa malas berada di area kampus ini.
"Baiklah, Tiara..aku pulang dulu."pamit Elena.
"Sampai jumpa besok Elena." mata Tiara kemudian tertuju pada Rafael yang seakan menghipnotisnya.
Rafael tidak sedikitpun perduli ia langsung memasuki mobil dan melanjukan mobilnya dengan cepat meninggalkan parkiran kampus.
"Apa yang kau lakukan seharian ini dikampus, dengan siapa saja kau bertemu apakah dengan seorang pria." tanya Rafael detail.
"Tidak ada yang penting, aku tidak bicara pada seorangpun pria."
Kau....berbohong.... batin Rafael kesal.
"Mengapa kau menyebutku sebagai kakak dan bukan calon suamimu, apa kau merasa malu."
Elena terdiam kehilangan kata-kata, namun wajahnya berubah pucat ketika Rafael memutar arah mobilnya ke sebuah kawasan apartement mewah.
"Kita mau kemana."
"Kau harus menerima hukumanmu lebih dahulu di apartemenku." ucap Rafael dengan seringai tajam.
**********************
Angel memandang bingung ke arah cangkir kopi dan gula yang tersedia di hadapannya. sudah 15 menit ia berdiri disini tanpa tau apa yang harus dilakukannya. ia mencoba memejamkan mata mengingat cara mama Livia menyeduh kopi namun ia sama sekali merasa buntu.
"Bagaimana kalau ia menelfon mama saja."? ucapnya pelan.
............................
Angell meletakan secangkir kopi dihadapan Wili dengan sangat sopan. pria itu menatap Angel sejenak tampak ragu.
"Ayo minumlah tuan Wili."
"Apa kau menaruh sesuatu di dalam kopiku, kau terlihat memaksa."
"Kau sendiri yang bilang aku harus cepat, mengapa sekarang malah menuduhku." Angel menggeleng kesal.
"Kau minumlah lebih dahulu."
"Aku."? ucap Angel tak percaya.
"Tentu saja dirimu, aku tidak mengambil resiko Angel."
"Kau benar-benar...."
"Minumlah." perintah Wili.
__ADS_1
Angel lalu meraih cangkir itu dan meminumnya sedikit, matanya melebar senang, karna kopi ini terasa nikmat. itu karna campur tangan mamanya. Angell tersenyum, mama Livia adalah yang terbaik.
"Cukup, apa aku menyuruhmu menghabiskannya."? tatap Wili tajam.
Angell segera sadar dan meletakan cangkirnya lagi.
"Tidak ada racun kok.. mana mungkin aku meracunimu di kantormu sendiri."
"Aku tidak berpikir sejauh itu kalau kau akan meracuniku."
"Lalu untuk apa kau memintaku minum lebih dahulu."
"Aku tidak bisa meminum kopi jika terlalu panas, dan kau sudah membuktikan bahwa kopi itu bisa diminum sekarang."
"Aku adalah kelinci percobaanmu."
"Ya..."balas Wili dengan telak.
Angel mengepalkan tangannya dengan kuat, ia siap membunuh sekarang.bisakah dia membunuh Wili sekarang..
Wili meminum kopi dari dalam cangkir yang sama hingga Angel hanya terdiam. pria ini..tidak sedikitpun merasa malu, itu sama saja secara tidak langsung mereka sudah berciuman bukan. dengan meminum di cangkir yang sama. ada bekas bibirnya disana.
"Sekarang mulailah bekerja." ucap Wili dengan santai.
"Apa pekerjaanku."
"Membuatkan gaun pengantin di sana." Wili menunjuk sebuah ruangan yang terhalang sebuah pintu kaca tebal, seperti sebuah kamar disana.
"Kau bilang aku sebagai sekretarismu."
"Tidak, aku sudah punya sekretaris... aku ingin kau menyelesaikan gaun pengantin yang indah untuk calon istriku dan juga jass untukku."
"Jika membuat gaun saja lebih baik aku membuatnya di butikku."
"Tidak..aku ingin kau membuatnya di kantorku dan aku akan mengawasimu, aku tidak ingin insiden pencurian berlian itu kembali terjadi." ucap Wili tegas.
Wajah Angell memerah sangat kesal....
"Lalu bisakah aku mendapatkan ukuran calon istrimu, setidaknya bisakah dia kesini sebentar."pinta Angell.
Wili kemudian menekan interkom dan berbicara pada sekertaris aslinya. lalu sesaat kemudian pintu terbuka. dan tampaklah dua orang wanita dewasa menunduk kepadanya.
"Siapa mereka." tanya Angell menatap Wili dengan begitu heran.
Wili hanya memandang Angel dengan senyuman misterius..
"Kalian berdua ukurlah tubuh nona Angel untuk gaun pengantin yang akan dibuat, aku ingin kalian berdua membantu nona Angel."
"Baik tuan Wiliam." ucap mereka berdua serentak.
"Tuan Wili tapi aku tidak...."
"Calon istriku sedang sibuk, dan lagi tubuhnya sama sepertimu..apa salahnya aku mengukur pegawaiku sendiri." Wili tersenyum menikmati wajah tersiksa Angell. gadis itu terlihat cantik walau dalam keadaan marah.
Angel kehilangan kata, ia harus pasrah ketika dua orang wanita itu menuntunnya kesebuah ruangan yang telah di tunjukan oleh Wili.
__ADS_1
Dasar pria tua, awas saja, Angell akan menemukan cara untuk membalasnya....