Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Tersentuh


__ADS_3

"Nyonya Livia..." suara pelayan itu bergetar menahan tangis. memandang Livia dengan wajah ketakutan yang terlihat diwajah lugunya.


Livia memejamkan matanya dengan sedih, ia tidak punya pilihan apa-apa selain menuruti kemauan Rusell. ia tidak mungkin membiarkan pelayan yang masih muda itu menjadi korban dari keras kepalanya.


"Jawab Livia." ucap pria itu keras.


Rusell menarik pelatuknya bersiap untuk menembak. dan saat itu Livia menyentuh lengan Rusell yang memegang pistol ditangannya, menggunakan tangannya yang masih terikat. saat itulah Rusell tertegun melihat jemari Livia yang memerah karna di ikat sebelah, mau tak mau hati Rusell menjadi bergetar. ia mengerang mengabaikan nyeri di hatinya, lalu menyembunyikan wajah khawatirnya dalam tatapan dinginnya.


"Aku akan menuruti kata-katamu Rusell, hanya saja aku mohon lepaskan dia." ucap Livia dengan tatapan putus asa. dia tidak mau gadis ini sampai menjadi korban..cukup sudah baginya kehilangan Meri dan Roni. ia tidak ingin kehilangan lagi.


"Apa kau tidak sedang mempermainkanku atau sedang mencoba membohongiku."? suara Rusell meninggi.


Livia menggeleng..sesaat ia masih melihat wajah gadis itu. menatapnya masih gemetar bahkan ketika Rusell sudah menurunkan pistolnya. hati Livia seperti diremas dengan kuat. ia akan baik-baik saja walau harus menelan penderitaan sekali lagi.


"Aku akan menuruti semua yang kau mau, tapi lepaskan dia." ucap Livia memohon.


Rusell tersenyum, membawa Livia merapat pada tubuhnya hingga tubuh mereka bersatu dalam pelukan posesif Rusell.


"Kuharap ini terakhir kalinya kau..menentangku Livia."


Livia mengangguk dengan wajah datar ketika pria itu mendekatkan wajahnya. Livia tidak juga menolak ketika pria itu hendak menciumnya. karna Livia tau Rusell tidak suka ditolak. ia hanya mampu menahan semua rasa sakit didalam hatinya.


"Cepat makanlah aku mengawasimu sayang." ucap Rusell dingin.


Liva mengangguk dengan buru-buru lalu mendorong Rusell menjauh darinya. iapun menatap pelayan yang masih muda itu dan tersenyum padanya.


"Siapa namamu." tanya Livia.


"Linda."


"Baiklah Linda kau boleh pergi sekarang." ucap Livia pelan.


Linda tersenyum sambil menghapus airmatanya ia kembali memandang Livia dan Rusell yang sedang menatapnya.


"Terimakasih tuan dan nyonya Rusell." gadis itu meundukan kepala penuh hormat.


Kini tinggalah mereka berdua dikamar itu. seperti janjinya Livia meraih piring berisi makanan dan mulai makan dengan lahap walau agak kesulitan karna tangannya yang terikat. wajahnya tetap dingin dan datar bahkan tidak sedikitun dia menganggap Rusell ada disana.


Rusell menatap Livia dalam dia dan mengamati gerak Livia yang terbatas, namun tidak mengeluh. beberapa kali terlihat Livia meringis sakit ketika tak sengaja ikatan itu terlalu kencang.

__ADS_1


"Berhenti." ucap Rusell.


"Mengapa, apakah aku berbuat salah lagi."? ucap Livia polos.


"Aku akan melepaskan tanganmu."


Livia tertegun melihat Rusell melepaskan ikatan di tangan kirinya dan mengambil obat merah yang dibawa pelayan untuk mengobati luka lecet di tangannya.


Livia hanya terdiam ketika pria itu sudah selesai dengan aktifitasnya mengobati Livia.


"Terimakasih." ucap Livia menundukan kepalanya.


"Pelayan akan menjagamu disini." ucap Rusell beranjak dari tempatnya duduk. berada terlalu lama dengan Livia membuatnya tak tahan, ketika ia sampai dipintu.


"Tunggu Rusell."


"Ada apa."? ucapnya tanpa menoleh.


"Bagaimana Angel...apakah dia makan dengan benar, apakah dia mencariku."? mata Livia berkaca-kaca dia memang membenci Rusell tapi tidak dengan Angel.


"Kau akan kembali ke kamarmu setelah makan, Angell merindukanmu." usai berkata Rusell meninggalkan kamar Livia.


"Angel...anakku, kau merindukanku." isak Livia menundukan kepalanya. apakah dia harus senang dengan perlakuan lunak Rusell..tidak, Roni sudah mati dan Livia tidak akan bisa memaafkan Rusell. ia menggeleng keras.


