
"Jika kau menghianatiku sekali saja dan mencoba melarikan diri dariku..maka kau harus siap melayaniku sebagai suamimu."
Rusell melepaskan cengkramannya hingga Livia terbatuk-batuk. masih menatap Livia yang kesakitan.
"Jangan perlihatkan wajah kesakitanmu saat hari pernikahan kita besok, atau aku akan melupakan janjiku."
Rusell meninggalkan Livia yang tersungkur dengan tangisan yang menggema memenuhi kamar.
❤
Livia berdiri bagai patung ketika baju pengantinnya melekat begitu pas ditubuhya. gaun tanpa lengan berwarna putih bersih yang ia rancang sendiri, dilengkapi kalung bertaburan berlian menyilaukan di leher jenjangnya yang sangat putih. wajahnya sudha dirias dengan tipis sesuai permintaannya. Livia tidak suka memakai makeup yang tebal seperti sedang memakai topeng,sang perias pengantin juga setuju, tanpa makeup yang berlebihan juga Livia sudah sangat cantik. pria gemulai itu menambahkan mahkota kecil dikepalanya untuk mempermanis penampilannya. ia tersenyum puas melihat hasil kerja keras tangannya hari ini. seperti seorang putri Livia sangat cantik. walau wajahnya datar tanpa senyuman sedikitpun.
"Sayang, aku mohon tersenyumlah." ucap pria itu membujuk.
"Apa aku harus."? ucap Livia tidak perduli."
Pria itu memejamkan matanya mencoba bersabar.
"Jika kau tidak memperlihatkan bahwa kau terlihat bahagia dan cantik, kau tau kan tuan Rusell akan marah."
Livia tertawa kesal bahkan pria ini juga menjadi kaki tangan Rusell.
"Kau dibayar berapa untuk menakutiku, aku tidak menyangka ada banyak mata-mata disekitarku." tatap Livia kecewa.
"Aku tidak kekurangan uang nona Livia, tapi kata-kata yang tepat adalah aku sayang nyawaku."
"Hah."
"Yah...jika tuan Rusell datang dan melihat kau masih memasang wajah seperti ini maka bukan kau yang akan mendapat hukumannya. bahkan kami yang tidak tau apapun akan terkena masalah besar, menyadari sikap tuan Rusell kau bisa membayangkan, hukuman apa yang kami akan terima." tatap pria itu dengan suara yang bergetar. sambil merapikan bekas alat makeupnya.
Livia tak mampu membalas kata-katanya., dengan pria seperti apakah yang akan ia nikahi. ia memalingkan wajahnya dan mengangguk. tentu saja ia tidak ingin melibatkan semua orang dalam kemaran Rusell. mereka tidak bersalah.
"Maafkan aku."ucap Livia sungguh-sungguh.
"Aku juga minta maaf nona jika perkataanku sedikit kasar. aku hanya sayang dengan keluargaku."
"Aku mengerti, aku juga punya keluarga jadi aku tau apa yang kau rasakan."
Livia menggenggam jemari pria itu dan meremasnya dengan sedikit kuat.
"Bisakah kau memperbaiki riasanku, aku menangis tadi." Livia meraih tissue dan melap wajahnya."
"Tentu saja nona, kita masih punya banyak waktu." pria itu tersenyum dan segera melanjutkan tugasnya.
❤
"Dengan ini saya menyatakan kalian adalah suami istri yang sah dimata Tuhan dan Negara." ucap sang pendeta tersenyum bijak.
__ADS_1
Janji pernikahan itu akhirnya mengalir mulus dari mulut Rusell dihadapan Tuhan dan pendeta ia sudah sah menjadi suami dari Livia Morens. Rusell tidak berhenti memberi senyuman kemenangan pada tamu yang hadir.
Tepuk tangan dari para teman dan sahabat termasuk orangtua Livia semakin menambah sumringah di wajah Rusell saat ini.
"Saatnya berciuman." ucap Mc yang menatap dengan easa bahagia ia tidak berhenti memamerkan senyumnya. tentu saja dia dibayar mahal untuk itu.
Livia dan Rusell berdiri saling berhadapan dengan tajam. gadis itu marasa gugup. mengapa harus ada ciuman. mengapa Rusell memanfaatkan situasi.
Pria itu menatap Livia dengan tajam mendekati gadis itu yang begitu enggan disentuh olehnya, namun tidak ada yang boleh menolak dirinya. diraihnya punggung Livia mendekat, menikmati wajah Livia yang sangat tersiksa. sementara semua yang ada diruangan itu tampak bertepuk tangan memberi semangat pada Rusell.
