Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Sedikit cemburu


__ADS_3

"Mengapa...apa kau sedang mengekangku saat ini." ucap Angell tidak terima...


Wili bangkit dari tempat duduknya mendekati Angel...


"Apa kau lupa jika kau membuatku marah atau membantah kata-kataku maka kau akan mendapat hukuman." Wili bersedekap dengan seringai tajamnya.


Angell memejamkan matanya, Wili memanfaatkannya dengan sangat baik.....


"Apakah kau akan menghukumku lagi." tatap Angel mulai kehilangan kesabaran.


"Tentu saja,hukumanmu adalah kau tidak hanya harus makan siang denganku namun kau akan makan malam juga denganku selama sebulan." Wili tersenyum dingin, tak membiarkan Angel membalas kata-katanya atau protes. iapun membalikan tubuhnya.


Wili melangkah keluar dari ruangan dengan senyuman kemenangan, membiarkan Angell terngaga dengan keputusan sepihaknya. setidaknya Wili harus menjauhkan mereka dulu sambil Fela mengerjakan bagiannya. Wili tak akan membiarkan mereka memiliki kesempatan sekecil apapun untuk menghabiskan waktu bersama, apalagi ia menyadari kalau Angel juga menyukai Dani, beberapa kali Angell tertangkap camera pengawas sedang menatap Dani dengan ekspresi kagum. Wili tak akan rela karna Angell adalah bagiannya dan juga milikknya.


Angell menyadarkan tubuhnya di dinding ruangan, ia tidak percaya bahwa saat ini dia berada di dalam kendali seorang pria tua seperti Wili. Angell mengepalkan tangannya dan menatap ke arah pintu ruangan.


"Aku akan membalasmu dengan segera, liat saja." jerit Angell penuh dendam. dan segera memasuki ruangannya, setidaknya ia tak ingin melihat wajah pria itu ketika ia kembali.


Angel menatap kedua asisten yang kemarin dikirim Wili dengan tatapan kesal.


"Kita akan mulai bekerja hari ini dan aku harap kalian berkonsentrasi karna aku...tidak akan mentoleril kesalahan sekecil apapun." tatap Angell memperlihatkan wajah culasnya.


Kedua wanita itu hanya saling memandang dengan sedikit takut, lalu segera mengerjakan bagian mereka.


********************************************


Dani melangkah dengan ringan ke sebuah ruangan yang memang disiapkan untuk pegawai baru yang akan di terima. ia membuka pintu pelan dan tertegun menyadari sosok wanita yang begitu dikenalnya menatapnya dengan senyuman rindu.


"Apa kabar sayang." ucap Wanita itu mendekat.


"Felasia."


Dani membuka mulutnya dengan mata yang tak terbaca, sejuta pertanyaan muncul di benaknya, mengapa tiba-tiba Fela muncul di kantor ini, siapa yang memasukannya, apa sebenarnya rencana Fela. jika kak Wili tau Fela Disini maka ia tak tau apa yang akan terjadi dengannya. kak Wili tak pernah tau hubungan keduanya dan berpikir kalau ia dan Felasia hanya sebatas teman kecil yang masih berhubungan baik. jika kakaknya tau mereka ada hubungan maka habislah dirinya. batin Dani.


"Kau tidak mau memeluk kekasihmu disini Dani."


Fela tau bahwa Dani hanya bersikap jual mahal kepadanya. ia sadar betul jika pria dihadapannya sedang berjuang menahan segala hasrat yang mulai menguasainya. tentu saja jangan sebut dia Felasia jika ia tidak tau titik lemah seorang pria.

__ADS_1


Fela menjatuhkan tubuhnya pada tubuh Dani dan menaikan sudut bibirnya, jemarinya yang nakal sudah mulai naik dan membagi tugas itu menggoda sesuai dengan perintah otakknya. Fela menatap mata Dani yang mulai membara.


"Aku hanya ingin dekat denganmu saja karna itu aku nekad mendekatimu ditempat kerja."


"Lepaskan tanganmu Fela, kau tau kita sedang dikantor saat ini."


"Bagaimana kalau di luar kantor...apakah kita bisa lebih bebas." Fela menatap dengan nakal.


"Ke apartemenku saja sekarang." balas Dani tergoda, ia segera melangkah lebih dahulu meninggalkan Fela yang hanya tersenyum dengan penuh kemenangan. ia lantas mengetik sesuatu di ponselnya. dan kemudian melangkah mengikuti Dani.


