Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Jadi aku sebentar saja Livia


__ADS_3

"Sebenarnya aku...."


"Katakan ada apa, sebenarnya aku telah berhasil melakukan semua yang kau mau Roni." tatap Melinda dengan tajam, ini adalah kesempatan baginya melimpahkan semua kesalahan pada Roni sekaligus cuci tangan baginya. dia akan berakting jika Roni yang menyuruhnya...


"Kau telah berhasil menjebakknya bukan." Roni menjadi tidak sabar lalu meraih lengan Melinda dengan kuat hingga mereka saling menatap tajam.


"Tentu saja..aku melakukan semua perintahmu tuan Roni."


"Apa maksudmu perintahku saja." tatap Roni tajam.


"Yah..aku tau jika kau sangat menginginkan perpisahan terjadi pada kak Rusell dan Livia bukan..dan aku telah melakukan untukmu dan aku berhasil." senyum Melinda sinis.


"Lalu dimana Rusell mengapa kau keluar dari sana sendirian."


"Kau mencariku yah...."Rusell turun dari anak tangga, tidak sendiri membawa Livia bersamanya. wajah Roni mendai pucat. apa yang sebenarnya terjadi saat ini apakah Melinda ikut menjebaknya. pandangan Roni turun pada Melinda yang tersenyum seolah menikmati semua penderitaannya. jemari Roni mengepal dengan sangat kuat, beraninya Melinda menjebakknya dan mempermainkan dirinya. sekaranga apa yang harus dilakukannya. dia sudah tertangkap basah dan tak mampu melepaskan diri.


Livia kehilangan kata-kata melihat ekspresi Roni yang tidak terbaca. mengapa Roni mampu melakukan itu kepadanya. mengapa Roni tega ingin menghancurkan rumah tangganya padahal dia tau Livia sedang hamil sekarang.


"Aku tidak membunuhmu sekarang karna aku..memandang Livia istriku. tapi jika kau mengulaginya Roni maka aku tidak akan menahan diriku lagi." ucap Rusell dengan tatapan tajam yang menyala-nyala.


Roni hanya mampu terdiam, matanya tertuju pada Livia yang memandangnya dengan sakit hati. tidak.. ia tidak bisa melihat Livia membencinya. ia mampu menahan semua hukuman kecuali kebencian Livia.


"Aku minta maaf Rusell aku...."


Rusell tersenyum dengan kesal. ia mendekati Roni yang memandangnya dengan tajam.


"Maaf setelah rencanamu gagal bukan."


"Apa maksudmu Rusell."


"Yah..bagaimana jika rencanamu dan Melinda berhasil, kau tau apa akibatnya...."


Roni melonggarkan tenggorokannya ia terlalu dibutakan dendam juga sakit hati yang mengakar karna itu ia tidak memikirkan apapun selain Livia.


"Rusell...aku meminta maaf untuk itu, aku benar-benar tidak berpikir tentang semuanya dengan benar..yah, aku memang ingin menghancurkanmu dan bukan Livia." ucap Roni tajam.

__ADS_1


"Taukah kau, jika kau menghancurkan aku sama saja dengan kau menghancurkan Livia..karna kami adalah suami istri." ucap Rusell dengan geram.


"Karna itu aku meminta maaf pada kalian berdua, aku....akan pergi dari kota ini selamanya puas."?tatap Roni menyerah.


Rusell sungguh tak mampu menahan dirinya lagi ingin sekali ia menghajar lelaki ini. kalau saja Livia memintanya untuk tidak menyakiti Roni sedikitpun..


Roni membalikan tubuhnya dengan mata yang basah. ia benar-benar sadar sekarang bahwa ia telah kehilangan Livia. kehilangan cinta yang pernah sama-sama mereka rasakan sedari remaja hingga usia Livia 20 tahun lalu dia kehilangannya. namun....Roni baru menyadari jika dia tidak punya kesempatan lagi, dia telah kehilangan Livia untuk selamanya. dan tidak akan ada harapan lagi untukknya.


Roni melangkah sampai di pintu ketika suara Livia menghentikan langkahnya.


"Mengapa...."tatap Livia mendekati Roni sampai keduanya berhadapan dan saling mentap.


"Livia...."


"Kau tau aku sedang hamil bukan." ucap Livia dengan airmata menetes.


"Livia....aku hanya...."


"Apa kau masih dendam karna aku meninggalkanmu dan menikah dengan Rusell kau sangat membenciku hingga kau ingin menghancurkanku seperti aku menghancurkanmu begitu."


