
Zefanya melompat seketika dari atas tempat tidurnya. sesungguhnya ia masih sangat mengantuk karna semalam ia pulang kerja larut malam. yah..memang di malam hari biasanya pengunjung ramai.
Zefanya masih sangat lelah namun suara alarm yang sengaja di pasangnya seolah tidak lelah membangunkannya. Zefanya sangat kesal dibuatnya namun ia harus bangun kalau tidak pria itu akan membunuhnya.
Jika kau datang terlambat maka bersiaplah....
Zefanya menggeleng enggan, mengingat perkataan Rafael kepadanya. sebaiknya dia segera kesana dan menyelesaikan urusan dengan Rafael.
Zefanya selesai bersiap menatap dirinya di cermin sekali lagi.memakai celana jeans dan sepatu kets, dan kaos putih dan rompi jeans yang pas di tubuhnya lalu Zefanya memakai tas selempang melengkapi penampilannya. lalu rambut panjangnya di ikat kuncir kuda.
"Zefanya..kau cukup cantik." pujinya pada diri sendiri. Zefanya segera keluar dari flat sederhananya. dan segera mencari taxi.
💓💓
Zefanya menatap sebuah gedung tinggi di hadapannya dengan tatapan tak percaya. apakah Rafael kerja disini. keren sekali.
Perusahaan LV Group....
Zefanya melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk gedung. matanya melebar tak percaya dengan pandangan matanya. gedung perusahan ini sangat mewah dan megah.
Seorang gadis cantik menghampirinya.
"Maaf anda mau bertemu siapa."? tatap gadis itu mengerutkan dahinya menyadari Zefanya terlihat gugup ketika melewati pintu masuk tadi.
"Maaf..aku mau bertemu dengan Rafael....maksudku adalah tuan Rafael Wins."
Mata gadis itu melebar, untuk apa gadis ini mencari CEO apa hubungan mereka. jika dilihat gadis ini adalah gadis muda biasa. namun memang cantik dan tampak segar di masa mudanya.
"Apa kau sudah buat janji."
"Sudah."
"Mana buktinya."
"Bagaimana kalau aku menelp saja..aku tidak punya bukti..tapi aku tidak berbohong jika memang kami sudah punya janji."
Wanita itu tertegun. jika Tuan Rafael tau dirinya yang menahan gadis ini maka ia tak tau apa yang akan terjadi kepadanya. lagi pula bukan urusannya.
"Aku akan menunjukan ruangan tuan Rafael mari ikut aku."
"Baiklah terimakasih." ucap Zefanya tersenyum sopan.
Iapun mengikuti gadis itu menuju lift khusus yang langsung menghubungkan dengan lift ruangan CEO. sepanjang perjalanan Zefanya hanya tak habis menatap dengan kagum. segala interior yang ada di sekitarnya dengan tatapan takjup.
Ting......
Pintu Lift terbuka dan wanita itu melangkah menuju meja sekertaris. sedangan Zefanya hanya berdiri dan menunggu.
__ADS_1
Setelah berbicara beberapa saat gadis itu membalikan tubuhnya.
"Silahkan masuk saja kau sudah di tunggu tuan Rafael."
"Baiklah terimakasih." ucap Zefanya menundukan kepalanya.
Ceklek.........................
Pintu terbuka dan Zefanya masuk kedalam ruangan yang ditunjukan wanita tadi dan Zefanya membeku ketika melihat Rafael duduk disana di sebuah kursi yang mewah dengan meja kerja yang luas. dan lebih membuat Zefanya terkejut adalah tulisan di meja kerja Rafael.
"CEO Rafael Wins." ejanya dengan suara yang tertelan di tenggorokannya. wajah Zefanya menjadi pucat di genggamnya tas selempangnya dengan gemetar.
"Kau terlambat hampir 30 menit." ucap Rafael bangkit dari tempat duduknya dengan membetulkan letak dasinya. ia sangat tampan dan di balut setelan jas tiga potong yang sangat pas di tubuhnya. Zefanya terpesona yah..wajar ia terpesona Rafael adalah pria yang sempurna. namun bukan berarti ia suka. Zefanya tidak berani pria ini ternyata sangat kaya raya dan pemilik perusahaan Zefanya merasa nyalinya menciut seketika.
"Aku...terlambat bangun tadi dan..." Zefanya serasa hampir berhenti bernafas ketika Rafael mendekatinya dan berdiri berhadapan dengannya.. jantungnya berdegup dengan kencang ketika Rafael memenjara matanya. pria itu mendekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
"Kau tau jika terlambat sedikit saja maka aku akan membawamu ke penjara." seringai tajam Rafael terlihat jelas di wajahnya.
