
Martin mendorong tubuh Mikha menepi hingga ia melangkah maju menghadapi Roland yang di penuhi amarah, pisau yang tadi di arahkan padanya dengan mudah dapat di halau Sean. pria itu lalu menerjang Roland hingga ia kehilangan kendali dan terjatuh lagi...
Terjadi saling memukul di antara mereka hingga Mikha hanya menjerit histeris ia begitu ketakutan melihat perkelahian dua pria dewasa ini..
Martin mencengkram ujung Jass Roland dengan kuat,kemudian menghantam wajahnya hingga bibirnya pecah...lalu melepaskannya..
Pisau itu kini berpindah tangan pada Martin yang berdiri menantangnya...
Roland menatap dingin lalu berdiri lagi menegakan tubuhnya, membiarkan darah menetes di dalam mulutnya sebagai pengingat bahwa ia harus membalas luka yang lebih dalam lagi..ia menatap tajam ke arah Martin dan Mikha yang seakan menertawainya...
Jemarinya terkepal dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih.
"Aku akan mengejutkanmu Mikha sayang..lihat saja, dan untuk kau Martin..ini belum berakhir." desis Roland sungguh marah lalu meninggalkan tempat itu menuju mobilnya, sesaat kemudian mobil mewah itu melaju kencang meninggalkan parkiran perusahaannya...
Mikha menghela nafas dalam, ia lalu memegang bahu Martin memeriksa jika mungkin pria ini terluka. Mikha menatap dengan dalam...
"Kau baik-baik saja, apakah ada yang terluka."? desah Mikha dengan tatapan khawatir...airmatanya sampai menetes.
Martin terdiam dan hanya menatap tajam ke arah Mikha yang terlihat takut dan gelisah...pria itu begitu senang dengan apa yang ditunjukan Mikha saat ini. hatinya bergetar, menyadari Mikha juga mencintainya dengan tulus.
"Aku baik-baik saja sayang." bisik Mikha dengan senyumnya yang tampan dan seperti biasa menghipnotis Mikha dengan cepat...
Martin kemudian memeluk seketika tubuh Mikha, dan menenangkan Mikha yang masih takut...
"Semua akan baik-baik saja Mikha, berhentilah menangis."
"Aku takut sekali dia melukaimu." jerit Mikha sesegukan.
"Aku pengawal yang terlatih sayang, aku sangat kuat."bisik Martin pelan..
Mikha melepaskan pelukan membiarkan Martin menghapus airmatanya..ia tersenyum...
"Yah...aku lupa kalau kau sangat kuat."
__ADS_1
Martin bersedekap.....
"Apa maksudmu kau meragukan aku."? Martin mengeraskan rahangnya..
"Aku tidak meragukanmu kok." ucap Mikha tak mampu menahan senyumnya.
"Kau harus mendapatkan hukumanmu." desis Martin menangkap tubuh Mikha hingga setengah memeluknya...
"Hukuman apa."? Mikha tertawa ketika Martin terus menggodanya dengan ciuman kecil..
"Mungkin hukuman yang indah, tapi tidak disini."
"Kau..."?
"Ayo pulang karna aku tidak sabar lagi."
Martin melum** bibir Mikha dengan singkat lalu menggenggam jemarinya dengan erat menuju mobil..
Sementara Stela yang sedari tadi menatap di dalam mobil mewanya merasa sangat kesal dan marah...berkali kali ia melampiaskan kemarahan pada stir mobilnya...
Ia memejamkan matanya menahan dirinya, yah...jika Mikha tidak hancur maka ia harus menghancurkan ibunya.
Stela segera menelfon Hana dirumah, ia ingin memastikan Hana mampu menyelesaikan tugasnya, dan setidaknya Stela bisa sedikit terhibur dengan kabar gembira dari Hana..
ππ
Hana membeku dengan amarah yang begitu menguasainya ia berdiri di depan pintu dengan kesakitan yang dalam, yah..disinilah ia sekarang di depan pintu kamar milik tuan Aksana dan nyonya Lusi ia bisa mendengar suara desahan yang samar dari balik pintu.
Seharusnya ia yang ada disana..seharusnya dirinya yang bercinta dengan tuan Aksana. Hana bahkan sudah berkhayal bahwa dirinyalah yang akan menjadi nyonya Aksana menggantikan wanita itu. sudah lama ia memendam semua perasaannya. sudah lama ia memendam rasa ingin memiliki tuan Aksana dan kini semuanya hancur tidak tertolong dengan bersatunya mereka..
