
Rusell menatap ke arah pintu ruangan operasi yang masih tertutup rapat dengan rasa gelisah luar biasa yang membayanginya, bagimana Livia apakah dia akan selamat, lalu bagaimana dengan bayi dalam kandungan Livia yang masih sangat kecil apakah dia akan bertahan..bisakah Rusell berharap dan meminta pada sang pemilik kehidupan agar menyelamatkan keduanya. apakah dia tidak terlalu serakah.?
Erik mendekati Rusel dan menunduk dengan hormat. pria itu hanya melirik sepintas lalu memalingkan wajahnya.
"Sebaikknya kau memberikan kabar yang penting Erik, kau benar-benar menggangguku." ucap Rusell dingin.
"Tuan aku datang membawa kabar yang sangat penting mengenai tuan Roni."
Rusell mengangkat wajahnya....
"Katakan Erik, apa yang terjadi kepadanya."
"Tuan Roni, dia sudah sadar."
Rusell memejamkan matanya... mengapa pria itu sadar di saat yang tidak tepat. akan sulit bagi Rusell saat ini harus memikirkan cara agar pria itu tidak jadi pengganggu antara ia dan Livia.
"Tetap awasi seluruh pergerakannya Erik, karna aku masih berkonsentrasi dengan Livia..aku tidak bisa memikirkan hal lain selain istri dan juga anakku." ucap Rusell dengan tegas.
"Baik tuan Rusell, akan kulaporkan semua pada tuan."
Erikk meninggalkan Rusell sendirian. masih di tempat yang sama pria itu kembali tertunduk dengan penyesalan yang masih sama, penantian yang sama dan kerinduan yang sama. hanya beberapa jam saja tidak melihat senyum Livia, Rusell seakan kehilangan gairah hidup.
Waktu yang berlalu seakan membunuhnya dengan kejam. Rusell tidak terbiasa menunggu waktu, karna waktulah yang harus menunggunya. tapi apa yang ia rasakan sekarang..bahkan dengan seluruh kekuasaan dan kekuatan yang ia punya tak mampu menyembuhkan Livia dengan segera seperti keinginannya.
Oh...Livia, mengapa semua begitu berat, mengapa penyesalan selalu datang terlambat sebagai pengingat yang menyakitkan..seandainya saja dia bisa sedikit sabar seandainya..
Pintu ruangan Operasi terbuka dengan lebar seiring mata Rusell yang menajam bagai elang. pria itu berdiri dan dengan langkah cepat menghampiri beberapa dokter yang tampak keluar dari sana dengan wajah lelahnya. mereka tampak saling berbisik mungkin tentang kesehatan Livia, Rusell mendekat hingga salah satu dokter mmenghampirinya dengan sebuah senyuman yang tidak mampu dibaca oleh Rusell.
"Tuan Rusell."
"Bagaimana istriku dokter."
"Syukurlah istri anda selamat tuan Rusell, tapi untukk beberapa jam kemudian jangan mengganggunya dahulu, biarkan pasien beristirahat untuk memulihkan tubuhnya."
"Bagaimana dengan anakku."?
"Peluru itu tidak sampai mengenai rahim istri anda jadi..bayinya baik-baik saja." ucap dokter sambil tersenyum.
__ADS_1
Rusell menyandarkan tubuhnya dengan kelegaan luar biasa yang menghampirinya. waktu yang membunuhnya sejak 3 jam lalu akirnya menyerah dan merelakannya dirinya sebagai pemenang. pria itu tersenyum dengan penuh kemenangan seraya mengangguk ke arah dokter dengan ucapan terimakasih.
"Aku tidak akan melupakan semua yang telah kau lakukan bagi istriku dokter, terimakasih." ucap Rusell tulus.
"Itu sudah menjadi kewajibanku tuan Rusell." ucapnya dengan senang membayangkan hadiah yang akan dia terima dari seorang tuan besar yang paling berpengaruh didunia bisnis ini."
Rusel kembali menatap ruang operasi dengan hati berbunga-bunga. meski saat ini Livia belum sadar namun ia bisa tenang karna Livia baik-baik saja dan selamat. bahkan bayinya juga selamatt, entahlah rasanya Rusell tidak mengharapkan apa-apa lagi selain hidup dengan tenang dan bahagia bersama Livia.