"Kau benar benar licik." desis Livia ketika wajah mereka semakin dekat.
"Kau akan merasakan ciuman yang indah hanya dariku suamimu Livia, dengan begitu sebagian tubuh kita sudah bersatu."
"Aku membencimu."
"Lakukanlah, bencilah aku sampai kau puas."
Rusell meraih wajah Livia mendekat padanya dengan kedua tangan yang menahan kepala istrinya. Rusell melu*** bibir Livia dengan hangat dan begitu panas.
Gadis itu mengerang namun tak bisa mengelak. hatinya sakit sekali menyadari ia telah menghianati Roni. menyadari jika mulai saat ini hubungannya terputus dari kekasih yang dicintainya.
"Maafkan aku Roni."
❤
Tak berhenti ia memperkenalkan istrinya dengan penuh kebanggaan kepada rekan bisnisnya. sementara dari jauh orangtua Livia ikut tersenyum melihat menantunya selalu bersikap mesra kepada Livia.
"Rusell begitu mencintai Livia pah."
"Yah..itu sangat terlihat dimatanya, dari awal petemuan kita dari cara menatap putri kita ia sangat tergila-gila."
"Tentu saja Livia sudah memberinya anak yang sangat lucu dan cantik."
"Semoga mereka bahagia ya mah."
"Semoga mereka bisa cepat memberikan kita satu cucu lagi."
Kedua orangtua itu tertawa, dengan pikiran mereka sendiri.
💔
Livia menatap ponselnya dengan ragu, Rusell sedang menemani tamu-tamunya dan Livia meminta masuk ke kamar lebih dahulu. ia menatap sedikit takut jika Rusell menangkap basah dirinya sedang berbicara di telp dengan Roni. pria itu akan sangat marah. namun..ia harus bicara dengan Roni paling tidak meminta maaf kepada pria yang sudah menemaninya begitu lama.
Livia menghampiri balkon dan menekan nama Roni yang sudah tersedia di dalam ponsel itu.
Livia menempelkan Ponsel itu di telinganya. dengan sangat gugup dan sedikit gemetar.
__ADS_1
Roni: Halo...
Livia:..........(menangis.)
Roni: siapa kau..?
Livia:........
Roni: Livia....?
Livia: maafkan aku Roni, (suara Livia terdengar serak)
Roni: Sayang, kau kah itu..kau Liviaku.? (bersemangat)
Livia: apa kabarmu Roni, apa kau baik-baik saja..apa yang sedang kau lakukan sekarang.( terisak)
Roni: aku sangat merindukanmu Livia, aku hancur karna kau meninggalkan aku.
Livia: maafkan aku semua ini kesalahanku Roni, jika saja aku......
Kata-kata itu terputus ketika, ponsel yang dipegangnya dirampas dengan kuat. Livia melebarkan matanya melihat Rusell berdiri dengan tatapan membunuh kepadanya.
masih dengan amarah yang seakan membakarnya, Rusell berbicara di telp.
Rusell: Apa kau mantan kekasihnya, aku adalah suami Livia Morens dan kau..beraninya kau menganggu istriku dimalam pernikahan kami, aku akan menghancurkanmu dengan segera.
Pria itu menutup telp dan menatap Livia yang berdiri dengan ketakutan.
Rusell langsung menghancurkan ponsel itu juga dihadapan Livia. gadis itu menjerit histeris.
"Apa yang kau lakukan Rusell."
"Kau bertanya kepadaku, beraninya kau meremehkan semua peringatanku Livia."
Rusell mendekat seraya melonggarkan dasinya matanya membara menatap Livia yang sudah berani menghianatinya dimalam pernikahan mereka. karna itu tidak ada maaf bagi Livia selain ia harus menjadi miliknya malam ini.
"Bukankah aku pernah memperingatkanmu untuk tidak menghianatiku."? ucap Rusell dengan sangat dingin.
"Ruu..sel.. maafkan aku, taaapi jangan, aku mohon..aku tidak siap."
Livia bergerak mundur dengan begitu panik, sementara tidak ada siapapun disini, tak ada yang akan berani mengusik mereka karna ini malam pertama mereka. bahkan orangtuanya tidak akan bisa menolongnya. airmata Livia menetes dengan kepanikan yang melandanya.
"Rusell, aku mohon..jangan." jeritnya ketika pria itu meraih kedua lengannya hingga tubuh mereka bersatu didalam pelukan.
Rusell tersenyum kejam...
"Kau harus menjadi milikku sekarang Livia Morens."
__ADS_1