******************************************


Angel masih cemberut pada jam makan siang. hari ini ia berencana untuk membuat alasan untuk tidak makan siang bersama Wili karna ia masih sangat kesal pada pria itu.


Kedua asisten wanita yang bersamanya sudah lebih dahulu pergi, hingga Angel hanya seorang diri di dalam ruangannya.


Wili menatap pesan di ponselnya dan tersenyum, untuk pekerjaan awal Fela selalu melakukannya dengan baik.


Pria itu melirik jam ditangannya lalu menatap ke pintu ruangan Angel. mengapa dia belum juga keluar untuk makan siang.? Wili bangkit dari tempat duduk dan melangkahkan kakinya ke ruangan itu, lalu membuka pintu. ia tertegun melihat Angel masih serius dengan menjahit ujung gaun dengan beberapa hiasan payetan.


"Angel, apa kau tidak melihat sudah jam berapa sekarang ini sudah jam makan siang."


"Maafkan aku Wili, tapi aku sangat sibuk sekarang..aku tidak bisa menemanimu makan siang." Angel melirik dan tersenyum minta maaf, sembari menyembunyikan wajah jengkelnya.


"Aku sudah tebak isi dari kepalamu Angel, tenang saja..aku sudah memesankan makanan untuk kita berdua." Wili menjebak Angel dalam tatapannya.


"Baiklah kalau begitu, kita akan menunggu makan siang disini." Angel kembali menatap gaun dihadapannya dengan wajah kusut. bahkan pria ini sangat pintar sekarang ini ia tak bisa menghindar.


***************************************


Rafael mengantar Elena seperti biasa di depan kampus. mobil berhenti di parkiran, karna hari masih terlalu pagi, alasan Elena datang pagi adalah karna ia harus mencari buku di perpustakaan sebagai bahan referensinya.


"Jam berapa kau akan pulang, aku akan menjemputmu." Rafael melirik Elena di sebelahnya yang hendak membuka pintu mobil.


"Apa kau tidak bekerja, kalau kau sibuk tak usah menjemputku saja..aku akan pulang sendiri."


"Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian walau aku sangat sibuk."

__ADS_1


"Mungkin sekitar sore karna aku akan menghabiskan waktu di perpustakaan untuk tugas-tugasku." Elena mengalah.


"Baiklah, kau harus menungguku."


"Baik." Elena tersenyum..lalu mendekati Rafael dn mencium bibir pria itu dengan penuh perasaan.


Ketika ciuman itu berakhir, Rafael hanya bisa membeku dengan debaran jantung yang berpacu dengan cepat.


Mereka tidak sadar kalau ada sepasang mata yang menatapnya penuh kebencian dari jarak yang tersembunyi. seorang pria yang bersembunyi itu menempelkan tubuhnya di dinding kampus dan segera menelfon seseorang.


"Ibu....aku sudah menemukannya, dan aku pastikan..akan menghancurkan hidup mereka seperti mereka menghancurkan hidup kita." pria itu mematikan ponselnya dan melangkah menjauh. wajah marahnya berubah menjadi senyum yang begitu cerah seolah tidak terjadi sesuatu kepadanya. ia melangkah menaiki tangga dan berakhir di sebuah ruangan kelas.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>


"Mengapa kau menciumku Elena, kau bilang kau tidak mau menciumku ketika kita dikampus."


"Aku sedang ingin saja." ucap Elena dengan wajah malunya.


"Sering-seringlah menginginkan itu, karna aku menyukainya."


"Akan aku pikirkan."


Elena membuka pintu mobil dan meninggalkan Rafael yang masih menatapnya dengan tajam. sesekali ia menoleh untuk memberi lambaian tangan pada Rafael.


Elena melangkah dengan senyuman yang masih tertinggal diwajah cantikknya hingga tidak terlalu memperhatikan jalan ketika ia kembali menubruk seseorang.


"Kenzo." ucap Elena dengan tatapan terkejut...


"Kau selalu ceroboh." pria itu menegakan tubuh Elena agar Wanita itu berdiri dengan sempurna.


"Kau selalu menyelamatkan aku lagi." Elena tersenyum senang, karna ia tidak sampai terjatuh.


"Yah...kau harus lebih berhati-hati Elena, karna aku tidak bisa setiap saat menolongmu." Ken menjebak Elena dalam tatapannya...


"Apa maksudmu."


"Tidak, aku hanya bercanda...ayo kita ke perpus." ajak Ken sekaligus mengalihkan pembicaraan mereka...

__ADS_1


__ADS_2