Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Undangan


__ADS_3

Rusell meletakan undangan di atas meja rias Livia sambil menyandarkan punggungnya di sofa.mata keduanya bertemu untuk sesaat.


"Undangan apa."


"Pernikahan rekan bisnisku."


"Mengapa memberikan undangan ini padaku."?


"Kita akan pergi bersama."


"Mengapa."?


Rusell tersenyum lalu bangkin mendekati Livia yang masih duduk di meja rias menatap pantulan cermin ketika Rusell mendekatinya. pria tersenyum membungkukan badan agar sejajar dengan kepala Livia, mereka saling memandang lewat pantulan cermin.


"Karna aku ingin kau ikut denganku Livia."


"Kau punya Eva, mengapa bukan dirinya yang kau ajak."


"Kau adalah istriku, jadi aku harus mengajakmu, kau butuh keluar dari rumah dan bertemu banyak orang diluar sana seperti dirimu yang dullu."


"Aku tidak mau." balas Livia datar.


"Sayang, kalau aku bilang kau harus ikut maka itu yang akan terjadi."


"Tapi untuk apa." tatap Livia enggan.


"Aku ingin menunjukan pada dunia bahwa aku punya seorang istri yang sangat cantik."

__ADS_1


"Eva juga cantik."


"Tapi dia bukan istriku."


"Lalu dia siapa."? tatap Livia kesal.


"Dia hanya teman tidur, dan pemuasku" ucap Rusell santai.


"Kau...bajingan."


"Tentu, aku seorang bajingan itu..jadi aku ingin kau siap besok malam dengan dandanan paling cantik." Rusell mengingatkan.


"Kau hanya ingin menunjukan pada dunia tentang siapa aku padahal kau sendiri memperlakukanku denan kejam."


"Itulah caraku mendidikmu agar kau semakin pintar sebagai istriku."


"Apakah kau pernah berpikir bagaimana perasaanku sedikit saja Rusell."


Rusell tertegun.....


"Aku hanya ingin hidup normal, aku merasa hidupku sudah tidak artinya lagi sekarang." isak Livia yang membuat Rusell terdiam.


"Livia.."


"Apa salahku hingga untuk hidup tenang saja aku tidak pantas hah."? jerit Livia dengan suara serak.


Rusell meraih lengan istrinya dan memaksanya berdiri sejajar dengannya dan menatapanya sangat tajam.

__ADS_1


"Apakah selama ini aku tidak memberimu kesempatan." geram Rusell.


Livia hanya menatap dalam tangisnya.


"Apa selama ini sedikit saja aku tak pernah memberikanmu tawa."?


Livia mencoba meronta namun pegangan Rusell terlalu kuat.


"Aku seorang Rusell Wins mencoba memberikan hati kepadamu, kepercayaan dan cintaku yang sangat mahal..tapi apa yang kudapatkan.? hanya penghianatan darimu istriku."


"Rusell lepaskan aku."


"Jangan membantah semua kata-kataku Livia, anggap saja hidup bersamaku adalah hukuman yang indah untukmu." lirik Rusell segera melepaskan tubuh Livia.


"Hukuman yang indah, kau sudah menyakitiku begitu dalam..dan kau bilang hidup bersamamu adalah hukuman yang indah."


"Tentu saja."


"Aku sangat membencimu Rusell Wins."


"Baguslah...kumpulkan kekuatanmu karna aku ingin melihat bagaimana kebencianmu itu mempengaruhiku."


Livia menghapus airmatanya. kalau kemarin dia masih ragu untuk pergi tapi sekarang tekatnya sudah bulat. meninggalkan Rusell adalah keharusan baginya. cukup sudah hampir setahun dia menikah dengan pria kejam ini. Livia sudah menyiapkan hati dan perasaanya yang kuat untuk meninggalkan Rusell.besok dimalam pesta itu Roni juga akan datang. dan semoga semua berjalan sesuai rencananya. Lvia sudah tau undangan itu dan sadar Rusell akan membawanya pergi. Livia tidak sabar lagi untuk besok. segala persiapan telah dilakukan Mira agar semua terlihat seperti sebuah kecelakaan alami. Livia menatap Rusell penuh dendam. ini terakhir kalinya dia melihat wajah itu wajah yang memberinya cinta dan luka.


"Aku harap kau menyesalinya karna pernah menyakitiku dengan sangat dalam Rusell." ucap Livia mengepalkan tangannya.


Rusell tertawa, ketika mendapat tatapan kebencian dari Livia untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


__ADS_2