
"Siapa kau."?
Gadis itu membeku dan menoleh dengan gemetar. mereka bertatapan sesaat masing-masing menilai. Rafael tersenyum apakah ini kejutan yang dimaksud oleh Toni.
"Aku adalah...."
Tuan, aku telah mengirim seorang gadis yang akan menemani tuan malam ini dan dia akan sampai beberapa saat lagi. isi pesan dari Toni sesaat setelah ia sampai dihotel.
Rafael tersenyum, ia mengakui kali ini Toni memilih gadis yang sangat cantik kepadanya. dan sepertinya gadis ini sangat polos, itu sangat terlihat dari tatapan matanya. Rafael tertarik padanya pada pandangan pertama.
"Mengapa kau sangat ketakutan." ucap Rafael menyeringai dengan tajam.
"Akku...baru saja sampaii di bandara dan seseorang menculikku dia..dia..ingin..."
Kata-kata gadis itu terputus ketika, Rafael meraihnya dengan kuat dengan tatapan mata membara, gadis itu meronta namun sia-sia, pria itu terlalu kuat dengan keinginan yang terlihat begitu kentara di matanya.
"Diculik, skenario yang bagus."
"Lepaskan aku."
"Tidak, mengapa aku harus melepaskanmu sedangkan kita bahkan belum memulai semuanya."
Gadis itu semakin ketakutan ia menggeleng, apakah lelaki ini sengaja ingin menggodanya. ia baru saja lepas dari penculikan dan mengapa kini ia malah terjebak dengan lelaki asing yang bahkan terlalu tampan untuk menjadi seorang penjahat.
"Memulai apa..aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu." wajah gadis itu mulai pucat.
"Toni benar-benar pintar memilih gadis yang polos, dan aku menyukai sesuatu yang polos." lirik Rafael mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.
"Kau tau siapa aku..jika aku melaporkan pada Om ku maka kau akan...."
"Bahkan jika melapor pada ayahmu juga aku tidak takut."
__ADS_1
"Astga...lepaskan aku...jangan coba-coba berbuat macam-macam padaku atau aku tidak akan mengampunimu." ancamnya dengan suara yang bergetar. bahkan suara gadis ini terdengar terlalu lembut untuk marah.
Rafael semakin tertarik...
"Om ku..dia punya seorang anak lelaki yang kuat,aku...juga akan melaporkan perbuatanmu kepadanya." ucap gadis itu mencoba segala cara untuk menakuti pria dihadapannya yang sepertinya tidak takut apapun.
"Siapa namamu."
"Tidak perlu tau." ucapnya memalingkan wajahnya dengan angkuh.
"Baiklah...bukankah aku tidak perlu tau namamu yang aku perlukan kehangatanmu."
Mata Rafael bersinar tajam sesaat saja ia mendorong tubuh gadis itu hingga ia terjatuh ke ranjang dan segera menaikinya, setelah gadis itu mencoba untuk bangun. tak perduli tangisan gadis yang terlihat lebih muda darinya itu menggema, toh..ia sudah biasa mendengar tangisan bahkan yang lebih dari ini. Rafael Wins adalah sosok pria tampan yang menyimpan rahasia besar dalam jiwanya. Rafael mempunyai hasrat lebih pada hubungan percintaan dan mempunyai obsesi untuk menekan dan menaklukan pasangan di tempat tidur, dan tak pernah merasa puas jika pasangannya belum benar-benar kelelahan. Rafael bergerak naik ke tubuh gadis tanpa nama itu mendekap dan menciumnya dengan penuh hasrat yang terbakar ketika kulit mereka bersentuhan. bagaikan singa lapar Rafael tidak menyia-nyiakan makanan yang tampak lezat dimatanya, lagipula dia membayar mahal untuk ini.
Gadis itu semakin panik mencoba meronta, menendang, memukul dan mencakar segala upaya ia kerahkan untuk melindungi diri dari pria yang tidak dikenalnya. bahkan ketika semua pakaiannya terlepas dari tubuhnya dia masih mencoba memepertahankan dirinya. tidak, bagaimana ini..bahkan belum genap sehari ia berada di kota ini namun malah akan kehilangan kesuciannya.
"Lepaskan aku...aku mohon, ini pertama kalinya bagiku aku sangat takut." jeritnya di sela-sela cumbuan pria yang tampak tidak perduli ratapannya sedikitpun.
"Mau membohongiku lagi hm..bahwa kau seorang perawan..kalaupun ya, aku akan membayarmu dengan sangat mahal."
"Diam, kalau kau mencoba meronta lagi maka aku akan memasukimu secara kasar dan percayalah itu sangat menyakitkan." ancam Rafael menggertakan giginya hingga gadis itu menutup mulutnya ketakutan. ia sungguh gemetar menghadapi pria yang jauh lebih tinggi darinya dan terlihat menakutkan.
