Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Rencana pernikahan


__ADS_3

Rusell kembali hari itu juga dari perjalanan bisnisnya. pria tampan itu disambut oleh istri dan anak-anakknya.


turun dari mobil, Rusell tersenyum pada wanita yang teramat ia cintai yaitu Livia istrinya. membawa seikat bunga ia menghampiri Livia dan langsung mencium bibirnya dengan mesra. hal itu membuat anak-anakknya ikut bahagia sekaligus iri dengan kemesraan orangtuanya. jelas bukan rahasia lagi jika Rusell sangat mencintai istrinya.


"Aku sangat merindukanmu sayang."


"Aku lebih merindukanmu suamiku." Livia mencium aroma bunga mawar putih yang selalu ia sukai.


Lalu Rusell mencium putrinya Angel dan memeluk putranya Rafael yang juga ia rindukan. lalu pandangan mata Rusell tertuju pada Elena yang berdiri di samping Livia dan ikut tersenyum malu-malu.


"Kaukah Elena Rive yang cantik itu." ucap Rusell kemudian memeluk tubuh Elena dengan erat.


"Kau sangat cantik, dan aku tidak sabar lagi untuk membuat pesta pernikahan yang megah untuk kalian berdua." ucap Rusell tegas.


"Papa Rusel, aku tidak....."


Kata-kata Elena terputus ketika Livia mengaja masuk untuk bicara di dalam ruang keluarga....


"Apa maksud papa dengan menikah." ucap Livia mendekati suaminya yang tampak serius.


"Orangtua Elena akan pulang ke negara ini dan aku, telah membicarakan tentang pernikahan ini pada mereka."


Rafael tersenyum puas, dari awal memang dia ingin menikah.


Livia menatap ke arah Elena yang menggeleng tidak setuju.


"Tapi pa...Elena ingin mengatakan sesuatu." ucap Livia melirik kepada Elena untuk bicara.


Elena menatap wajah papa Rusell yang tampak menatapnya tajam.


"Pa....aku belum mau menikah, karna...aku tidak mau melanggar kak Angel untuk menikah." ucap Elena memberi alasan.


Angel hanya memejamkan mata pasrah, menyadari namanya dibawa.


"Kak Angel akan papa jodohkan dengan anak teman papa, jadi itu bukan alasan pernikahan kalian di tunda."


Kali ini bukan Elena saja yang terkejut namun Angel dan juga mama Livia terkejut. Angel hanya menggeleng merapatkan tubuhnya di dekat mama Livia.


"Papa..jangan main-main, aku tidak mau kau memaksakan kehendak papa pada putriku." ucap Livia memeluk Angel dengan gerakan melindungi.


"Mah..kakak sudah menjelang 23 tahun, sudah sepantasnya kakak untuk menikah." ucap Rafael mendukung papa Rusel.


"Mama tidak pernah melarang sayang, tapi..mama tidak mau perjodohan itu menjadi beban untuk kakakmu dan pada akhirnya dia tidak bahagia." balas mama Livia tetap bersikeras.

__ADS_1


Rusell hanya menggeleng melihat pada istrinya. sedari dulu mereka sudah lengket seperti lem. sangat sulit bagi Rusell untuk memisahkan mereka berdua. ia mengenang sudah berkali-kali rencana perjodohan Angel selalu gagal karna putrinya tak ingin terpisah dengan Livia.


"Mama tenang saja, papa kali ini tidak memaksa, namun..mereka harus saling mengenal lebih dahulu. dan kita akan melihat kalau mereka cocok, maka papa akan menikhkan mereka namun kalaupun tidak ya sudah."


"Janji ya pa..jangan memaksaku." ucap Angel dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja, kau putriku dan papa hanya akan melakukan yang terbaik untukkmu sayang."Rusell tersenyum tulus.


Angel hanya menganggukan kepala dengan patuh, sementara didalam hatinya sudah terjadi gemuruh. tidak, ia tidak akan pernah mau dijodohkan dengan siapapun, kalaupun nanti dia menikah..pria itu harus bersedia tinggal bersama orangtuanya. dia tidak mau di pisah dengan mama Livia. saat ini dia akan memikirkan cara untuk mengagalkan perjodohan itu.


"Jadi kapan kami akan menikah papa." ucap Rafael dengan tidak sabar.


