
Elena sedang membantu mama Livia merangkai bunga untuk diletakan dikamar....
"Bunganya harum sekali tante." ucap Elena menghirup sekali lagi kelopak bunga itu dengan sepenuh hati.
"Mulai sekarang panggil tante dengan sebutan mama, sebentar lagi kau akan menjadi menantuku."
"Mama..." ucap Elena pelan.
"Bagus, itu terdengar lebih enak di telinga mama."
Elena hanya mengangguk dengan senyuman mengerti dan bahagia, mama Livia menganggapnya sebagai anakk.
"Bawalah juga bunga ini untuk diletakan dikamarmu dan juga ka Rafael ya, nanti punya kak Angel mama yang akan menaruhnya dikamarnya."
"Tapi kak Rafael bukannya sedang sibuk, mengapa harus kesini."
"Apa kau lupa jika besok kau kan mulai pindah di apartementnya, kak Rafael kesini untuk membantumu mengemas barang-barangmu." ucap mama Livia masih serius merangkai bunga di depannya.
"Ma...bisakah, aku menunda ke apartement kak Rafael dulu, lagipula aku belum masuk kuliah." bujuk Elena dengan suaranya yang lembut. berharap mama Livia akan luluh dan mengijinkan dirinya tinggal lebih lama dirumah ini.
Mama Livia menghentikan aktifitasnya menata bunga dan menatap Elena dengan menyelidik.
"Apa yang sedang kau tutupi dari mama nak, apakah..kak Rafael berbuat sesuatu yang tidak pantas padamu."
Elena membeku, melihat betapa teduhnya tatapan mata mama Livia membuatnya tidak tega untuk jujur. astaga dia adalah korban dan mengapa dia merasa bersalah seperti seorang tersangka.
"Aku tidak menutupi apapun mah." jawaban Elena tercekat.
"Lalu mengapa dari kemarin kau terlihat tidak setuju untuk tinggal bersama Rafael dan mengulur-ngulur waktu."
"Aku hanya sedikit canggung saja Mah, mungkin karna aku belum terbiasa." Elena berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya karna ditatap sedalam ini oleh mama Livia.
"Kau tau jika mama sangat menyayangimu sama seperti Rafael dan Angel. alasan mama setuju kau tinggal bersama Rafael di apartement adalah mama ingin kau mulai membiasakan diri mengurusnya. entah keperluanya seperti pakaiannya dan makannya. mama sangat khawatir dengan Rafael yang memutuskan jauh dari mama tapi jika kau sudah bersamanya mama jadi lebih tenang."
Aku yang tidak akan tenang jika bersamanya mama Livia..batin Elena pasrah.
"Aku akan menjaganya untukkmu Mah..tenang saja." Elena menghibur.
Suara mesin mobil memasuki garasi membuat Mama Livia dan Elena saling menatap. bukan hanya satu mobil tapi dua mobil sekaligus. keduanya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri pintu.
Angel dan Rafael keluar dari mobil masing masing dengan raut wajah yang berbeda. jika Rafael tampak tersenyum namun lain halnya dengan wajah Angell yang diliputi mendung. Angel berlari kepada sang mama.
"Mah...aku ingin bicara, ayo ke kamarku sekarang." pinta Angell setengah menyeret mama Livia.
"Baiklah sayang, ayo."
Sebelum benar-benar pergi mama Livia melirik ke arah Elena...
__ADS_1
"Siapkan kak Rafael jika ingin makan dan jagan lupa taruh bunga dikamarnya yah, mama harus menemani kak Angel dulu."
Mama Livia pergi setelah melemparkan senyum pada Elena dan Rafael yang baru saja mencapai pintu.
"Elenaku, aku sangat merindukanmu." Rafael ingin menciumnya namun Elena segera menghindar dengan mundur beberapa langkah.
"Jangan mulai lagi."
"Aku tidak sabar lagi menunggu kita sampai di apartement."
"Kau mau makan sekarang, ayo aku temani." ucap Elena mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana jika aku lapar namun bukan makanan yang aku inginkan."?
"Apa maksudmu."
"Aku sangat lapar dan ingin memakanmu sayang."
"Dasar mesum."
Elena meninggalkan Rafael sendiri dan meraih pot bunga untuk diletakan dikamarnya dan juga kamar Rafael.
Rafael hanya terkekeh melihat ekspresi Elena yang menggemaskan dan melangkah masuk menuju kulkas dan meminum segelas jus untuk menyegarkan tenggorokannya.
