
"Apa maksud kalian berdua." ucap Angell dengan tegas menatap ke arah Wili dan Alex yang berdiri saling menantang.
"Kau tidak perlu mendengarkan orang lain selain suamimu Angell." tatap Wili dengan tajam.
"Astaga ada apa denganmu."? seru Angell merasa kesal ketika melihat Wili mulai berubah.
"Sebaiknya kita menemui orangtua dan tamu yang lain." ucap Wili meraih jemari Angell setengah menyeret meninggalkan Alex yang masih menatap keduanya.
Alex mendekati Angell dan meletakan hadiah berupa kotak itu dalam genggaman Angell sebelum ia menjauh. keduanya bertatapan dengan penuh arti. sebelum Angell kembali menatap Wili.
"Apa yang terjadi denganmu mengapa kau berubah menjadi seperti orang lain." bisik Angell menyadari Wili mengeraskan genggamannya.
Wiliam berhenti sebentar lalu menatap Angell.
"Apa maksudmu..kau mau mengacaukan acara pernikahan kita sendiri."? ucap Wili masih terlihat dingin tak tersentuh.
"Kau berubah Wili." mata Angell berkaca-kaca dengan sedih.
"Astaga mengapa kau jadi cengeng begini, jangan sampai menangis dan membuat semua orang menoleh dua kali kepadamu Angell."
Angell menggeleng...Wili menatapnya seperti seorang musuh saja.
"Baiklah...aku juga tidak akan mempermalukan keluargaku sendiri." Angell mengalah dan menguatkan hatinya. Angell mengerjapkan matanya, menghapus jejak airmatanya. lalu melangkah dengan dagu yang terangkat tak lupa menebar senyum paling manis dihadapan orangtuanya.
"Jadi....akhirnya putriku sekarang sudah menjadi milik suaminya sendiri." ucap Rusell dengan mata berkaca-kaca. disampingnya ada mama Livia yang sudah meneteskan airmata. ia yang paling sedih saat ini dan paling berat melepaskan Angell.
"Papa...aku akan menjaga Angell dengan segenap nyawaku." ucap Wili dengan tegas.
Angell menoleh menatap mata Wili yang begitu teduh, seolah tatapan tajam tak pernah ia perlihatkan tadi, sungguh Angell merasa bingung dengan sikapnya.
"Aku percaya padamu Wili, jangan pernah membuatnya menangis."
"Maaf papa...aku tapi pasti akan membuatnya menangis.." ucap Wili membuat Rusell, Livia dan Angell tertegun...
Wili tersenyum lagi...
"Aku akan membuatnya menangis karna bahagia hidup denganku." ucap Wili sontak membuat Rusell dan Livia tertawa saat itu juga, namun itu tidak menular pada Angell. ia merasa sesuatu yang buruk akan menimpanya.
"Papa dan mama ada yang ingin kusampaikan." ucap Wili dengan tenang.
"Ada apa katakan saja Wili." ucap Rusell.
"Mungkin malam nanti aku akan membawa Angell pergi."
__ADS_1
"Apa maksudmu."? ucap Rusell menaikan alisnya.
"Kami akan langsung berbulan madu papa tenang saja..dan aku ingin segera mendapatkan seorang anak dari Angell." ucap Wili menjelaskan.
Angell memejamkan matanya..apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Wili. mengapa semuanya terlalu mendadak dari pernikahan lalu bulan madu.
"Baiklah...kami merestuimu anakku." ucap Rusell menganggukan kepala.
Livia mendekati Angell...
"Putriku..mama pasti akan kehilangan tawamu dirumah..mama pasti akan selalu menangis setiap saat jika menyadari putri kecil mama sudah tidak tinggal dengan mama...tapi mama akan bahagia dan bersyukur jika kau bahagia dan selalu tersenyum sayang." ucap Mama Livia sontak tangis Angell pecah saat itu juga.
Angell memeluk mamanya dengan dekapan yang erat seolah ia merasa semua tak lagi sama, semua tak akan kembali seperti dulu dan dia tak akan baik- baik saja.
"Aku mencintaimu mama." jerit Livia tercekat di tenggorokannya.
"Mama mencintaimu Sayang, berbahagialah."
Angell melepaskan pelukannya pada mama Livi dan kemudian berpelukan dengan papa Rusell.
Airmata di wajah pria matang itu mengalir deras...
"Papa mencintaimu Angell Wins."
"Aku mencintaimu papa."
"Kakak akan merindukan kalian."
"Berbahagialah kakak." ucap Rafael sembari memeluk keduanya.
Perpisahan itu terlalu menyakitkan bagi Angell, sedari tadi ia menahan semua perasaannya di hadapan orangtuanya.