........
Ruangan VVIP itu begitu hening, alat-alat penunjang kehidupan masih terpasang di tubuh Livia untuk menstabilkan kondisinya. Rusell duduk di samping ranjang dengan begitu perhatian seolah ia tak ingin sedikitpun jauh dari Livia. jemarinya menggenggam jemari Livia untuk mendapat kekuatan. yah..sungguh ironis bagi seorang Rusell ia merasa dengan kesadaran Livia adalah kekuatan bagi Rusell saat ini.
"Sayang..terimakasih sudah kembali, aku ingin kau tau jika aku sangat bahagia, seperti janjiku..aku akan menyerahkan sepenuhnya hidupku hanya untukmu." Rusell menggenggam jemari Livia sedikit erat dari biasanya. untuk meluapkan semua rasa cintanya yang baru ia sadari ketika Livia terbaring dengan kondisi mengenaskan.
........
Disebuah kamar rawat inap yang lain, seorang pria membuka matanya. ingatannya langsung membentuk sempurna ketika Rusell Wins menembaknya dihadapan Livia tanpa sedikitpun rasa takut. matanya memanas seiring rasa dendamnya yang membara. ia tak akan pernah mengalah demi apapun, apalagi menyerah atas cintanya pada Livia. tidak.. ia tak akan pernah rela sampai kapanpun. dari awal Livia adalah milikknya dan selamanya akan tetap menjadi milikknya.
Roni mengepalkan tangannya dengan kuat, ia akan bertekat sembuh lebih cepat dari biasanya dan tentu saja mengumpulkan kekuatan untuk merebut kembali Livia dari seorang Rusell. ia akan menghancurkan Rusell dengan segera.
"Siapa namamu."
"Aleta."
"Apakah kau orang suruhan pria diluar untuk mengawasiku."? tatap Roni waspada.
Gadis itu menatap wajah Roni dengan datar.
"Tugas saya disini sebagai seorang perawat dan saya memang merawat anda tuan Roni." ucap Aleta menundukan kepala.
Wajah Roni memerah diraihnya lengan gadis itu hingga terjatuh dalam cengkraman tangannya, Roni menggertakan giginya.
"Aku tidak akan pernah percaya dengan kata-katamu Aleta atau siapapun kau..aku akan menghancurkan orang yang sudah mengirimmu untuk mengawasiku."
Aleta meringis menahan nyeri di lengannya. betapa lelaki ini dikuasai dendam.
"Lepaskan aku tuan." jerit Aleta meronta melepaskan diri.
__ADS_1
Gadis itu meneteskan airmatanya dan menatap Roni dengan tatapan kesal.
"Apa kesalahanku..mengapa kau malah menyakitiku." isakknya sedih.
Roni memejamkan matanya..apakah dia telah salah menilai.
"Yah..aku memang dibayar untuk merawatmu." tatap Aleta dingin.
Roni melirik tajam...
"Aku dibayar untuk merawatmu karna aku bekerja disini, aku tak tau apa yang menimpamu, tapi mengapa kau melampiaskan semuanya kepadaku." ucap Aleta sekain menangis.
Roni terdiam, sebelah tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.
dalam hatinya merasa sedikit bersalah karna melampiaskan kemarahannya pada gadis yang bahkan tidak ia kenal.
"Aleta..aku minta maaf, tidak seharusnya aku melampiaskan kemarahanku padamu."
Aleta menghapus airmatanya sendiri lalu menundukan kepala.
"Aku juga minta maaf tuan, tidak seharusnnya aku membentakmu."
Roni tersenyum....
"Kau boleh melanjutkan tugasmu Aleta."
Aleta menatap Roni dengan segan lalu kembali menundukan kepala hingga pria itu mengertkan dahi.
"Ada apa lagi, mengapa kau menundukan kepala."
"Aku hanya gadis biasa, aku tidak ingin mencari masalah..aku..hanya butuh uang untuk hidupku, jadi aku mohon jangan laporkan pada atasannku jika aku membentak anda saat ini..aku mohon." ucap Aleta sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Roni terdiam sambil menatap Aleta dengan begitu dalam...
"Baiklah aku tidak akan melaporkanmu pada atasan..tapi ada satu syarat." ucap Roni penuh arti..
"Hah...." desis Aleta bingung.
__ADS_1