Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Dendam


__ADS_3

Tak butuh waktu lama Rusell sampai didepan kamar Livia dan terkejut melihat semua dokter menatapnya dalam diam.


"Ada apa, kalian semua mengapa diluar ruangan." jantung Rusell dipacu dengan kencang."


"Tuan Rusell, kami akan menyampaikan kabar bahwa nyonya Livia......"



Seorang dokter mendekati Rusell dengan senyuman. dan menyentuh bahu Rusell yang rapuh seraya memberi kekuatan.


"Tuan...istri anda selamat."


"Hah." Rusell merasa seperti mimpi menjadi nyata pria itu tak mampu bicara apapun untuk sesaat. kalau bisa digambarkan perasaannya lebih dari bahagia. Livia akan hidup dan tidak akan pergi darinya. Rusell hanya terseyum.


"Apa dia sudah sadar."


"Yah tuan Rusell, istri tuan sudah sadar..namun masih sangat lemah biarkan dia istirahat selama beberapa jam."


Rusell mengangguk dengan senyuman...


"Kalian sudah bekerja keras dan...aku akan memberi bonus." terimakasih.


Semua dokter dan petugas lain tersenyum lebar membayangkan hadiah yang akan diterima mereka.


"Terimakasih tuan Rusel." ucap salah seorang dokter menunduk hormat.


"Yah.....Rusell tersenyum tulus. hatinya lega luar biasa menyadari Livia akan hidup.



Livia membuka mata dengan lemah. rasa pusing dan mual langsung menghantamnya dengan kuat untuk sesaat ia kehilangan orientasi karna terbangun dari tidurnya yang lama.


Pintu terbuka tampak seorang perawat berseragam putih masuk untuk melihatnya. keduanya bertatapan dan gadis itu tersenyum mendekati Livia.


"Nyonya, bagaimana keadaan anda, apa masih pusing."?


Livia hanya mengangguk lemah....


"Baiklah saya akan menyuntikan obat sekarang."

__ADS_1


Livia hanya memejamkan mata ketika nyeri ketika obat itu disuntikan kedalam tubuhnya melalui selang infus.


setelah selesai perawat itu keluar ruangan meninggalkan Livia seorang diri.


Airmata menggenangi mata Livia, ketika ingatan itu mulai satu persatu hadir dan menghancurkannya. bagaimana Meri meregang nyawa dihadapannya, lalu Rusell memaksakan kehendaknya dan menyiksanya dalam percintaan yang menyakitkan. sungguh Livia sudah tidak tahan lagi, hatinya lelah untuk kembali mencintai Rusell.semua tidak akan lagi sama. cintanya terkikis habis tak bersisa dan hanya menyisakan dendam yang membara dihatinya.


Pintu terbuka Rusell muncul disana dengan wajah sendunya karna kurang tidur. ia harus bersabar selama dua hari sebelum bisa menemui Livia, ia harus memastikan kondisi Livia siap dan tidak merasa tertekan.


"Livia..bagaimana keadaanmu." ucap Rusel, meraih kursi dan duduk disamping ranjang."


"Apa kau kecewa."


"Mengapa aku harus kecewa."?


"Karna aku gagal kau bunuh."


"Livia apa maksudmu."


Airmata Livia menetes menatap Rusel dengan wajah yang pilu.


"Aku sadar...bahwa kau tidak sanggup membunuhku secara langsung seperti yang kau lakukan pada Meri..tapi kau sengaja melakukan metode pembunuhan secara halus namun mampu membuatku tersiksa dan hampir mati."


"Cukup, kau tidak perlu menjelaskan semuanya kepadaku..aku sangat mengerti bahwa orang sepertimu bahkan mampu membunuh tanpa menyentuh..kau...sengaja melukaiku sedalam itu agar aku bisa mati perlahan dengan penuh siksaan."


Rusell mengepalkan tangannya tidak menyangka Livia menuduhnya sekejam ini. memang ia akui kalau malam itu dia sangat marah dan juga cemburu yang begitu menguasainya. Rusell sangat menyesal sekarang setelah menyadari semua luka yang masih membekas pada wajah dan mungkin hampir seluruh tubuhnya menjadikan Rusell merasa seperti lelaki kejam.


"Livia aku sungguh-sungguh minta maaf soal malam itu dan aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah sengaja melukaimu sedalam ini."


