Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Rencana pernikahan Rafael


__ADS_3

Zefanya menatap dirinya sendiri di depan cermin, hari ini dia sedang fiting gaun pengantin dan kak Angell sedang menatapnya tajam. menyuruhnya berputar-putar. Zefanya tersenyum sendiri menyadari ia cantik dalam balutan gaun pengantin itu.


" Gaun ini sangat cocok untukmu Zefanya, kau sangat cantik. karna pernikahan tinggal seminggu lagi jadi kau harus mulai perawatan seluruh tubuh mulai dari sekarang." ucap Angell.


"Baik kak."


"Rafael akan mengantarmu." sambung Angell tersenyum.


Zefanya mengangguk, ia menatap kagum pada kecantikan kak Angell yang semakin hari semakin terlihat. di usia kehamilannya yang sudah besar enam bulan kak Angell begitu mempesona.


"Mengapa kau menatapku begitu."?


"Kakak terlihat lebih cantik ketika hamil."


"Benarkah...kau juga akan mengalami sepertiku jika sudah hamil nanti."


Zefanya merenung...tidak akan mungkin terjadi, ia telah menanda tangani surat perjanjian bahwa pernikahan mereka hanya akan bertahan enam bulan, Rafael selalu menggunakan pengaman kala mereka bercinta. Zefanya tidak akan pernah merasakan hamil anak Rafael. itu hanya ada dalam mimpinya. yah...status sosial mereka jelas berbeda..Zefanya cukup beruntung bisa di terima dengan baik oleh keluarga Rafael yang baik, dan tidak memandang status dalam sebuah hubungan. apalagi mama Livia, bahkan Zefanya berkhayal jika mama Livia akan menjadi mertuanya. ia pasti akan sangat bahagia.


Pintu ruangan terbuka, sekaligus menghempaskan lamunan indah Zefanya. disana ada kak Wili yang baru pulang bekerja.


"Hai..Zefanya." tegur calon kakak iparnya itu dengan sopan.


"Hai kak Wili." balas Zefanya tak kalah sopan.


Wili menghampiri Angell dan mencium puncak kepala Angell dengan penuh kasih sayang.


"Apa kabarmu hari ini sayang."? bisik Wili memeluk tubuh istrinya.


"Aku baik-baik saja sayang, aku merindukanmu." bisik Angell.


"Kau harus janji setelah pernikahan Rafael, kau harus berhenti dari butik sampai anak kita lahir dan besar."


"Kau cerewet sekali." bisik Angell tertawa.


"Tentu saja, aku...akan mengawasimu."


"Baiklah aku janji sayang." bisik Angell tersipu.


Keduanya tertawa.....


Zefanya yang melihat kemesraan keduanya tersenyum sendiri, ia begitu iri melihat tatapan cinta dari kak Wili untuk kak Angell.


Rafael membuka pintu dengan wajah lelahnya ia tertegun melihat Zefanya dalam balutan gaun pengantin, Rafael tersenyum....


"Kau terlihat berbeda Zefanya." Rafael memuji.


"Dia cantik kan Rafael, apa kau menyukai gaun pengantin ini."? ucap Angell.


"Yah...kakakku memang yang terbaik..dan kau menjadi idolaku kakak." ucap Rafael mengedipkan matanya pada kakaknya Angell.


"Kau memang gombal seperti kak Wili." cibir Angell melirik Wili yang masih memeluknya.


"Aku tidak gombal sayang, aku memang mencintaimu." ucap Wili mengecup pipi Angell berkali-kali hingga Rafael memutar bola matanya jengah.


"Jangan menodai mataku yah..Zefanya, cepat gantilah dan kita pulang..aku sudah sangat lelah."


"Baiklah Rafael." ucap Zefanya melangkah ke ruang ganti.


Angell menatap Rafael dengan wajah serius.


"Apa kau sudah mendengar kabar tentang Elena."

__ADS_1


Rafael memutar tubuhnya menatap kakaknya.


"Elena."?


"Ya.."


"Ada apa dengannya, aku terlalu sibuk hingga aku tak sempat ada waktu untuk mendengar hal yang tidak penting."


"Dia sedang mengajukan sidang cerai." ucap Angell.


"Sidang cerai."? Rafael mengerutkan dahinya.


"Tapi kabarnya suaminya tak mau bercerai darinya."


"Biarkan dia menanggung akibatnya..aku..."


"Rafael.."


"Hmmm."?


"Jangan pernah menemuinya jika dia memintamu dengan alasan apapun..aku tau dia masih belum menyerah tentangmu, jangan sakiti Zefanya karna aku dan mama sangat menyayanginya." ucap Angell memberi peringatan.


