Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Menangkapmu


__ADS_3

Tari keluar dari kamarnya, langsung menuju lift untuk sampai di lantai bawah. pintu lift terbuka dan Tari melangkah keluar...ia menatap mama Livia yang sedang sarapan, ia mendekati wanita yang masih terlihat cantik itu dan memeluknya...


"Selamat pagi mama."


Livia menoleh dan tersenyum..


"Selamat pagi putri bungsuku...ayo sarapan nak."


"Iya mah.." balas Tari mengambil tempat duduk di sebelah Livia dan mulai sarapan..


"Sepi Mah...dimana kakak dan papa."? tanya Tari melirik sekitarnya.


Livia hanya tersenyum..


"Papa lagi kurang sehat dikamar, sedang kakakmu ada di halaman belakang."ucap Livia sedih..


"Papa sakit."? ulang Tari dengan wajah sedih...


"Papa kelelahan bekerja sayang, kemarin juga kehujanan jadi papa sedikit flu."


"Aku akan membuat teh jahe untuk papa." Tari melompat menuju dapur dan tenggelam disana, ia meracik teh untuk Rusell yang sedang sakit..


Livia hanya tersenyum bahagia, kehadiran Tari sungguh melengkapi kebahagiaan mereka. Tari anak yang perasa dan perhatian, ia dan Ruzell sangat menyayangi Tari.


Tari sudah selesai membuat teh....


"Mama..aku ke atas dulu, nanti sore aku akan menginap dirumah teman jadi aku akan menyapa papa sekaligus meminta ijin."


"Baiklah nak.." Livia hanya mengangguk.


⚘⚘


Pintu kamar Rusell diketuk dan sesaat kemudian Tari membuka pintu ia menatap sang papa yang sedang membuka ponsel.


"Papa.."


"Anakku...kemarilah." ucap Rusell dengan ramah.


Tari mendekati Rusell dan duduk di pinggir ranjang..


"Papa selalu sibuk, setidaknya simpan ponsel dulu kan masih sakit."


"Kau seperti mama saja..baiklah papa akan menyimpannya." Rusell menyerah dan meletakan ponsel di samping ranjang.


"Minum dulu papa, teh jahe yang akan membuat papa hangat." ucap Tari tersenyum.


"Wah....ini enak sekali."


Rusell mulai meminumnya perlahan...


"Ehm...papa, aku ingin minta ijin."


"Kemana."? tanya Rusell.


"Aku dan Rara akan mengadakan sebuah pameran bunga, jadi aku dan Rara akan membahas di rumahnya malam ini."

__ADS_1


Rusell mengangguk...


"Ini pertama kalinya kau menginap di luar sayang, papa mau kau berhati-hati." ucap Rusell yang merasa tidak enak sedari tadi.


"Aku akan baik-baik saja papa." bisik Tari berjanji.


"Bagus."


"Terimakasih papa..boleh aku memelukmu."


Rusell mengangguk dan membuka tangannya lebar-lebar...Tari melompat ke pelukan papa Rusell dan mendekapnya erat.


"Papa menyayangimu nak.."


"Aku juga menyayangi papa." ucap Tari memejamkan matanya senang.


💗💗


"Kau mau kemana Tari." tanya Angell dan Zefanya yang sedang bersantai di taman, mereka mengerutkan dahi ketika melihat Tari membawa tas berukuran sedikit lebih besar...


Tari tersenyum...


"Aku akan meminta ijin pada kakak-kakakku ini aku akan menginap di rumah Rara."


"Mengapa kau menginap dirumahnya." tanya Angell penasaran.


"Kami akan membahas pameran." ucap Tari duduk di hadapan Angell dan Zefanya.


"Tari...situasinya tidak aman saat ini, mungkin saja Wilard sedang mengincarmu setelah kau menembaknya, lebih baik Rara yang menginap disini Tari." ucap Angell khawatir.


"Rara masih malu kakak...mungkin lain kali...soal Wilard, dia mengincarku untuk apa..lagipula kak Alex sudah mengancamnya."


"Kau harus hati-hati sayang." ucap Zefanya juga cemas entah mengapa. sejak semalam ia tidak bisa tidur dan merasa gelisah.


"Aku akan baik-baik saja dan besok pagi...aku akan pulang dengan selamat."


"Baiklah hati-hati sayang." ucap Zefanya dan Angell.


Tari mengangguk lalu memeluk kedua kakaknya..ia melangkah menuju mobil dan terkejut melihat mama Livia membawa kotak kue.