"Cukup....bisakah kau tinggalkan aku sendiri."?


"Aku mohon Livia..jangan seperti ini." suara Rusell merendah dengan pelan.


"Aku benci kau Rusell, dan tidak akan pernah lagi..,memberimu maaf." ucap Livia menggertakan giginya begitu marah.


"Livia, aku suamimu."


"Apa kau menganggapku istrimu saat kau melakukan penyiksaaan itu kepadaku Rusell, Livia menggeleng disela airmatanya yang menggenang tidak, kau bakan mengingatkanku bahwa aku lebjh rendah darj seorang pelac**." jerit Livia begitu terguncang.


Rusell bangkit dari duduknya dan meraih Livia untuk memeluknya dengan erat seraya meminta maaf, walau mungkin maaf saja tidak akan cukup. Rusell mampu menanggung hukuman apapun asal jangan kemarahn Livia, dia sudah terlanjur mencintai istrinya walau mungkin semua sudah terlambat. Livia terlanjur tersakiti olehnya. mata pria itu basah dan hanya menyesali dengan sungguh-sungguh. meski Livia mencoba meronta dipelukannya namun Rusell tak bergeming. pria itu semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Livia sayang, aku mohon maafkan aku."


"Lepaskan aku Rusell lepas." Livia mencoba meronta dan merasa jijik berada dipelukan Rusell.


"Kau tidak perlu memaafkanku sekarang Livia, bagiku kau selamat saja itu sangat berarti untukku."


Pelukan itu terlepas...jemari Rusell bergerak menyentuh wajah Livia yang masih terlihat tanda kebiruan. hatinya merasa nyeri, seharusnya ia melindungi Livia dan mencintainya, namun kini dia ragu apakah dia pantas untuk dicintai dan mencintai.?


"Kau pria kejam, menjijikan dan kau seorang pembunuh sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan hatiku lagi kepadamu Rusell Winss." jerit Livia


"Yah..semua yang kau katakan itu benar Livia,


akulah pria itu,akulah pria yang tidak pernah memiliki belas kasih, aku...pria yang bahkan mampu membunuh banyak orang tanpa berpikir. akulah pria kejam itu Livia aku tidak akan menutupinya."


"Ceraikan aku, maka aku akan memaafkannmu."


"Bagiku kau adalah separuh nyawaku Livia, maaf tapi aku tidak bisa memenuhi keinginanmu itu."


"Mengapa....apa kau belum puas menyikasaku yah."?


"Aku mencintaimu Livia Morenss."


"Apa."?


"Yah..aku mencintaimu dan aku..tidak bisa melepasmu, kau harus menunggu aku mati baru kau bisa bebas dariku namun jika kau tidak sabar maka bunuhlah aku, maka aku akan dengan senang hati mati ditanganmu, ucap Rusell dengan dingin."


"Bajingan...dengarkan aku Rusell, aku..akan mencari cara agar bisa melepaskan diri darimu dan liat saja begitu waktunya tiba, aku juga tidak segan membunuhmu."


"Lakukanlah aku akan menunggu." Rusell tersenyum pasrah.


Livia melonggarkan tenggorokannya, mengapa Rusell mengalah apa dia sedang bersandiwara. Livia merasa jantungnya berdebar keras ketika Rusell mendekatinya dan menggenggam jemarinya pria itu terlihat rapuh.


"Sekarang istirahatlah sayang, kau butuh tenaga untuk merencanakan pembunuhan atasku bukan.? aku akan menunggu dengan sabar sampai waktunya tiba."


Livia hanya terdiam ketika Rusell menghapus jejak airmatanya, ketika pria itu mengucap maaf berkali-kali dan ketika pria itu meninggalkan ruangan. Livia merasa bisa bernafas lega.


Airmatanya kembali jatuh tidak terkendali, hatinya begitu sakit tidak terkira. apa yang dia katakan tidak sejalan dengan hati nuraninya. ia bahkan tidak sanggup menyakiti siapapun apalagi Rusell. dia hanya sangat membenci. dia sangat membenci hatinya yang masih saja memikirkan Rusell.


"Cinta...pergilah dari kehidupanku..aku tidak membutuhkanmu, menjauhlah dan jangan pernah datang kembali."

__ADS_1


Livia membaringkan kepalanya dibantal dan memejamkan matanya, mengusir jauh bayangan Rusell yang menyapanya.


__ADS_2