
Zefanya menatap sekolah asrama tempat adikknya bersekolah. besok adalah hari pernikahannya dan ia ingin menjemput adikknya.
Setelah menemui kepala sekolah untuk meminta ijin Zefanya menemui Tari di kamarnya. setelah mengetuk pintu agak lama, pintu itupun terbuka lebar.
Tari menatap malas pada kakaknya, ia tidak pernah menunjukan sikap seperti itu sebelumnya dan Zefanya merasa ada yang aneh pada adikknya.
"Kau tidak mau aku masuk."?
Tari menatap tajam....walau akhirnya ia menganguk, Zefanya masuk dan mengunci pintu di belakangnya. Tari bergerak menjauh menatap keluar jendela dengan tatapan dingin.
"Mengapa kakak datang kesini."? ucapnya dingin.
"Aku ingin menjemputmu Tari, besok adalah hari pernikahan kakak..dan kakak ingin..."
"Maaf mungkin aku tidak akan pergi." ucap Tari datar.
"Apa."???
Tari memutar tubuhnya menghadap kakaknya...tatapannya menunjukan kalau ia sangat marah....
"Kakak...apakah menyekolahkan aku disini membuat kakak harus menjual diri pada lelaki kaya itu."? ucap Tari dengan mata berkaca-kaca dan sungguh hati Zefanya remuk redam mendengar perkataan polos dari adikknya.
Zefanya menghela nafas, matanya hampir menangis namun ia berusaha menahan airmatanya.
"Siapa yang memberitahumu."?
"Kak Jay." ucap Tari dengan polos.
"Kak Jay.....? apa yang dia katakan kepadamu, bagaimana bisa...apakah dia mengunjungimu disini."?
Tari memalingkan wajahnya.....
"Jawab." jerit Zefanya kuat..
"Dia mengunjungiku disini, dan dia bilang kakak di beli oleh seorang pria kaya yang memberimu banyak uang hingga bisa menyekolahkan aku disini...airmata Tari menetes...dia juga bilang kakak sudah menjual diri berkali-kali." teriak Tari dengan sakit hati....
Kedua kakak beradik itu saling menatap penuh tangis....
"Aku tidak mau harus sekolah di tempat mahal jika itu membuatmu tersiksa kakak..." tangis Tari sedih...
"Kau tidak percaya kepadaku kakakmu sendiri dan kau lebih memilih percaya kepadanya."? tatap Zefanya dengan sakit hati.
"Aku bingung kak, aku mencoba menelfonmu tapi tak bisa...aku sendirian disini dan aku tak tau keadaan kakak diluar sana, apakah kakak baik-baik saja, apakah kakak tidur dengan baik? apakah kakak masih mengambil pekerjaan sampingan melebihi kekuatan kakak..apakah kakak sedang sakit.." tangis Tari pecah.....
"Oh Tari....." isak Zefanya menutup wajahnya sangat sedih.
"Aku merindukanmu kak sepanjang malam, aku berusaha belajar disini agar aku bisa cepat keluar dan bekerja untuk membantumu."
"Kakak juga merindukanmu." Zefanya mendekati Tari memegang bahu adikknya sedikit kuat.
"Maafkan aku kak, aku berkata kasar."
__ADS_1
Zefanya menggeleng......
"Tari...semua yang dikatakan kak Jay itu bohong..kakak tidak menjual diri, kakak beruntung karna akan menikah dengan pria yang mapan..dan pria itu membantu kakak untuk menyekolahkanmu Tari." ucap Zefanya dengan kepedihan yang dalam. meski ia berbohong, meski pernikahannya hanya sementara namun..ia harus meyakinkan Tari kalau dia baik-baik saja.
"Kakak tidak membohongiku kan."? isak Tari sedih.
"Tidak...kakak tidak bohong, Mana mungkin kakak bohong."
Tari mengangguk, lalu menghambur kepelukan kakaknya dan menangis dengan keras..
"Lebih baik aku ikut kakak berjualan seperti dulu dari pada harus sekolah dan itu membuat kakak tersiksa, apalagi sampai jual diri." Tari semakin terisak.
"Kau harus sekolah yang tinggi, kau harus menjadi yang terbaik Tari, kakak tidak meminta apapun darimu, kakak hanya ingin kau bisa lulus dari sini dan sukses."
Tari mengangguk dan semakin mempererat pelukannya...
"Jangan dengarkan kata kak Jay, kau tau kan dia sangat jahat pada kita...dari dulu sejak mama masih ada dia hampir memperko** kakak. dia..adalah seorang bajingan."
Pelukan itu terlepas......
"Aku mengerti kak."
"Kakak akan meminta penjaga di depan untuk menjagamu dari dia..kakak akan minta agar mereka melarangnya masuk dengan menunjukan fotonya."
