
Angel melangkah mendekati ruangan keluarga denfgan tubuh yang bergetar menahan rasa segan, takut, sedih..semuanya bercampur didadanya....
Membuka pintu kamar ruang keluarga langkah Angell terhenti di hadapan papa dan mamanya.
"Papa...."
Rusel membalikan tubuhnya mendekati Angell lalu sesaat kemudian,
"Paaaaccccccckkkkkk"..............
Angel merasa seperti mimpi ketika pipinya ditampar dengan keras hingga ia terjatuh ke lantai membentur sudut meja. rasanya teramat sakit hingga percikan darah mengenai lantai. Angel mengepalkan tangannya. rasa sakit itu berasal dari hatinya..bagaimana bisa papa menampar anakknya sendiri hanya karna ia menolak perjodohan itu. airmata Angel menetes dari wajahnya, memegang dengan gemetar pipinya yang terasa panas.
Livia menjerit histeris melihat Rusell berani menampar putrinya Angel...
"Apa yang kau lakukan...mengapa kau menampar anak kita." jerit Livia dengan keras.
Rusell menatap tajam ke arah Livia...
"Ini karna kau terlalu memanjakannya sehingga ia menjadi liar dan tidak terkendali..kau tau..orangtua Oskar adalah pembisnis yang disegani, aku hanya ingin melihat Angel menikah dan hidup bahagia...dengan keluarga yang sederajat dengan kita dan apakah kau melihat wajah kecewa Rafael...betapa dia mengharapkan perjodohan ini berhasill agar dia bisa menikah dengan Elena."
Angel bangkit dengan susah payah setelah dibantu mama Livia.
"Mengapa papa memaksaku..apa papa pernah memikirkan perasaanku, kau hanya memikirkan tentang kebahagiaan Rafael dan aku....kau bahkan tidak menyukaiku." jerit Angell dengan keras kali ini Rusell dan Livia terkejut.
"Angell..apa katamu." ucap Rusell semakin kesal.
"Papa selalu bersikap seenaknya dan aku muak pa...aku tidak ingin kau mengaturku lagi...aku..sangat membencimu." ucap Angell dengan tatapan mata menyala-nyala
Ini pertama kalinya Livia mendengar Angell bersuara keras didepan orangtuanya....
LIvia menatap tajam pada Angell yang menatapnya dengan airmata yang mengalir....Livia sungguh terluka dengan apa yang ia dengar, Angell seolah menembunyikan api dalam sekam didalam dirinya..dan saat inilah dia terbakar. betapa Livia telah mencurahkan segalanya dan berharap Angel akan menjadi gadis yang lembut sepertinya dan bukan gadis sombong dan pemarah yang ditampilkannya saat ini. memang, papanya salah memaksakan kehendak, tapi sebagai anak Livia merasa Angel keterlaluan dengan mengatakan hal seperti itu pada papa kandungnya sendiri. apakah dia telah gagal menjadi seorang ibu. mata Livia berkacaca-kaca sesaat.
"Apa maksudmu..Angell."? desah Livia dengan suara bergetar.
Angel seperti tersadar akan kesalahannya, airmata menetes diwajahnya..melihat betapa mama Livia sangat terluka olehnya. Angell mendekati Livia namun mamanya menjauh darinya.
__ADS_1
"Inikah dirimu yang sebenarnya Angell Wins."? tatap Livia terluka..
"Mama..aku.."
"Kau tau pengorbanan apa yang telah papamu lakukan untuk menjaga dan melindungimu.."?
Angell kehilangan kata-katanya..sudah berulangkali ia dengar cerita ini bahwa memang dia bukan anak kandung mama Livia, namun Angell begitu mencintai mama Livia lebih dari apapun. ia tau semua pengorbanan mama Livia untuk merawatnya.
"Mama..aku sungguh minta maaf." desah Angel mendekati Livia.
Namun Livia bergerak mundur dan mendekati papanya yang hanya menatap dalam diam.
"Kau harus tau apa yang telah dilakukannya untukkmu Angell." jerit Livia merasakan sakit dihatinya.
Rusell hanya menundukan kepala tak mampu mendengar apapun lagi dari istrinya.
"Mama..cukup..aku minta maaf," tangis Angell memohon ampun..