"Aku sudah datang Rafael..kau sangat pendendam sekali." Zefanya menjauhkan tubuhnya dengan kegugupan yang kentara.
"Ruanganmu bagus sekali..kau ternyata pemilik perusahaan ini." ucap Zefanya berbasa-basi.
"Yah...kau tak tau kenyataan itu." ucap Rafael tajam.
"Tidak...kau CEO atau bukan...itu bukanlah urusanku." ucap Zefanya tersenyum canggung.
"Yah..baiklah."
Rafael lebih dahulu duduk di tamu di ikuti Zefanya yang duduk di hadapannya. Rafael mengakui Zefanya gadis yang cantik. tubuhnya...Rafael kehilangan kata-kata..sangat sempurna. dan Rafael akan memanfaatkannya dengan baik.
Rafael meletakan sebuah map berwarna merah darah di hadapan Zefanya.
Zefanya menatap searah mata Rafael.
"Mengapa harus surat perjanjian."
"Kau tidak punya pilihan Zefanya."
"Baiklah, kau kejam sekali."
"Ayo bacalah..dan aku akan memberikan kesempatan untuk menawar."
Zefanya membaca..tidak perlu lama karna hanya dua poin dalam surat perjanjian itu namhn mampu menjungkir balikan dunianya. airmata Zefanya menetes...jemarinya gemetar kuat.
"Apa maksudmu."
"Kau bisa membaca kan."? tatap Rafael dengan dingin.
__ADS_1
"Kau pikir aku gadis murahan."?
"Yah....aku tak perlu sampai dua kali menganalisa seseorang." ucap Rafael tanpa perasaan.
Zefanya berdiri lalu melemparkan map itu dengan sangat marah. ia merasa terhina dengan isi dari map itu.
sedangkan Rafael tampak sangat santai, hatinya sudah mengeras bahkan melihat airmata sekalipun. baginya hatinya telah membatu melihat kesedihan orang lain.
"Aku permisi tuan Rafael yang terhormat dan maaf aku tidak bisa menerima semua permintaan konyolmu dalam surat perjanjian itu."
Zefana melangkah hampir sampai di pintu ketika Rafael berdehem meminta perhatian Zedanya..
"Tunggu." ucapnya dengan nada tenang.
Zefanya membeku disana lalu menoleh dengan airmata yang menetes...menatap Rafael yang mendekat dengan mata membara.....
"Jika kau berani melangkah keluar dari pintu itu, maka Kau akan kupastikan kau membusuk selamanya di penjara dan adikkmu yang masih sekolah di asrama itu akan kulemparkan ke jalanan." Rafael menaikan alisnya dengan angkuh.
Tubuh Zefanya melemah seketika. Tari..adiknya yang berusia 12 tahun, ia masukan ke sekolah kejuruan di sebuah asrama. alasan Zefanya hidup hemat selama ini adalah karna ia harus membiayai sekolah Tari. bagaimana kalau dia dipenjara...apa yang terjadi pada adikknya. sementara mereka hanya yatim piatu. satu-satunya saudara jauhnya adalah Rosa. tapi tak mungkin meminta tolong padanya. mereka tidak akan menolong. Zefanya menundukan wajahnya. airmatanya menetes jatuh di lantai ruangan seolah ikut pasrah dengan keadaannya.
"Cepat jawab sekarang." bentak Rafael dengan keras.
"Rafael..bagaimana bisa kau melakukan itu kepadaku."
"Kau tau mengapa."? Rafael setengah memeluk tubuh Zefanya dan menatapnya tajam.
"Kau mencoba membunuhku dan kau...harus menanggung hukumanmu seumur hidup...tak ada yang bisa lolos dari seorang Rafael."
"Tapi aku bukan seorang pelac**." jerit Zefanya histeris.
"Kau memang berbeda..kau hanya cukup melayaniku di tempat tidur dan segala kebutuhanmu aku penuhi..bukankah aku terlalu baik."?
Zefanya menggeleng dengan penuh tangis......
"Sekarang cepat tanda tangan atau kau...akan merasakan kemarahanku saat ini juga." ancam Rafael tegas.
"Baiklah Rafael..aku akan tanda tangan tapi jangan menyentuh adikku." pintanya memohon.
"Semua tergantung dirimu Zefanya."
Zefanya memejamkan matanya..hidupnya akan berakhir sebentar lagi.......
gadis itu meraih pulpen yang diberikan Rafael dan dengan gemetar ia menanda tanganinya.
senyum Rafael mengembang di sudut bibirnya.
Diraihnya Zefanya dan menatapnya.....
__ADS_1
"Kau adalah milikku sekarang." senyumnya dengan puas.