"Yah..kakak."
"Bagus, kakak mencintaimu sayang."
"Jadi bagaimana..kau sudah menyiapkan baju-bajumu."?
"Iya kak....semua sudah kusiapkan." tunjuk Tari pada sebuah koper berwarna pink kesukaannya.
"Baguslah sayang, kita akan pergi sekarang."
"Baik kak."
💗💗
Tari menatap sebuah rumah megah di hadapannya.ia melirik kakaknya dengan takut.
"Apa ini benar rumah calon suami kakak."?
"Kau benar sekali..ayo turun."
Tari menggeleng, ia trauma dengan rumah orang kaya..dulu waktu dirumah kak Rosa, ia bahkan tak mampu bernafas karna bahkan pelayan kak Rosa melotot padanya seakan ia akan mencuri di rumah kak Rosa.
"Mereka baik kok, tidak seperti di rumah kak Rosa." ucap Zefanya menyadari apa yang ada di pikiran adik kecilnya.
"Benarkah..kakak apakah bajuku tidak memalukan."?
"Tidak kau sangat cantik."
__ADS_1
"Bukan itu maksudku..." sambung Tari cemberut..gadis kecil berusia 13 tahun itu melipat tangannya di dada.
"Lalu apa.? tanya Zefanya dengan sabar.
"Maksudku adalah..penampilanku lumayan bersih kan kak, sehingga aku tidak mempermalukan kakak dihadapan mereka nanti."
"Astaga....kau sangat cantik dan bersih, mereka akan melotot dan berpikir, mengapa kedua kakak adik ini sangat cantik." ucap Zefanya mengecup dahi adikknya.
"Aku siap kakak, ayo turun."
💞💞
Rumah itu sudah mulai ramai karna akan akan ada pesta besar..
Zefanya menggenggam jemari Tari dan membawa masuk ia akan mengenalkan Tari secara pangsung dengan keluarga Rafael.
Sampai di pintu mama Livia keluar dan tersenyum kepada Zefanya, pandangannya beralih pada Tari gadis kecil yang sangat cantik.
"Mama." ucap Zefanya menunduk hormat lalu Taripun ikut menunduk sopan. ia bingung harus memanggil apa.
"Zefanya, kau sudah datang..dan apakah ini Tari si cantik itu."? tanya Livia dengan ramah.
"Iya nyonya." ucap Tari menunduk sekali lagi, ia bersikap hati-hati dan begitu sopan hingga menggetarkan hati Livia.
"Kau cantik dan manis sekali sayang."
"Terimakasih nyonya." ucap Tari tersenyum.
"Panggil aku mama seperti kakakmu memanggilku sayang."
"Mama. ? ulang Tari terkejut ia melirik kakaknya dan meminta petunjuk, bolehkah...aku memanggil mama."? bisiknya yang membuat Livia tersenyum hangat.
"Boleh sayang."
Tari tertawa...lalu menatap mata Livia yang terasa sangat teduh. hinga matanya berkaca-kaca.
"Terimakasih mama." tiba-tiba Tari merasa sedih...mama adalah kata yang sudah lama tidak ia ucapkan, kata kakak mama meninggal sejak Tari berusia tiga tahun, sejak saat itu kak Zefanya yang merawatnya susah payah.
Livia menangkap guratan kesedihan di mata gadis kecil itu dan segera membawanya kedalam pelukannya.
Tangisan Tari tumpah saat itu juga, awalnya isakannya keci dan berubah mennjadi tangisan menyayat hati.
"Aku merindukanmu mama..." isak Tari sangat sedih masih memeluk Livia seakan enggan melepaskan pelukannya, Zefanya juga menangis sedih ia merasa bersalah..selama ini ia sudah berusaha menjadi seorang ibu untuk Tari namun memang tak bisa menggantikan dengan sempuna.
"Jangan sedih lagi sayang, mama ada disini." ucap Livia dengan mata yang basah,entah mengapa jiwanya langsung terikat kuat dengan anak ini, hatinya bergetar entah mengapa....
Tari seolah terkejut karna ia melupakan untuk bersikap hormat dan sopan, bagaimana ini..apakah kakak dan dirinya akan di usir seperti dirumah kak Rosa dulu.?
Tari melepaskan pelukan dari Livia dan buru-buru menghapus airmatanya ia menatap kak Zefanya yang sedang menunduk..
"Maafkan aku...aku bersikap tidak sopan..aku mohon maaf, Nyonya." ucap Tari dengan sedih, ia tak mau pernikahan kakaknya dibatalkan karna sikapnya.
__ADS_1
"Tari."??? ucap Livia mengerutkan dahinya....