"Mungkin bulan depan." ucap papa Rusell melemparkan senyum pada putra kesayangannya.


Sementara Elena hanya menggeleng dengan frustasi. memikirkan menikah di usia muda bukanlah hal yang ia inginkan.


Rusell menatap ke arah Elena yang seolah tenggelam dengan pikirannya sendiri.


"Apa kau keberatan dengan pernikahan kalian Elena." tatap Rusell dengan tajam.


"Sebenarnya aku hanya tidak terpikirkan untuk menikah muda."


"Ini demi kebaikan kalian berdua, papa tidak ingin kalian berdua sampai melakukan sesuatu di luar kendali kami..jadi menikahlah agar kami sebagai orangtua bisa lebih tenang."


Rafael dan Elena saling melemparkan pandangan. bagaimanapun apa yang dikatakan papa benar, mereka telah melakukannya. dan bagaimana jika dia sampai hamil dan keluarga mereka berdua tau. Elena tak bisa membayangkan itu semua.


Rusell mengangguk puas... dan tersenyum, lalu ia menatap Livia yang masih memeluk Angel.


"Sayang, apa kau tidak merindukan aku." tatap Rusell menaikan alisnya.


Livia hanya mampu memejamkan matanya dengan malu. ia bisa melihat Rafael dan Elena yang hanya tersipu ke arahnya.


"Apa papa mau makan sekarang saja, mama akan meminta pelayan untuk...."


"Papa masih lelah Mah, ayo kita kekamar." ucap Rusell dengan sikap tegas. lalu bangkit lebih dahulu meninggalkan ruang keluarga dan naik ke kamar.


Angel melirik kesal pada papanya...


"Angel, istirahat dulu ya..mama temani papa dulu."


Angel hanya mengangguk dengan ekspresi cemberut melepas Livia dengan enggan.


"Makanya kak, carilah kekasih...." ucap Rafael menggoda seraya meraih Elena bersamanya menuju ke taman.

__ADS_1


"Liat saja, aku akan mendapatkannya." lirik Angell jengkel.


>>>>***<<<<


Angell mengeliat di dalam tidurnya ketika deringan suara ponsel mengejutkan dirinya. diraihnya ponsel yang ada di atas meja disamping ranjang dengan kesal. siapa yang menelfonnya sepagi ini.....


Angel


Hallo, siapa ini.


Wili


Kau harus ada dihadapanku dalam waktu 30 menit, atau kau akan melihat surat panggilan di rumahmu pagi ini juga.


Angel melebarkan matanya menyadari siapa yang menelfonnya. Wili.?


Angell


Baiklah..aku kesana sekarang.


Gadis itu langsung mematikan ponselnya dan segera turun dari ranjangnya untuk membersihkan dirinya.


Tak lama kemudian iapun menuruni tangga dengan rambut panjang yang masih basah. menghampiri meja makan dan menyambar roti lapis buatan sang mama, Angell tampak sangat terburu-buru meminum segelas susu.


"Mengapa kakak pagi sekali." tatap Rafael tidak mengedipkan matanya sedikitpun, yang benar saja ini baru jam 6 dan kakaknya sangat dikejar waktu.


Rusell, Rafael dan Elena juga menatapnya dengan heran...


"Aku mulai bekerja hari ini, sudah ya aku duluan."


Angell mencium pipi Papa Rusell dan sang mama lalu melangkah dengan terburu-buru.


"Memang dia bekerja dimana mah.." tanya papa Rusell dengan penasaran.


"Papa akan terkejut jika tau."


"Apa maksud mama."


"Group W....dia bekerja disana." Livia menaikan kedua alisnya. diikuti senyum pengertian Rusell.


.................**..................


Angel memarkirkan mobilnya di parkiran perusahaan lalu mulai merapikan rambutnya. serta menghabiskan rotinya dengan santai. dasar pria tua yang gila kerja bahkan sepagi sudah banyak karyawan yang masuk ke dalam gedung. Angell hanya menggeleng kesal. ini baru hari pertama dan rasanya sangat menyebalkan.

__ADS_1


Meraih kelender kecil yang telah ia persiapklan, Angel mulai menandai tanggal. dan menarik nafas.


"Masih lama sekali." matanya terpejam dengan jengkel.


__ADS_2