Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Rencana Melinda


__ADS_3

Melinda keluar ruang perawatan di rumah sakit dengan airmata penuh dendam.jemarinya mengepal dengan rasa sakit dan malu. liat saja dia akan menghancurkan Livia dengan kejam.


Melinda baru saja sampai di parkiran dan seseorang menghalangi jalannya. gadis itu menatap ke arah wanita dihadapannya yang tersenyum kepadanya dengan penuh perhitungan.


"Siapa kau." desis Melinda menaikan kedua alisnya.


"Aku Aleta, tuanku ingin menemuimu sekarang, apa kau punya waktu."?


"Tidak..aku tidak punya waktu sedikitpun." desis Melinda seraya membuka pintu mobil.


"Ini tentang Livia." ucap Aleta tersenyum misterius.


Melinda membalikan tubuhnya dengan tertarik.


"Baiklah..aku akan ikut denganmu." ucap Melinda dengan senyuman penuh rencana.


.......****........


Melinda memasuki sebuah cafe dengan tenang ada Aleta yang berjalan pelan didepannya. pintu ruangan terbuka dan seorang pria tampan sudah menunggunya dengan senyumnya. Melinda terpana ketika melihat wajah pria dihadapannya yang memiliki tubuh yang tinggi dan tegap juga dilengkapi bingkai wajah yang sempurna. pria ini memiliki wajah yang tidak kalah tampannya dengan kak Rusell.


Roni tersenyum menatap Melinda yang sedang terpana seperti orang bodoh di hadapannya. pria itu hanya melirik sinis.


"Selamat siang nona Melinda." ucap Roni sangat ramah, sambil mengulurkan tangannya.. Aleta yang melihat itu hanya mampu menelan rasa sedihnya, lagipula mereka tidak bisa dibandingkan.


"Kau tau namaku tuan, tapi aku tidak tau namamu..ini sangat tidak adil." bisik Melinda dengan senyuman protes.


"Baiklah aku minta maaf untuk itu, namaku Roni."


"Roni, kau tampan sekali." puji Melinda secara terbuka.


"Terimakasih nona Melinda kau juga sangat cantik." tatap Roni dengan mata berbinar.


"Slilahkan duduk nona Melinda."


Melinda duduk dengan hati-hati sambil menjaga imegnya. ia bersikap sangat sopan.


Mleinda melirik Aleta yang berdiri disamping Roni dengan tidak suka, gadis ini sangat cantik dengan wajah polosnya yang tanpa sapuan makeup yang tebal. kecantikan alaminya mengingatkan Melinda akan Livia dan membuatnya kesal.


"Siapa gadis ini tuan Roni."tatap Melinda menunjukan wajah tidak sukanya.


Roni melirik Aleta disebelahnya baru saja ia membuka mulutnya, ia mendengar suara Aleta.

__ADS_1


"Aku adalah asisten tuan Roni."


"Hah..cuma asisten, aku pikir kau kekasihnya tuan Roni..menyebalkan sekali, desisnya menyindir.. lalu untuk apa kau berdiri di antara kami..mengganggu saja." gerutu Melinda jengkel.


Aleta merasa sedikit nyeri di dadanya. lalu menunduk seketika.


"Maafkan aku nona, dan juga tuan..aku akan menunggu diluar." ucap Aleta dengan menundukan kepala lalu melangkah keluar dengan airmata tertahan. sedangkan Roni merasa sungguh kesal dengan sikap Melinda kalau saja ia tidak membutuhkan gadis ini Roni tidak akan bisa mentoleril sikap somobongnya. namun saat ini dia memilih diam.


"Oya, bagaimana kau tau namaku tuan Roni dan juga bagaimana kau bisa mengenal Livia." tanya Melinda dengan penasaran.


Roni tersenyum sambil menikmati kopi didepannya. lalu menyandarkan punggungnya di sofa. ia menatap Melinda dengan tajam.


"Kau sangat terkenal dikampusmu kau sangat cantik semua orang bisa mengenalmu dengan cepat, anggap saja aku adalah penggemarmu."lirik Roni meyakinkan.


"Aku memang terkenal dikampus, tapi bagaimana dengan Livia..bagaimana bisa kau mengenalnya." tatap Melinda dengan penasara


"Sebenarnya aku mengenal suaminya, semua orang didunia bisnis mengenalnya..aku tau dia punya istri yang sangat cantik dan, Rusell begitu mencintainya."


"Mencintai wanita sialan itu, tidak mungkin.. dia tidak cantik sedikitpun namun dia begitu sombong karna kakak bertekuk lutut kepadanya."


