
Didalam sebuah mobil duduk dalam diam pasangan yang telah melakukan sesuatu yang panas itu. hari sudah malam, jalanan yang sepi membuat keduanya engan beranjak.
Aleta sudah memakai pakaiannya kembali walau masih menahan perih dibagian tubuhnya.ia menatap kegelapan yang terasa sama dengan hidupnya sekarang..
"Aleta." ucap Roni dengan suaranya yang berat. berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar pria itu hanya mampu menyesali perbuatannya, kini bukankah dirinya sama saja dengan Livia, mereka telah sama-sama menghianati cinta suci mereka.
"Ya tuan." ucap Aleta dengan sikap patuh dan penuh hormat seperti sebelumnya.
"Tentang apa yang terjadi antara kita..aku minta maaf." ucap Roni begitu menyseal entah apa yang merasukinya hingga mampu melakukan hal diluar kendalinya.
Aleta mengangguk dengan berat.... walau apa yang ia katakan tidak sesuai dengan hatinya.
"Ya tuan."
"Aku tidak bisa memberikan hatiku dan pernikahan padamu Aleta maaf, kau tau jika aku masih mengharapkan mantan tunanganku Livia...aku mencintainya" suara Roni terdengar berat namun tampak yakin apalagi soal cintanya pada Livia.
Aleta menggigit bibirnya dengan gemetar mengusik rasa sakit yang menyerangnya bertubi-tubi. yah..lagipula apa yang dia harapakan dari pria kaya raya ini. tidur bersama bukanlah alasan seseorang harus dinikahi. apalagi dengan kekuasaan tuan Roni, dia bisa mendapatkan perempuan manapun dengan mudah. dan pada apa yang terjadi padanya saat ini karna tuan Roni dalam keadaan yang hancur, bahkan Aleta masih mencium aroma alkohol yang begitu kuat dari pria ini.
"Aku mengerti tuan Roni, dan aku juga tidak meminta anda bertanggung jawab." ucap Aleta memasang wajah datarnya seolah dia baik-baik saja seolah dia seorang boneka tak bernyawa yang telah di setel untuk terus bersikap sama disegala keadaan. tuan Roni sudah sangat berjasa untukknya menolong keluarganya dari utang yang menumpuk lalu membiayai operasi adikknya di luar negri. karna Aleta yatim piatu dia tidak khawatir apapun, baginya melayani tuan Roni adalah kehormatan untukknya, yah..hatinya tidak di ijinkan untuk mencintai.
"Kau mengerti dan tidak akan menuntut apapun dariku." senyum Roni menebar diwajahnya penuh kelegaan. ia mantap Aleta yang tampak datar dan masih sedikit memperlihatkan senyuman, meski Roni tau ini percintaan pertama baginya. dan itu pasti sangat tidak nyaman.
"Ya tuan, aku tidak akan menuntut apa-apa, aku baik-baik saja tuan Roni."
"Baguslah...aku senang kau bisa mengerti aku, dan kau harus membantuku untuk merebut Livia kembali." tatap Roni dengan sinar mata yang menyala-nyala.
"Aku akan selalu melayanimu tuan Roni dan akan membantu tuan apapun itu." ucap Aleta menunduk.
"Sekarang kita pulang." ucap Roni.
"Baik tuan." ucap Aleta kembali duduk dalam posisi tegak menahan semua rasa sakit yang menghantamnya dengan kuat.
......****.......
__ADS_1
"Kau belum menjawab pertanyaanku sedari tadi Livia."
Rusell semakin mempererat pelukannya dengan senyuman penuh keinginan.
Livia menatap Rusell yang tengah menanti jawaban darinya.
"Aku memaafkanmu sayang, aku..akan menerimamu sebagai suamiku." tatap Livia seraya membelai wajah suaminya dengan penuh perhatian.
"Katakan jika ini bukanlah mimpi bagiku." tatap Rusell menaikan kedua alisnya.
"Ini kenyataan."
"Apa kau benar-benar sudah memaafkanku." ulang Rusell masih tidak percaya.
"Yh..aku benar-benar memaafkanmu karna aku yakin sekarang kau priaku yang sangat baik."
"Baik."?
