Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Melinda


__ADS_3

"Siapa kau." tatap Livia.


Wanita itu mengulurkan tangannya pada Livia. namun Livia hanya menatapnya tajam. wanita itu tersenyum.


"Aku Melinda, adikknya kak Mutia istri kak Rusell terdahulu."


Livia menghela nafas..entah mengapa ia melihat tatapan persaingan di mata wanita ini.


"Oke..senang bertemu denganmu Melinda." tatap Livia datar.


Rusell yang menyadari ada ketegangan di antara kedua wanita itu segera mendekati Livia. dan memeluk untuk menenangkan istrinya.ia pun tersenyum.


"Sayang, Melinda datang kesini untuk menjengukmu."


"Baiklah terimakasih Melinda."


"Tentu saja..aku sangat penasaran dengan wajah istri kakak iparku." tatap Melinda menaikan sudut bibirnya.


"Baiklah karna sekarang kau sudah menemuiku..aku sedikit lelah sekarang." ucap Livia melirik Rusell.


"Melindaa mungkin nanti kau bisa datang kembali untuk menjenguk istri kakak." ucap Rusell meminta pengertian.


"Tentu bisakah aku sering kemari atau aku bisa membantu kak Rusell untuk menyiapkan segala sesuatu dirumah." tawar Melinda tanpa malu.


Wajah Livia berubah memerah...


"Aku atau suamiku tidak memerlukan bantuanmu Melinda." tatap Livia tajam. Rusel yang ada disamping Livia hanya melonggarkan tenggorokan ia tak mampu membantah atau membatalkan kata-kata Livia karna takut istrinya akan kembali marah dan itu akan angat mengerikan.


ia hanya menatap Melinda dengan tatapan minta maaf.


Sedangkan Melinda terdiam. wanita 21 tahun itu,selama ini selalu merengek pada Rusell apapun mulai dari uang dan perhatian dan Rusell akan membantunya dan tidak pernah membatalkan sekalipun keinginannya karna wajahnya yang memang mirip dengan kakaknya Mutia itu sebabnya Rusell menuruti semua yang ia mau. ketika orangtuanya meninggal dan juga kak Mutia meninggal Melinda mulai dibiayai oleh Rusell, pria itu memberikan kenyamanan nomor satu kepadanya. ia bisa hidup berfoya-foya sesuai kehendakknya, dan ketika kak Rusell menikah dengan wanita ini juga tak ada yang berubah dengan kak Rusell, dia tetap bisa mengendalikan kaka iparnya untuk kebutuhannya. kak Rusell sangat tampan di usianya yang telah matang dan diam-diam Melinda menyimpan perasaan lebih kepadanya. dan berharap pria ini menceraikan istrinya dan menikahinya karna dia yang pantas. wajahnya mirip dengan kak Mutia dan cantik di usia mudanya. namun apa yang ia liat sekarang adalah kenyataan yang paling menyakitinya,wanita ini telah mendapatkan hati kak Rusell, buktinya kak Rusell terus menatapnya penuh cinta dan bersikap penurut padanya. jemari Melinda mengepal tidak terima. Angell adalah keponakannya lebih baik dia yang menjadi ibu bagi Angel.


"Dimana Angell, aku ingin bertemu." ucap Melinda mulai kesal.


"Dia sedang bersama adikku Marsya." tatap Rusell datar.


"Kakak kapan aku bisa bertemu dengannya." ucap Melinda dengan suara merdu yang dibuat-buat.


"Jika Marsya sudah pulang dari luar negri kakak akan menghubungimu dan bertemu kau Melinda."ucap Rusell pelan.


"Baiklah kaka, Melinda tersenyum melirik Livia yang sudah jengkel..aku rasa Angell juga merindukanku aku kan adikk kandung dari kak Mutia." desis Melinda ke arah Livia dengan tatapan menang.

__ADS_1


"Jangan lupa kalau aku juga adalah ibu dari Angell, karna aku merawatnya dari dia berusia 40 hari." Livia menaikan kedua alisnya.


Melinda kehilangan kata-katanya begitu malu karna ia tak mampu menjawab kata-kata Livia, dan menyesal karna dulu tidak pernah menengok Angel sekalipun dan lebih memilih bersenang-senang. Angel juga pasti tidak akan mengenalinya lagi.