"Mengapa aku melihat kebencian dimatamu untuk Livia istri dari mantan kakak iparmu sendiri." tatap Roni mengeraskan rahangnya.


"Dia mulai mengatur dan mengendalikan kak Rusell hingga saat ini aku hidup bergantung padanya, dan aku benci padanya." ucap Melinda penuh emosi.


"Aku akan membunuhnya." ucap Melinda dengan sinar mata yang begitu nekat.


Roni mengepalkan jemarinya dibawah meja, emosinya memuncak mendengar gadis ini ingin melenyapkan wanita yang begitu dicintainya. ingin rasanya ia menghacurkan mulut gadis ini yang berani merencanakan hal keji pada Livia. Roni mencoba bersabar untuk lebih ingin tau rencana jahat Melinda.


"Benarkah..mengapa aku merasa kita punya satu tujuan yang sama."


"Kau ingin melenyapkan Livia juga sama sepertiku."


"Yah..dan aku akan membantumu." ucap Roni dengan yakin.


"Bagus..aku senang kau membantuku Roni."


Roni mengangguk dengan senyuman lembut...


"Kau mau tau mengapa aku tertarik ingin membantumu."


Melinda menggeleng dengan tatapan menggoda...

__ADS_1


Roni memajukan tubuhnya.....


"Karna kau sangat menarik, cantik dan juga seksi." bisik Roni dengan senyuman mematikan..


"Astaga kau sedang menggodaku yah.." Melinda melirik nakal.


"Apa kau keberatan jika aku menggodamu." bisik Roni mendekatkan wajahnya.


"Tidak sama sekali." sambung Melinda melirik Roni dengan tatapan nakal.


Aleta melihat dari jauh ketika tuan Roni mencumbu Melinda dengan begitu panas, hatinya sungguh teriris melihat kenyataan itu yang sangat menyakitinya. airmatanya menetes sambil memalingkan wajahnya karna tidak sanggup melihatnya lebih lama seraya menghapus airmatanya. mereka sungguh serasi ketika bersama. dan dia hanyalah seorang pelayan dimata tuan Roni..selamanya akan menjadi seorang pelayan. batin Aleta pasrah.


>>>>>>**<<<<<<<<


Besok Livia sudah boleh pulang dan ia terlihat sangat senang.sementara Rusell sedang di kamar mandi. Livia menunggu suaminya dengan sabar karna ingin membicarakan sesuatu yang mengganjal dihatinya.


Rusell keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan cerah ia mendekati Livia yang tampak merenung didekat jendela. sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk Rusell mendekati Livia dan menyentuh wajahnya.


"Ada apa sayang, mengapa kau murung..apakah ada sesuatu yang mengganggumu."? tatap Rusel.


"Rusell aku ingin bicara." tatap Livia serius.


Rusell menghela nafasnya setiap kali Livia ingin bicara serius entah mengapa hatinya menjadi gelisah dan penuh tanya. diantara mereka sudah tidak ada masalah jadi Rusell tak perlu cemas, namun apakah ini tentang ketidak sukaan Livia dengan Melinda.?


"Rusell, mengapa kau melamun..aku bilang aku ingin bicara denganmu." tatap Livia menyentuh jemari Rusell sekaligus merebut perhatian suaminya hingga Rusell menatapnya.


"Ada apa." ucap Rusell mencoba tenang.


"Aku ingin kita tinggal dikota ini saja, aku..tidak inginn pulang kembali ke rumah itu." tatap Livia enggan.


"Mengapa.."


"Dirumah itu mengingatkanku atas penembakan itu dan aku sangat trauma Rusell."


Pria itu terdiam...


"Aku ingin hidup normal sebagai istri dan ibu yang baik untuk kedua anakku, aku ingin Angel dan juga adikknya bisa hidup dengan baik, punya teman dan dekat dengan tempat tinggal adikkmu Marsya.. aku juga bisa dekat dengan orangtuaku." ucap Livia panjang lebar..


Namun lagi-lagi Rusell hanya terdiam seolah sangat berat meninggalkan rumah itu. yah...sudah lama ia menyepi membawa Angel jauh dari hidup normal setelah kematian Mutia. lalu apakah dia sudah siap untuk kembali. bagaimana jika Roni akan kembali mendekati Livia..


"Sayang..apakah kau setuju."? tanya Livia antusias.

__ADS_1


Rusell menghela nafasnya dengan berat..


"Aku..."


__ADS_2