Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Pelampiasan


__ADS_3

Roni melangkah keluar gedung dengan tatapan marah jemarinya mengepal. hatinya hancur mengetahui kebenaran yang begitu menyakitinya, bagaimana bisa disaat dia ingin merebut Livia kembali namun disaat yang sama wanita itu hamil, bagaimana bisa.


Akan sulit baginya memisahkan mereka jika ikatan mereka semakin kuat dengan kehamilan itu, namun Roni juga tidak bisa membiarkan mereka bersatu. Rusell telah menyakiti Livia dan tidak pantas untuk ada disisih Livia.


Sampai di mobil ia melirik kepada Aleta yang menunduk ke arahnya.


"Bagaimana tuan, apakah semua baik-baik saj." tanya Aleta dengan cemas, tentu saja menyadari wajah marah tuan Roni tidak mungkin semua baik-baik saja.


"Kau ikut aku sekarang dan aku yang akan membawa mobil." ucap Roni kepada Aleta dan membiarkan supirnya pulang dengan mobil lain.


"Baiklah tuan Roni." ucap Aleta menudnukan wajahnya. dan mengikuti Roni dan duduk disamping pria itu.


Sepanjang perjalanan itu di lalui dengan keheningan yang mengerikan. Roni melajukan mobilnya dengan sangat kencang seprti melampiaskan kemarahannya. Aleta hanya memejamkan matanya merasa takut jika mereka akan mengalami kecelakaan jika terus seperti ini.

__ADS_1


"Tuuan..." jerit Aleta memberanikan diri untuk menegur tuan Roni dengan suara yang pelan.


"Apa kau takut." Roni tersenyum sambil menatap sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan rindang di hadapan mereka. Aleta hanya terdiam sambil menahan debaran jantungnya yang begitu cepat, yah dia sangat takut.


"Kau tau, sepanjang jalan ini yang aku lalui ketika bersama Livia dulu..dia sangat suka ketika aku berkendara dalam kecepatan tinggi, senyum Roni mengenang.. dia gadisku yang pemberani."ucap Roni dengan sakit hati.


Aleta hanya menundukan kepala dengan mata berkaca-kaca, pantaskah dia iri dengan wanita yang begitu dicintai oleh tuan Roni. bisakah dia berharap sedikit saja bisa dicintai oleh pria disampingnya.


Roni memberhentikan mobilnya ketika mereka melewati pinggir laut yang sepi. pria itu turun dari mobil diikuti Aleta. berdiri dari tebing yang tinggi dan menatap ombak yang memecah karang dengan suasana hati yang suram. Roni terdiam seolah menikmati sapuan ombak yang besar itu. kenangan masa lalunya bersama Livia yang begitu indah seakan mengaduk emosinya hingga tidak terbendung.


"Tuan Roni.. maafkan aku jika aku ikut campur, karna tuan mengajakku maka aku pikir tuan ingin berbagi sedih denganku dan aku sama sekali tidak keberatan." ucap Aleta menelan rasa sakitnya.


"Aku ingin bertanya padamu sebagai perempuan, apakah kau bisa saja jatuh cinta pada pria yang menyakitimu, dan melupakan perasaanmu pada kekasih yang justru sangat mencintaimu dan bahkan ingin kau kembali." tanya Roni dengan wajah seirus.

__ADS_1


"Akku rasa, kita bisa saja jatuh cinta dengan siapapun.. cinta tak bisa memilih..dia akan datang tiba-tiba tanpa diduga dan kau bahkan tidak sempat menhindar, jadi aku rasa..hal yang sama bisa terjadi pada perempuan yang tuan maksud tadi."


"Apakah itu tidak terlalu murahan."tatap Roni kesal.


"Aku tidak merasa begitu, cinta tidak mengenal akal dan logika..aaku.."


Roni begitu marah dengan jawaban Aleta, diraihnya tubuh gadis itu dan mendekatkan wajahnya hingga keduanya bertatapan.


"Jadi kau juga gadis seperti itu, bagaimana bisa kau tidak menjaga hatimu untuk kekasihmu dan dengan gampangnya menyerahkan cinta pada pria lain yang bahkan menyiksamu." geram Roni semakin menyudutkan Aleta


"Tuan..aku hanya."


" Diam." geram Roni seperti kehilangan akal.

__ADS_1


Diseretnya tubuh Aleta menuju mobilnya dan menutup pintu mobil dan menguncinya.


💞


__ADS_2