Melinda menatap ke arah Rusell dan tersenyum, ia lupa kalau kedatangannya kali ini untuk meminta tambahan uanga karna jatah bulanannya sudah habis.


"Kak Rusell,bisakah aku berbicara berdua bersamamu saja." tatap Melinda penuh harap.


Rusell sudah tau dengan kebiasaan Melinda gadis ini kekurangan uang untukk berbelanja karna itu dia datang. Rusell mengangguk dan hendak melangkah keluar namun suara Livia menghentikan jalannya.


"Tunggu."


"Sayang, aku hanya sebentar."


"Aku ingin tau apa yang kalian bicarakan, dan aku tidak suka suamiku menyembunyikan sesuatu dibelakangku."


Rusell menggeleng mendekati Livia.


"Tentu saja aku tidak membohongimu."


"Kalau begitu katakan saja disini." tantang Livia sambil bersedekap ke arah Melinda dan Rusell.


"Lalu..berapa jumlah yang kau berikan kepadanya." tanya Livia.


Melinda memejamkan matanya dengan rasa marah, ia terlihat seperti sedang mengemis pada wanita ini.


Rusell berpikir sebentar...


"Sekitar 1 M ." ucapnya datar.


"Apa....kau mau merampok ya." jerit Livia sungguh tidak terima.


"Kebutuhannku banyakk..lagipula kak Rusell adalah kakaku juga jadi aku berhak meminta padanya."ucap Melinda dengan nada tinggi.


"Kau sudah gila ya Melinda, jangan lupa kalau dia adalah suamiku sekarang dan aku..tidak akan membiarkan kau memerasnya."


"Aku tidak memerasnya, itu semua adalah kebutuhannku aku sudah menghemat semuanya."


Livia memijit dahinya, iapun menatap Rusell..


"Bisakah aku mendapatkan rincian biaya dari kampusnya.. sungguh..ini semua tidak masuk akal bagiku.'

__ADS_1


"Sayang, biarkan saja..toh..aku punya uang dan..."


"Kau mau membantah kata-kataku Rusell, astaga aku tidak percaya dengan semua ini..pergilah dari ruanganku sekarang juga." jerit Livia begitu marah.


"Sayang..aku mohon..."Rusell mendekati Livia namun seketika ia mendapatkan tatapan tajam.


"Baiklah..aku menurut padamu Livia." ucap Rusell mengusap wajahnya.


Iapun mendekati Melinda dengan tatapan minta maaf..


"Kakak akan melakukan semua pemintaan kak Livia dan mungkin kak Livia benar kau terlalu boros dan itu tdiak baik untukkmu Melinda.'


Melinda menggertakan giginya manatap Livia yang juga sedang menatapnya tajam. wanita ini...semua karna dirinya Melinda sampai kehilangan semua fasilitas. dia tidak akan tinggal diam.dia akan mencari cara agar menyingkirkan Livia. untuk sekarang dia harus mengalah dulu..tidak mungkin membantah dihadapan kak Rusell.


"Baiklah..aku menurut saja, aku minta maaf kak Livia."


"Tentu saja, kau sudah dewasa dan belajarlah sesuai dengan umurmu, tidak selamanya kau berada di atas.


Melinda mengangguk dengan senyuman terpaksa...


"Aku harus pergi sekarang."


"Hati-hati Melinda." tatap Livia sambil melambaikan tangannya.


Rusell menatap kepergian Melinda dengan iba dan melirik Livia yang menatap dengan puas. dan mendekatinya.


"Kau jahat sekali sayang."


"Aku tidak masalah dengan besarnya juml;ah uang yang kau beri Rusell."


"Lalu."


"Aku benci sikap angkuh dan tidak hormatnya, itu semua karna kau selalu menuruti semua permintaanya."


Rusell memeluk tubuh Livia dan mengecup bibir Livia dengan singkat.


"Kau sudah berpikir secara dewasa sayang..aku bangga.'


"Tentu saja, aku akan menjadi ibu dari dua orang anak, dan aku tidak ingin kedua anakku bersikap arogan dan angkuh karna mereka punya segalanya..aku ingin mereka bisa menghargai orang lain tanpa memandang uang."


"Aku semakin mencintaimu sayangku." bisik Rusell semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2