Airmatanya menetes mewakili hatinya yang hancur kali ini.
ketika pria ini menuntaskan segala hasratnya dan meninggalkan jejak mengerikan di tubuhnya. gadis itu tetap diam dan berharap semuanya cepat selesai agar ia bisa pergi dari kamar ini.
>>>>>>>>><<<<<<<<<<<
Elena Rive menatap waspada pada pria yang telah tertidur disampingnya. setelah ia membersihkan dirinya Elena meraih tasnya, sedari tadi ia tidak tidur sedikitpun dan menanti waktu yang tepat agar pergi dari tempat terkutuk ini.
Elena menutup wajahnya dengan tangan tanda ia begitu merasa sakit dan hancur. bagaimana bisa ia telah kehilangan apa yang berharga didalam hidupnya. bagaimana bisa ia melalui hal menakutkan seperti ini. Elena melangkah walau setiap kali ia melangkah kesakitan itu seakan membunuhnya. airmatanya menetes lagi ketika menutup pintu kamar dengan cepat. sebelum pria itu bangun dan mencarinya, Elena akan pergi dan semoga mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
__ADS_1
.......................................................................
Rafael bangun dengan terpaksa karna mendengar bunyi ponsel yang tidak menyerah untuk berdering. dengan malas pria itu mengangkatnya walau dengan mata yang masih tertutup karna kelelahan dan kepuasan yang tidak terkira ia rasakan semalam. gadis itu sangat indah, dan Rafael memutuskan akan menyimpannya untuk dirinya sendiri mungkin seperti simpanan, ia akan memberi segala yang wanita itu mau. lagipula dia masih perawan. Rafael tersenyum dan segera menjawab telp. dari Toni.
Toni
Tuan, aku mohon maafkan aku tentang semalam, gadis itu....
Rafael
Kau sangat pintar memilih gadis untukku Toni, aku sangat menikmatinya..berikan dia bonus karna dia bisa memuaskan aku hanya dia, dan aku tidak butuh wanita manapun lagi.
Toni
Maafkan aku tuan, tapi maksud tuan gadis yang mana. aku menelfon tuan untuk meminta maaf karna gadis itu sedang ada pelanggan jadi dia tidak bisa menemani tuan Rafael.
Rafael membeku..apa maksud Toni jadi gadis semalam bukanlah gadis yang dipesan Roni untukknya.? Rafael bangkit dari ranjang dan matanya mencari-cari dengan gusar.
Gadis itu pergi.....
Rafael memijit pelipisnya yang terasa sakit. lalu menyudahi panggilan telpnya. ia baru saja meraih selimut, matanya terpaku pada bekas noda darah yang seolah menuduhnya. gadis itu masih perawan dan..saat ini menghilang begitu saja. ada rasa nyeri dihatinya entah mengapa. Rafael merasa kehilangan, rintihan dan ekspresi gadis itu benar-benar membunuhnya dalam rasa penasaran sekaligus rasa bersalah yang besar.
Dimana ia harus mencarinya, dimana lagi...bahkan namanya saja Rafael tidak tau. pria itu menundukan kepala dengan searaya mengusap wajahnya dengan kasar. mengapa ia merindukan gadis itu....sial.
***^^***
Elena Rive menatap sebuah mansion megah dihadapannya dengan senyuman yang dipaksakan. bagaimana reaksi om dan tantenya jika tau apa yang terjadi kepadanya. bagaimana juga reaksi orangtuanya jika tau dia telah kehilangan kesucian akibat kelugan dan kepolosannya. ia dikirim kerumah ini agar menjadi menantu dirumah ini. namun bagaimana bisa pria itu akan menerimanya jika tau, calon istrinya tidak sesuci penampilannya. yah..orangtua Elena telah menjodohkannya dengan pria yang tinggal di mansion ini. karna orangtua mereka bersahabat. namun, bagaimana jika keluarga ini nanti mengetahui apa yang terjadi padanya. sejenak Elena merasa ragu.
Namun ketika ia hendak masuk kedalam taksi lagi, terdengar bunyi pintu rumah yang terbuka. seorang wanita cantik menatapnya dengan senyuman seperti seorang ibu.
"Kau Elena Rive." ucap Wanita setengah baya itu mengulurkan tangannya dengan ramah menyambut Elena agar mendekat.
__ADS_1
"Tante." balas Elena yang sudah mengenali wanita itu dari foto yang selalu disimpan ayah dan bundanya di ruang keluarga.
Elena mendekat dengan hati yang bergetar, apa yang harus dilakukannya sekarang....