"Aku mengerti kak, aku tidak akan goyah padanya."


"Kakak lega mendengarnya." Angell mengangguk senang.


Sementara Zefanya mendengar semua pembicaraan dua kakak beradik itu, matanya berkaca-kaca..entah mengapa hatinya menjadi sakit sekali. tak seharusnya dia merasakan itu bukan.? jika waktu itu tiba maka ia juga akan segera menjadi mantan.


💚💚


Rafael membuka pintu apartemen dengan diam, tak biasanya dia seperti itu. apakah ini ada hubungannya dengan pembicaraan mereka tadi.?


"Apa kau mau makan dulu."?


"Baiklah."


Zefanya melangkah menuju dapur, meninggalkan Rafael yang menatapnya dengan dalam.


Zefanya mengaduk mie panas yang ia masak tadi, cuaca diluar tadi sangat dingin.


ia menatap ponselnya dan membuka pesan.


"Kak Jay."? desahnya dengan lemah. ia menutup ponselnya dengan sedikit gemetar. tak ingin membaca pesan itu lagi.


"Zefanya."?


"Yah.." Zefanya mengangkat wajahnya dan tertegun melihat Rafael berdiri sambil bersandar di pintu dapur. memakai piyama ia terlihat segar.


"belum tidur Rafael." tanya Zefanya langsung berdiri


"Melihatmu makan mie, aku juga ingin..bisakah kau membaginya denganku."?


"Tentu saja..aku masak banyak dan masih panas."


Zefanya berdiri mengambil mangkuk dan menuangkannya untuk Rafael. merekapun makan bersama.


Hening..........


"Siapa yang mengirim pesan tadi sehingga mampu membuat wajahmu menjadi pucat."


"Bukan siapa-siapa." jawab Zefanya dengan cepat.

__ADS_1


"Baiklah..." Rafael meneruskan makannya dengan curiga.


"Besok aku ingin keluar sebentar Rafael."


"Kemana."?


"Aku..ingin..mengunjungi adikku." ucap Zefanya pelan.


"Baiklah..bagaimana kalau aku mengantarmu."?


"Tidak terimakasih Rafael, kau pasti sibuk...aku bisa pergi sendiri."


"Apa kau ingin mengunjungi kekasihmu diluar sana."? tatap Rafael gerah.


"Tidak..aku tidak menemui apa yang kau maksud."


"Karna itu kau harus membiarkan aku mengantarmu, aku tidak suka jika kau menghianatiku Zefanya."


"Baiklah Rafael..kau boleh mengantarku...jangan marah." ucap Zefanya tanpa sadar menyentuh lengan Rafael dan mengusap pelan disana.


Rafael terdiam, entah mengapa cara Zefanya menenangkannya begitu menyenangkan, Rafael ingat mama Livia selalu menenangkannya dengan cara yang sama, mengusap tangannya.


"Aku kenyang sekarang." Rafael menyudahi makannya dan memjnum segelas air.


"Aku akan mencuci ini semua." ucap Zefanya bangkit dari tempat duduknya.


"Tidak Zefanya...biarkan saja disitu."


"Mengapa."?


Rafael mengusap kasar wajahnya memandang Zefanya dengan penuh keinginan.


"Aku menginginkanmu sekarang Zefanya."


Wajah Zefanya memerah.....


"Baiklah...biarkan aku mandi sebentar Rafael."


"Baik..aku tunggu dikamar dan kumohon cepatlah."


"Tentu." Zefanya tersenyum.


❤❤


"Aku minta maaf Zefanya, aku ada rapat pagi ini dan tidak bisa mengantarmu." ucap Rafael terburu-buru sambil menatap Zefanya yang memakaikan dasi untukknya.


"Tidak mengapa Rafael, aku tau kau sibuk."


"Cepatlah pulang Zefanya, aku ingin ketika aku pulang kerja kau sudah dirumah."


"Baiklah aku janji."


Rafael tersenyum lega lalu mencium bibir Zefanya sebentar dan keluar dari rumah.


Senyum di wajah Zefanya menghilang...sebentar lagi ia akan menjadi istri selama enam bulan. apa yang akan terjadi pada hidupnya.?


Ponselnya berdering, Zefanya meraih ponselnya dan menatap dengan gugup.


"Kak Jay."??


Zefanya menjadi sangat pucat. apa yang harus ia lakukan sekarang, bagimana bisa kakak tirinya menemukan nomornya padahal dia sudah menggantinya.?

__ADS_1


Zefanya memejamkan matanya merasa ketakutan, ia menyentuh dadanya yang berdebar-debar...


"Aku harus bagaimana."? desahnya dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2