"Mama.."


"Mama membuat cake dan puding kesukaanmu nak, makanlah bersama Rara."


"Mama...aku mencintaimu." Tari kembali menenggelamkan tubuhnya di pelukan Mama Livia.


"Hati-hati disana dan cepatlah pulang."


"Siap mama."


"Biarkan supir mengantarmu."


"Tidak Ma..ini masih sore aku akan menyetir sendiri."


"Baiklah kalau begitu kalau sudah sampai telp mama yah."

__ADS_1


"Iya Ma."


Dengan membawa kota kue di dalam tasnya Tari masuk ke dalam mobil dan mulai melaju pelan meninggalkan mansion keluarga Rusell, sambil melambaikan tangannya.


Jalanan yang sepi membuat Tari dengan leluasa menguasai jalan. sambil menyetel lagu kesukaannya, Angell bersenandung kecil.


Tanpa sadar ia telah melewati sebuah jalan perangkap yang telah di atur untuk menjebaknya. Tari sama sekali tidak menyadari jika seseorang sedang menunggunya di ujung lorong..


"Rumah Rara mengapa jauh sekali sih." bisik Tari sendiri.


Mobil memasuki jembatan dan sebuah lorong gelap, lampu mobil di nyalakan namun Tari tiba-tiba menghentikan laju mobilnya dengan ekspresi terkejut...ia menatap beberapa mobil berwarna hitam tengah menghadang jalannya. wajah Tari memucat......


ketika dengan mudah ia bisa mengenali wajah dingin itu.....ia gemetar...


"Wilard...." desahnya dengan rasa terkejut yang begitu besar ia rasakan....


Pria itu tampak tenang dan menyadarkan tubuhnya di mobil mewahnya dengan angkuh. sementara beberapa anak buahnya berjalan mendekati mobilnya.


Tari memejamkan matanya, apakah dia akan mati disini...yah..dia pasti mati. batin Tari dengan mata berkaca-kaca..


Pintu mobilnya kemudian di ketuk dengan keras namun Tari lebih dahulu menguncinya...tidak ia tidak bisa mati seperti ini. paling tidak ia harus menggunakan akalnya...


Para pria berwajah batu itu terus berusaha membuka pintu mobilnya namun gagal, hingga pria bernama Wilard itu terlihat kehilangan kesabaran.


Wilard melangkah mendekati mobil Tari dan mengeluarkan pistol, hingga Tari merasa ngilu...sesaat kemudian ia berhasil menembak..


Dorrr....dorrrr...dorrrr.......


Tiga kali tembakan dan pintu itu terbuka dengan pasrah.....keduanya saling menatap tajam, Wilard menaikan sudut bibirnya. ia menunduk dan meraih Jaket Tari dan dengan mudah menarik gadis itu keluar..


"Lepaskan aku....kau...akan mendapat kemarahan dari kakakku..lepas." jerit Tari meronta namun Wilard tidak sedikitpun terganggu dengan teriakan kerasnya tubuhnya yang kecil dengan mudah dikuasai oleh Wilard.


"Lepas..tolong, seorang pria tua menculikku tolong...." jerit Tari histeris..


Kali ini Wilard menoleh tajam dengan kasar ia mendorong tubuh Tari hingga gadis itu membentur mobil...Tari membalikan tubuhnya mengepalkan tangannya ketika pria itu mendekat...


Wilard tersenyum kejam....


"Sayangnya kau harus menghabiskan sisa hidupmu bersama dengan pria tua ini, sampai aku memutuskan membunuhmu."


"Apa.."? teriak Tari dengan ekspresi terkejut...pria ini sudah gila, tidak akan pernah dia sudi bersama pria tua yang mengerikan ini tidak akan......


Wilard menatap anak buahnya, sorang pria berbadan tegap itu menunduk hormat...


"Tuan Wilard."


"Lakukan itu sekarang."


"Baik tuan Wilard."


Wilard menaikan sudut bibirnya lalu membalikan tubuhnya dan menatap Tari yang masih berdiri dengan bingung...


"Kau mau apakan mobilku..."


Tari melompat mencoba berlari ke arah mobilnya namun seketika ia membeku, tubuhnya melayang dan berada di pelukan posesif Wilard...

__ADS_1


Keduanya saling menatap...


"Kau adalah milikku sekarang Tari Arneta." ucap Wilard dengan seringai yang tajam.


__ADS_2