>>><<<
"Ada apa, ceritakan pada mama."
"Seorang pegawaiku menghianatiku Mah..dan akibatnya klienku kecewa..aku ingin berhenti sejenak dari sana." ucap Angel dengan isakan pedih.
"Sayang, lihat mama." ucap mama Livia memegang wajah Livia dan menatap wajahnya.
"Kau adalah Angel Wins anak mama yang paling kuat, kau adalah anak dari seorang Rusell Wins yang begitu disegani, kau juga adalah seorang kakak Rafael Wins yang begitu dihormati, mengapa kau menjadi lemah karna persoalan kecil."
Angel menghapus airmatanya dan menganggukk, ia sangat marah sekarang namun ia tak mungkin menujukan dihadapan Livia jika dia seorang gadis yang jahat. tidak..ia adalah putri dari seorang Rusell Wins dan dia kan membuat Wili merasakan akibatnya karna membuatnya marah.
"Mah..mulai besok aku akan mencoba hal baru menjadi seorang sekertaris di perusahaan tuan Wiliam Pearl. ucap Angel.
"Tuan Wiliam Pearl pengusaha sukses itu maksudmu." ucap Livia tersenyum.
"Yah Mah..aku akan mengalihkan rasa kecewaku dengan menjajal hal baru."
"Mama mendukungmu sayang, kau juga bisa sambil belajar darisana. mama dengar tuan Wiliam adalah seseorang yang paling sukses saat ini. dan kabarnya jarang pegawai bisa masuk ke perusahaannya tanpa kualitas yang bagus."
"Aku senang mama mendukungku."
"Tentu saja kau anak perempuan mama yang paling mama cintai, dan sekarang ditambah lagi dengan Elena..mama juga sangat menyayanginya."
__ADS_1
"Elena." ucap Angel dengan senyuman yang memudar.
>>>>>***<<<<<
Elena meletakan bunga di samping ranjang milik Rafael dan kemudian membalikan tubuhnya seketika Elena terkejut ketika ia menubruk dada bidang Rafael yang membuat keduanya bertatapan.
"Kau...."? desah Elena memutar bola matanya jengkel, cepat sekali pria itu ada disini padahal tadi dia msih dibawah.
Rafael tersenyum, sebelah tangannya sudah memeluk pinggang Elena dengan posesif sekaligus menahan tubuh Elena agar tidak jatu.
"Lepaskan tanganmu.'
"Mengapa aku harus...."
"Mama bisa saja kesini dan...."
"Kau sudah memanggil mama yah..bagus, bagaimana kalau kita memberinya cucu." Rafael mendekatkan wajahnya.
Mata Elena melebar gusar, ia memukul dada Rafael dengan ekspresi melotot.
"Jangan bercanda...."
"Aku tidak bercanda sayang, seharian ini aku sangat merindukanmu di kantor....aku ingin."
Elena melepaskan tubuhnya dengan menginjak kaki Rafael.
"Mengapa di otakmu selalu saja berpikiran tentang itu saja." ujar Elena heran.
Rafael kembali mendekati Elena...
"Taukah kau...pria normal itu butuh pelampiasan hasrat agar bisa berkonsentrasi didalam pekerjaan, begitu juga denganku, aku butuh pelampiasan biologis karna aku pria yang sangat normal."
Elena hanya menggeleng dengan kesal,
"Terserah padamu carilah wanita lain saja yang bisa memuaskanmu, aku tidak masalah kok."cibir Elena kesal.
"Tapi masalahnya adalah aku bangkit hanya ketika denganmu, lagipula kau itu kan calon istriku mengapa aku harus mencari wanita lain."
"Hentikan..aku akan membantu mama Livia untuk menata bunga..jangan coba memanfaatkan aku."Elena memberi peringatan.
Elena melangkah ke arah pintu dan hendak membukanya namun seketika tangannya ditariknya. hingga Elena tenggelam di dalam pelukan posesif Rafael. pria itu tersenyum menatap bibir Elena dengan penuh keinginan.
"Bagaimana dengan ciuman."
Rafael tidak membiarkan Elena menjawab, karna pria itu langsung melum** bibir Elena dengan penuh gairah, tidak membiarkan wanitanya meronta atau melepaskan diri darinya. Rafael seorang pria yang kuat dan memiliki tubuh yang tinggi di atas rata-rata. Elena jelas tak bisa melarikan diri darinya.
❤❤
__ADS_1