"Berjanjilah demi aku, Angel dan anakkmu yang masih ada didalam perutku Rusell, bahwa kau tidak akan pernah membunuh lagi, kau tidak akan pernah mengangkat senjatamu untuk berkelahi." ucap Livia dengan tajam.
Rusell tertegun mendengar permintaan Livia yang sederhana namun menggetarkan hatinya. pria itu menatap Livia dan mengangguk.
"Aku akan mengikuti semua yang kau katakan sayang..kau tau apa yang kujanjikan ketika kau sedang terbaring dan berjuang di ruang operasi."? ucap Rusell sambil mengusap perut Livia dengan sayang.
"Kau menjanjikan apa." lirik Livia penasaran.
"Aku menjanjikan jika kau terbangun dan selamat, maka aku akan menyerahkan hidupku kepadamu."
"Apa...mengapa menjanjikan itu Rusell."? ucap Livia tidak mengerti.
"Ketika kau terbaring tidak berdaya, aku seperti kehilangan separuh jiwa..dan itu adalah kali pertama aku merasakan hal seperti itu, bahkan perasaan itu tidak pernah kurasakan ketika bersama Mutia dulu. ucap Rusell mengenang..aku sangat takut kehilanganmu dan..rasanya benar-benar menyeramkan ketika menunggu di pintu ruang operasi."
Livia merasa matanya panas, tentu saja ia bahagia mendengar semua kata-kata Rusell, memang awal pertemuan mereka begitu dramatis, yang berujung pada sebuah kebencian. namun jika memang Rusell adalah jodoh yang sesungguhnya maka Livia akan menerima dengan hati yang terbuka ada kedua anak mereka yang harus dibesarkan dengan penuh cinta. dan Livia sudah memutuskan akan menyerahkan semua rasa cinta dan kepercayaan untuk Rusell Wins yang adalah suaminya.
__ADS_1
Livia menghambur dipelukan Rusell dan memeluk dengan begitu erat, ia sudah memutuskan mengampuni suaminya..atas penculikan, atas pemaksaan yang harus terjadi atas kehidupannya. Livia sadar jika tak ada gunanya mengutuk atau tetap membenci karna pada akhirnya dia juga akan terluka.
"Aku mencintaimu Livia Wins dengan segenap hatiku." ucap Rusell disela-sela menghirup aroma tubuh Livia yang sangat ia rindukan selama ini.
"Aku juga mencintaimu Rusell Wins, suamiku." ucap Livia dengan airmata yang menetes diwajahnya.
"Aku akan membahagiakanmu sayang, aku berjanji..kau tidak akan menangis lagi."
"Tentu saja, mataku sudah sakit karna terlalu banyak menangis." ucap Livia tertawa di wajah bahagianya.
"Maafkan aku, selama ini aku sangat menyakitimu Livia."
'Berhentilah minta maaf apa kau tidak lelah."?
Keduanya tertawa seketika dan saling berciuman dengan mesra, melupkan perasaan yang selama ini mereka pendam.
"Sayang aku merindukanmu." bisik Rusell dengan suara parau.
"Tunggulah sampai aku mendai kuat." desah Livia terkekeh.
Pintu ruangan diketuk dan dibuka pelan. sontak Livia dan Rusell menoleh ke arah pintu dengan tatapan yang sama terkejutnya.
Mata Rusell menatap dengan senyuman lebar ketika melihat seorang wanita cantik yang berdiri canggung menatap ke arah mereka. sedangkan Livia hanya mengerutkan dahi karna ia tidak mengenal siapa wanita ini yang tersenyum begitu manis pada suaminya. Livia sedkit berdehem untuk memecah kesunyian yang menjengkelkan baginya. ia kesal karna Rusell sampai berdiri dan mengabaikan dirinya. melangkah ke arah wanita itu dan tersenyum.
"Apa kabarmu." Ucap Rusell perhatian.
"Aku sangat baik." ucap wanita itu langsung menatap ke arah Livia yang sedang menatapnya tajam.
Wanita itu mendekati Livia dengan tatapan penuh arti.
"Senang bertemu denganmu kakak." aenyum wanita itu begitu misterius..
"Siapa kau." desah Livia tidak suka.
__ADS_1