Wili membimbing Angell menuju pintu dan melangkah menuruni tangga gereja menuju mobil. dari jauh terlihat lambaian tangan Orangtua dan swmua keluarganya dan di ujung terlihat Alex hanya menatap Angell dari jauh.
Pinthu mobil terbuka dan Wili setengah mendorong tubuh Angell masuk dan menutup pintunya. keduanya bertatapan dengan tajam. Wili benar-benar berubah menjadi sosok yang mengerikan dimata Angell.
Wili berbalik menghadap semua keluarga Angell dan melambaikan tangan dan menunduk di hadapan orangtua Angell dengan penuh hormat. sebelum ikut masuk ke dalam mobil.
Angell tak berhenti menatap sorot mata Wili yang tidak ramah. dan tak mampu untuk mengabaikan hatinya yang berdebar gelisah.
"Wili."
"Diamlah..aku sedang tak ingin bicara Angell, sebaiknya kau menyiapkan diri karna kita akan melewati percintaan yang akan menguras tenagamu, bahkan aku ragu kau bisa bicara setelahnya." lirik Wili datar.
__ADS_1
"Apa maksudmu, kita akan kemana dan kenapa...kau berubah...mengapa kau seolah menghukumku."?
"Kau akan mengetahuinya karna aku juga lelah menahan perasaanku selama ini Angell Wins.aku...akan mengatakan semuanya hingga kau sadar posisimu dimataku."
"Apa..." airmata Angell mengalir di sudut matanya dan ia membuang muka ke arah jalan. ada apa sebenarnya..mengapa Wili menatapnya seolah ia telah melukai Wili dengan dalam. mengapa Angell merasa Wili benar-benar akan menyiksanya.......
Mobil itu menuju sebuah pemakaman yang mahal dan Angell tertegun ketika mobil itu berhenti. Wili tak sedikitpun menatap matanya.
"Ayo..turunlah..bukankah kau ingin bertemu dengan adikku dan orangtuaku..inilah saatnya kau memberi mereka penghormatan."
Angell menatap pemandangan sekitar dengan tatapan gelisah, hari mulai gelap dan Wili tak membiarkan Angell mengganti baju pengantinnya.
"Wili...setidaknya biarkan aku mengganti baju, gaun ini terasa berat...." kata-kata Angell terputus..
"Tidak..kau tidak perlu mengganti apa-apa Angell..kita sudah tidak punya waktu, ayo turun."
Wili keluar lebih dahulu dan menunggu Angell, wanita itu sangat kesusahan ketika gaunnya terlihat berat dan susah untuk berjalan di tengah bebatuan sekitar makam.
Wili tak mempu lagi menahan kemarahannya seakan-akan amarah yang selama ini ia pendam pecah saat itu juga.
"Kau sangat lambat Angell." desisnya tidak sabar.
Wili meraih lengan Angell dan seengah menyeretnya tidak perduli gaun itu robek karna terseret beberapa batu kerikil yang tajam. Angell menatap Wili dengan isakan sedih. ia benar-benar bingung dengan semua yang terjadi.
"Wili hentikan...kau menyakitiku." jerit Angell menghempaskan pegangan Wili yang membuat pria itu murka.
"Kau tersakiti...apa kau sedang bercanda...ini belum apa-apa Angell, karna kau akan merasakan yang lebih sakit dari saat ini..ayo cepat."
Wili menyeret Angell hingga Wanita itu tak berdaya..kekuatan Wili memang bukan tandingannya.
Sampai akhirnya di sebuah makam yang terawat, Wili menghentikan langkahnya dan menatap Angell. sesaat kemudian ia mendekati Angell...
"Paaaaaccchhhkkkkkkkkkkk"
Suara tamparan itu begitu keras hingga tubuh Angell terlempar dan jatuh di atas sebuah makam. Angell memejamkan matanya ketika rasa sakit itu menghantamnya dengan kuat....ada darah yang menetes di bibirnya yang pecah. Angell merasa pusing....namun menguatkan diri.
"Mengapa.." isak Angell dengan suara tercekat.
"Liat makam itu dan akuilah dosamu kepadanya, maka aku mungkin akan mengasihanimu Angell." ucap Wili dengan murka........
Angell menggenggam tananh makan dengan gemetar, aimatanya sudah membasahi makam itu. ia mengangkat wajahnya dan menatap nisan yang berukir sebuah nama
*GRACEFIA PEARL*
__ADS_1
Tubuh Angell membeku, rasanya ia kehilangan nafasnya....airmatanya sudah mengalir dari tadi di iringi rasa sakit yang menjalar di hatinya....
"Grace."? desahnya dengan rasa nyeri yang menyerangnya.