"Usiamu saat itu 40 hari, dan papamu rela meninggalkan semua bisnisnya yang berkembang saat itu dan menyembunyikanmu dari dunia luar yang sangat gencar mencari berita tentangmu, papa tidak membuangmu, tidak mencari kesenangan di luar untuk pribadinya dan mengabaikanmu, padahal saat itu dia sangat bisa melakukannya di usianya yang masih sangat muda..ia selalu berusaha melindungimu dan memastikan kau..tetap aman...lalu saat itu papamu menculik mama untuk membesarkanmu dan sisa cerita yang pernah mama ceritakan kepadamu Angel...tidak pernah papa tidak memikirkanmu, kau adalah anak kandungnya..tidak ada seorang ayah yang ingin menjerumuskan anakknya." ucap Livia dengan tajam.
Angell menundukan kepalanya dengan kesedihan yang dalam.sangat menyesal menyakiti papanya. Angell mendekati Rusell yang tertunduk di kursi. Angell memejamkan matanya dengan sedih. tak seharusnya ia menolak Oskar dihadapan keluarganya yang akhirnya membuat keluarganya malu dan ia dicap sebagai anak yang pembangkang. kini ia telah menyakiti hati kedua orangtuanya dengan begitu besar.
"Papa...maafkan aku..." desah Angell dengan isakan panjang.
Rusell menatap putrinya yang sudah dewasa dengan penyesalan. kemudian diraihnya tubuh putrinya untuk memeluknya dengan erat. mendekapnya dengan airmata yang menetes.
"Maafkan papa nak..papa sudah menyakitimu demi nama baik papa yang tidak berharga..kau adalah putriku satu-satunya kau dan Rafael adalah yang paling berharga untukk papa dan mama."
Angell mengangguk dengan cepat...ketika pelukan itu terlepas, Rusell membetulkan anak rambut Angel yang basah oleh airmatanya.
"Papa tidak memaksamu nak."
"Aku akan mencoba saling mengenal dengan Oscar papa." ucap Angell dengan wajah penuh senyum.
"Papa tidak mau memaksamu sayang."
__ADS_1
"Ini kemauanku papa, sebenarnya aku sedikit menyukainya namun aku kesal karna aku terlalu terkejut dengan perjodohan ini." Livia mencoba berbohong dan kembali menjadi anak baik untuk kedua orangtuanya.
"Papa akan memberimu waktu Angell jika kau tidak bahagia maka kau boleh menolaknya, waktumu satu bulan untuk berpikir." ucap papa Rusell dengan suara lembut.
"Baiklah papa, terimakasih."
Livia mendekati keduanya dengan tatapan bahagia...
"Jangan pernah bertengkar lagi." ucap Livia dengan wajah sedih.
Angell menoleh pada mama Livia dan segera menghambur ke pelukan mamanya dengan airmata yang menetes.
"Maafkan aku mama." isakknya dengan hati yang sungguh sedih.
Livia membelai punggungnya menenangkan...
"Kau tau mama sangat mencintaimu sayang."
"Kau pahlawanku mama, jangan marah padaku." ucap Angell dengan sedih.
"Kau akan selalu menjadi putri kecil mama sampai kapanpun." ucap mama Livia mengecup dahi Angell dan terus membelai wajahnya.
Rusell hanya menghela nafasnya, sekali lagi Livia adalah penyelamatnya. ia dan Angell memiliki sifat yang keras dan hanya Livia yang sanggup mendinginkan mereka berdua. Rusell tak pernah bisa membayangkan hidupnya tanpa istrinya.
Rusell kemudian memeluk kedua perempuan yang begitu berharga didalam hidupnya dalam dekapannya.
"Ayo kita menemui papa Roni dan mama Aleta dan juga Wili." seru Rusell tersenyum dengan lega.
*********************
Wili bangkit berdiri ketika keluarga kecil itu datang. matanya tajam menatap sudut bibir Angell yang membekas darah. wajahnya begitu lembab seperti habis menangis.
Wili menatapnya dengan tajam, sebagian hatinya terasa sakit melihat keadaan Angel.
Apa yang terjadi dengan hatinya.?
__ADS_1
Rusell menatap Wili dengan anggukan kepala yang mengisyaratkan sesuatu. lalu Wili tersenyum dengan lega dan membalas anggukan kepala yang hanya dimengerti keduanya. Wili kemudian menatap bekas luka disudut bibir Angell dengan sedikit sedih.
"Ini baru awalnya Angell Wins." pria itu tersenyum dingin, mengabaikan hatinya yang nyeri.