"Mengapa kau tidak menyerah saja." jerit Livia sakit hati.


"Pernahkah sedetikpun saja Livia kau memikirkan perasaanku saja." ucap Roni dengan mata yang basah.


Livia terdiam menatap wajah Roni yang sungguh tersiksa. apakah dia telah salah bicara, apakah itu artinya Roni juga menderita seperti dirinya.


"Kau tidak tau karna aku yakin kau juga sedang menderita pada awallnya, aku sangat mencintaimu...bukan hanya itu..kau adalah duniaku, kau adalah satu-satunya wanita yang ada di hidupku..aku menjagamu dengan segenap nyawaku....kau pikir mudah bagitu menyerah."? airmata Roni akhirnya mengalir begitu menyesakan dadanya ketika Livia menuduhnya...


"Maafkan aku Roni, aku benar-benar minta maaf karna aku kau terluka sedalam ini" ucap Livia dengan isakan pelan....


"Aku juga minta maaf....kalau aku hampir saja memhuat kesalahan besar kepadamu dan anak kalian." Roni menatap ke arah Rusell yang menatap mereka berdua dengan tatapan penuh arti. yah...Rusell juga merasa sedikit menyesal karna semua berawal darinya yang menahan Livia secara posesif.


"Kau benar-benar memaafkan aku." ucap Livia menatap Roni dengan penuh tangis.


"Tentu saja, kau...menjadi wanita yang paling istimewa untukku....selamanya."

__ADS_1


"Terimakasih Roni."


Roni mengangguk pelan lalu menatap Rusell yang juga menatapnya dengan senyuman.


"Apakah aku boleh memeluk istrimu untuk yang terakhir tuan Rusell....aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada Livia Morens." tatap Roni yang merasa kebih lega dari sebelumnya..


"Tentu saja, asal jangan lama-lama" canda Rusell menaikan alisnya.


Ketiganya tertawa......


Roni memegang kedua bahu Livia dan tersenyum...memandang wanitanya yang sebentar lagi menjadi Ibu. Livia tetaplah wanita istimewa dihatinya.


"Berbahagialah Livia...aku mengiklaskanmu bersama pria yang kau cintai, aku....akan selalu mencintaimu seumur hidupku, namun dalam posisi yang berbeda. aku akan menjadi seorang kakak untukkmu."


Airmata Livia mengalir deras..dan menganggukan kepalanya dengan isakan sedih ia sedih karna Roni tersakiti, dan ia bahagia karna Roni mau memaafkannya apalagi mau menjadi kakak baginya.


Roni meraih tubuh Livia untukk memeluknya dengan erat membiarkan mereka saling melepaskan perasaan masing-masing, Roni berjanji walau itu sangat sulit untuknya namun dia akan merelakan Livia sungguh-sungguh menyerahkan wanita yang teramat dicintainya pada suaminya Rusell.


"Berbahagialah..ingat jika dia menyakitimu, aku akan menghajarnya."


"Aku akan mengadu padamu." ucap Livia tersenyum...


"Itu tidak akan pernah terjadi Roni, dia tak akan pernah mengadu kepadamu karna aku tidak bisa menyakitinya."ucap Rusell dengan bangga yang langsung disambut anggukan kepala oleh Roni


Rusell mendekati keduanya yang telah melepaskan pelukan. ia menatap Roni dengan dalam.


"Aku minta maaf..atas segalanya Roni."


Roni menatap Rusell dengan senyuman yang tulus..menyambut tangan pria itu ketika dia mengulurkan tangan. dan mereka berpelukan sesaat melepaskan semua dendam dan amarah selama ini yang begitu mengakar di antara keduanya.


"Jaga Livia untukku Rusell, tolong jangan menyakitinya."


"Aku berjanji padamu." ucap Rusell tersenyum seraya memeluk punggung Livia dengan posesif.


Semua terlalu larut dalam keharuan sehingga melupakan Melinda yang sudah melarikan diri. dengan menumpang sebuah taxi Melinda menatap ke arah rumah besar dan mengepalkan tangannya. lalu dengan cepat taxi itu membawa pergi dirinya dengan sejuta dendam. pengaruh Livia pada kedua pria itu sangat kuat hingga Melinda tak punya tempat lagi untuk berlindung....

__ADS_1


"Aku akan membalasmu Livia.............."


__ADS_2