
Livia meronta melepaskan dirinya. dari pegangan Rusell dan seketika itulah Livia melompat ke arah jurang yang dalam.
Rusel mengeraskan tatapannya kemudian menekan tombol dan seketika tubuh Livia jatuh membentur busa dibawahnya namun karna terlalu syok, Livia jatuh pingsan.
Rusell menatap dari atas balkon dengan tatapan tidak terbaca. lalu meninggalkan balkon. sepertinya rencananya akan berhasil. iapun tersenyum menang.
💙
Rusel terdiam mengamati dari dekat ketika dokter memeriksa keadaan Livia, matanya tidak sedikitpun beranjak dari wajah gadis yang masih pingsan di depannya. Rusell mengerang ia tak sabar lagi melihat Livia membuka mata, ia sedikit panik menyadari sudah beberapa jam Livia tak juga sadar. sejak kematian Mutia Rusell merasakan sedikit trauma jika mengalami kaeadaan yang nyaris sama.
"Dokter bagaimana dia." ucap Rusell tak tahan untuk bertanya bahkan disaat dokter belum selesai memeriksa Livia.
Pria paruh baya itu menatap Rusell penuh pengertian.sambil membetulkan kacamatanya ia menatap Rusell.
"Istri anda baik-baik saja tuan, hanya mengalami sedikit syok."
"Rusell hanya mengangguk ia merasa lega, yah,memangnya apa yang dipikirnya kepalanya Livia terjatuh pada kasur busa yang empuk. tidak akan terjadi apa-apa kepadanya.
"Biarkan dia istrihat, nanti istri tuan akan segera sadar."ucap dokter itu.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter."
"Saya telah meninggalkan obat dan vitamin untuk nyonya dan pastikan ia meminumnya."
Rusell kembali mengangguk dan membiarkan dokter itu dibawa keluar oleh pelayan.
Kini tinggal ia dan Livia dikamar ini. pria itu mendekati ranjang dan duduk didepan Livia yang masih belum sadar. pria itu tersenyum Livia tertidur seperti bayi yang cantik. wajah Rusell menggelap mengapa ia memuji Livia seperti pria yang sedang jatuh cinta. ini masih terlalu awal mengapa jantungnya berdegup kencang ketika mereka berdekatan.? mata Rusell kembali terarah pada Livia dengan heran. apa artinya.?
Bulu mata Livia bergerak-gerak kemudian terbuka dengan sempurna seketika panik melandanya karna ingatan terakhirnya ia terjatuh ke bawah jurang, gadis itu melompat seketika ia terlihat ketakutan. namun Livia begitu terkejut menyadari Rusell langsung memeluknya dengan erat seraya menenangkan. Livia tertegun ia tidak bisa menolak pelukan itu ia butuh..jantungnya berdebar kencang sehingga Livia mempererat pelukannya pada Rusell.
"Kau tidak apa-apa Livia, kau masih hidup."
"Kau akan segera pulih, tidak ada yang patah didalam tubuhmu."desis Rusell pelan.
Livia mengerutkan dahinya, bukankah ia jatuh karna Rusell. bisa-bisanya saat ini ia malah jatuh dalam pelukan pria kejaam ini. Livia menarik diri dari pelukan Rusell dan menatap tajam. ingatanya sudah terkumpul dengan sempurna.
"Kau..dasar mesum, kau pintar sekali mengambil keuntungan dariku aku peringatkan aku bukanlah gadis murahan."
"Astaga kau bahkan lupa berterimakasih karna pelukanku menenangkanmu." Rusell terkekeh.
__ADS_1
"Terimakasih, itu hanya ada didalam mimpimu tuan Rusell Wins." ucap Livia bersedekap.
Rusell mengangguk seiring senyumnya yang menghilang dari wajahnya yang tampan.i kembali mengarahkan tatapan penuh peringatan pada Livia.
"Ingat baik-baik, orangtuamu akan datang kemari minggu depan dan aku tidak ingin kau menghancurkan rencanaku Livia Morens."
"Aku sudah bilang aku tidak mau menikah denganmu, kalau hanya untuk menjaga Angel aku bersedia..tapi tidak untuk menjadi istrimu."
Rusell mengepalkan tangannya, ia naik ke ranjang dan mencengkram wajah Livia untuk tetap menatap matanya. tubuh besar Rusell melingkupi Livia dengan kuat. mata mereka saling mengunci bibir mereka sangat dekat saat ini jika salah satu dari mereka menggerakan tubuhnya ciuman itu pasti terjadi.
"Kau tidak dalam posisi menolak semua perintahku."
"Bagaimana jika aku menolak." ucap Livia menaikan alis dengan angkuh.
"Maka begitu orangtuamu sampai aku pastikan kau lebih dulu melihat aku melempar mereka ke jurang, setelah itu giliran tunanganmu Roni." Rusell tersenyum kejam.
"Kau..jahat sekali."
"Maka itu menurutlah..ikuti semua yang telah aku katakan padamu." Rusell menjauhkan tubuhnya dan masih menahan tatapannya.
__ADS_1