Disebuah ruangan bawah tanah yang gelap sepasang kaki panjang memasuki ruangan rahasia itu. beberapa penjaga tampak membungkuk penuh hormat kepadanya. iapun tersenyum pria itu masuk menuju tempat Roni terbaring. disana sudah ada dokter yang menjaganya.


"Tuan Rusell." ucap dokter membungkuk dihadapn pria itu.


"Bagaimana keadaannya."?


"Dia bisa selamat karna peluru tidak sampai mengenai organ vitalnya. tapi dia belum sadar." ucap dokter itu.


"Bagus."


"Saya yakin tuan sengaja menembak di tempat yang tidak akan membuatnya mati, mengapa tuan melakukannya." ucap Dokter heran.


Rusell terdiam, didalam hatinya membenarkan ucapan dokter itu..


"Aku punya rencana untukknya, dan aku ingin kau membawanya ke rumah sakit besar lalu buatlah skenario seolah dia kecelakaan atau apapun aku tidak mau dia menjadi masalah."

__ADS_1


"Mengapa tuan tidak membunuhnya saja sekarang, semua akan lebih gampang jika dia mati..tuan tidak perlu repot seperti ini." ucap dokter yang telah menjadi anak buah Rusell selama bertahun-tahun itu mencoba membujuk. ini seperti bukan tuannya saja. tuan Rusell tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh tapi apa yang terjadi kali ini, mengapa sang tuan berubah mengampuni musuh, ia pikir ini bukanlah hal yang baik.


Kau pembunuh....


Kata-kata Livia seakan menuduhnya..Rusell tak bisa melupakan kata-kata itu. bukan berarti takut Rusell tidak pernah takut pada siapapun .namun ada rasa sakit ketika seorang Livia yang mengucapkan kata pembunuh kepadanya. meski Rusell tau ia tidak akan pernah memberikan hati dan cintanya lagi untuk Livia. baginya cinta tidak pantas untukknya.cukup dua kali Livia membohonginya atas nama cinta. Rusell tak ingin terlena lagi. iapun menatap dokter itu.


"Aku hanya sedang tidak ingin membunuhnya untuk saat ini,kau harus terus mengawasinya dan berikan laporan kepadaku." ucap Rusell dengan dingin.


"Baiklah tuan, jika itu keinginan tua Rusell."


Dokter itu menundukan kepalanya dalam-dalam.


💙


Livia sudah bisa kembali ke kamarnya dan bersama Angel. ia juga sudah bisa berkeliling dan mendapat kebebasannya seperti dahulu, entah mengapa Rusell kembali mencabut hukumannya, Livia senang, setidaknya dia tidak harus kesepian dikamar gelap itu. Livia memandang kamarnya yang luas itu dan tersenyum getir. ia sadar semua barang-barang Rusell yang semula ada dikamar ini tidak ada lagi. kata pelayan Rusell pria itu tidak akan tidur bersama Livia disini dan lebih memilih kamar paling ujung dari kamarnya ini. mereka juga hampir tidak pernah bertemu sejak kemaren. pria itu menghindarinya. dan bersikap sangat dingin ketika terpaksa bertemu hingga bicara. tak ada lagi jejak senyuman diwajah Rusell untuk dirinya.


Livia membawa Angell keluar kamar dan menyusuri lorong panjang menuju balkon yang luas.beberapa pelayan dan anak buah Rusell yang kebetulan melintas menunduk hormat kepadanya. entah mengapa dari tadi matanya terus mencari-cari Rusell. setidaknya dia hanya ingin menatapnya dari jauh. namun ia kembali harus menelan kenyataan pahit jika Rusell tidak ada disana.


Livia menggelengkan kepala dengan wajah sendunya ia membalikan tubuhnya dan begitu terkejut ketika menubruk dada bidang Rusell hingga tubuhnya goyah namun tidak sampai terjatuh karna Rusell menahan punggungnya.


Mata keduanya bertatapan dengan tajam....


"Aaku...." Livia kehilangan kata-katanya ketika wajah Rusell begitu dekat dengannya sekarang. hingga Livia menjadi sangat gugup.


Rusell meraih tubuhnya dan membantunya berdiri tegak. pria itu masih memenjara mata Livia.


"Apa yang kau lakukan."? tanya Rusell dingin.:


"Aku hanya sedang mencari udara segar." ucap Livia memalingkan wajahnya dengan malu.


Kebetulan sekali..aku membutuhkanmu saat ini." ucap Rusell sambil memberi isyarat pada pelayan untuk mengambil Angel di gendongan Livia. pria itu terseyum kejam.


"Lakukan tugasmu sebagai istriku sekarang Livia Wins." ucapnya dengan nada tegas.


"Aapa."? jerit Livia terkejut.


Skippppp........😉


Hai semua readersku yang tersayang terimakasih telah membaca cerita ini..

__ADS_1


jangan lupa dukung author dengan Like, Koment yang banyak, dan juga Vote lalu beri rangking.


Terimakasih...❤❤


__ADS_2