"Lusi......kau akan melihat kemarahanku yang sebenarnya, aku akan menghancurkanmu dengan segera." jerit Hana penuh dendam...
Lalu meninggalkan kamar itu, ketika ada panggilan masuk dari Stela..ia mengerang kesal. Stela yang manja dan bergantung padanya. Hana mulai muak,ketika nanti ia menjadi istri tuan Aksana maka hal pertama yang dilakukan Hana adalah menyingkirkan gadis manja itu dari kehidupannya. ia sangat lelah harus setiap saat menjadi sasaran kemarahan Stela dan tetap bersikap baik, ia sangat lelah menghadapi Stela yang egois dan selalu memaksa kehendaknya.tapi untuk sementara..
__ADS_1
Hana tak bisa berbuat apa-apa, Stela punya kedudukan penting di hati tuan Aksana,dan itu menguntungkan Hana, jadi ia harus lebih sabar menghadapi seorang Stela.
Stela : Hallo..Hana...bagaimana apakah kau berhasil menjebak papa.?
Hana : Maaf Stela, ibumu pulang di saat yang tidak tepat...dan semuanya berantakan....
Stela : Aaaaarrrghhh...kau sangat bodoh Hana, bagaimana mungkin kau bertindak lambat..bukankah kau punya banyak waktu sebelum ibu pulang.?
Hana : Itu karna.......
Stela : Kau....tidak berguna Hana, bodoh sekali...aku kesal sekali denganmu......
Ponsel dimatikan...Hana begitu kesal dan marah, lalu sekejap saja ponselnya ia hancurkan hingga tidak terbentuk lagi...
"Aku muak padamu Stela..lihat saja aku juga akan membalas kekurang ajaranmu." jerit Hana sungguh kesal..
ππ
Aksana membuka matanya dan langsung merasa tubuhnya lebih lega dari sebelumnya, perasaan puas luar biasa yang sudah lama tidak ia rasakan. walau ia sedikit lelah karna beberapa kali menyerah dalam pusaran nafsu yang seakan tak pernah berhenti mengikatnya semalam.
Diliriknya Lusi istrinya yang masih tertidur lelah di sampingnya. tubuhnya polos di balik selimut, terlihat tanda merah yang membekas di sekitar dada istrinya.
Sudah lama mereka tidak melakukannya, sejak ia tau penghianatan Lusi dengan kakak kandungnya sendiri hingga membuahi Mikha. yah..hatinya terluka dengan sangat dalam. ia sangat mencintai Lusi dengan sepenuh jiwanya. kepercayaan penuh ia berikan sebelum badai itu datang.
Walau mereka membantah perselingkuhan itu walau tak pernah ada bukti mereka bersama namun tes DNA terhadap Mikha mampu menghancurkan Aksana begitu dalam. Mikha bukanlah anakknya.
Ia sangat marah namun tak bisa melepas Lusi karna terlanjur mencintainya, ia tidak sanggup menceraikan Lusi yang dulu berkorban sepenuh hati merawat Stela meski bukan anakknya. selisih usia mereka jauh itu sebabnya Lusi masih terlihat muda dan segar. Aksana memilih menghukum Lusi dengan pernikahan dingin, memilih tidak menyentuh tubuh Lusi selama beberapa tahun, dan memilih wanita di luar sana sebagai pelampiasan.
Namun...setelah percintaan mereka, hatinya yang sudah padam mulai menghangat, tubuh Lusi membuatnya candu dan membangkitkan kenangan lama, ia menoleh Lusi yang sama sekali tidak berubah, kenikmatan itu sungguh indah ksrna sudah lama mereka tidak melakukan kontak fisik, dan Aksana sudah memutuskan.....
Mulai saat ini ia akan berhenti mencari kenikmatan diluar sana dan Lusi harus tetap memenuhi kewajibannya di tempat tidur secara rutin...Aksana tersenyum menang...
"Anggap saja itu hukuman barumu Lusi, walau aku tidak akan memberikan hatiku kepadamu lagi karna kau sudah menghianatiku..namun tubuhmu adalah milikku yang bisa kapan saja aku pakai." ucap Aksana mendekati Lusi dan menyentuh wajah istrinya....
__ADS_1
Hai...mampir ya ke novel author yang lainππ