
"Kau..." jerit Angell dengan suara tercekat.
Pria itu mendekati Angell dan tersenyum dengan wajah tampannya mengabaikan tatapan marah yang di perlihatkan Alex, ia sampai melonggarkan dasinya yang entah mengapa mencekiknya malam ini.
"Angell Wins...calon istriku." ucap Wili dengan senyuman kemenangan.
Angell menatap ke arah orangtuanya yang langsung memasang wajah polos. ia mencubit lengan Wili dengan gemas.
"Kau berhutang penjelasan kepadaku." ucap Angell, disambut pelukan hangat Wili.
"Kau sudah berhasil mendapatkan hatinya Wili."? seru Rusell dengan ekspresi senang.
"Sepertinya aku berhasil tuan." ucap Wili menundukan kepala dengan penuh hormat.
"Siapa bilang, aku belum menjawabmu ya." seru Angell dengan wajah kesal.
Rafael hanya menggeleng sambil tersenyum, kakak sudah jatuh cinta. ia bisa melihat senyum itu diwajah kak Angell.lalu pandangannya beralih pada Alex yang sedang menatap kakaknya dengan tatapan patah hati. oh...tidak, semua tidak akan baik-baik saja. untunglah dia tidak sedang berada di dalam cinta segitiga, Elena sedang berada di luar negri karna urusan keluarga. dan Rafael sendirian untuk sementara. penyiksaan yang luar biasa baginya.
"Alex, kenalkan ini Wili calon suami dari putriku Angell." ucap Rusell tenang.
Wili menoleh..menatap mata Alex yang sama tajamnya. keduanya pun mendekati satu sama lain, berdiri saling menantang.
"Kau bergerak sangat cepat Alex..aku akui aku hampir saja meremehkanmu."gumam Wili mengeraskan rahangnya.
"Kita liat saja..siapa yang akan mendapatkan Angell, aku pasti akan mengalahkanmu Wili." lirik Alex dengan yakin.
"Tentu..silahkan saja...tapi sebelumnya aku hanya memperingatkan agar kau menguatkan hatimu karna sepertinya kau sudah sangat terlambat...Angel adalah milikku."ucap Wili dengan ekspresi kemenangan.
"Milikmu yang sementara." Alex menaikan sebelah alisnya.
Alex hanya tersenyum setelah melakukan pembicaraan serius yang hanya di dengarkan oleh mereka berdua.
Alex mengulurkan tangan...
"Senang bertemu denganmu tuan Wili."
"Aku lebih senang bertemu denganmu Alex, mungkin kau bisa menjadi pendamping dihari penikahan kami jadi kusarankan..kau segera mencari seseorang." Wili membalas uluran tangan Alex dengan sedikit kuat.
Alex tersenyum lagi....
"Tugas yang berat tuan Wili, namun akan aku siapkan."
Rusell tersenyum tenang melihat keakraban keluarganya malam ini.
Livia menatap semuanya dan berdehem, meminta perhatian.....
"Sudah...ayo kita makan sekarang." ucap Livia mengajak.
Merekapun serentak duduk di masing-masing kursi di ruang makan. Wili tentu saja langsung duduk di samping Angell ia tak akan menyia-nyiakan waktu dengan membiarkan Alex mengambil kesempatan.
__ADS_1
Wili mengenang tadi di sela-sela rapat tuan Rusell menelfon dan mengabarkan kalau akan ada makan malam penyambutan pria bernama Alex penolong Rafael.
Wili langsung terbakar cemburu..yah..mungkinkah itu cemburu...sekuat apapun ia ingin berkonsentrasi pada rapat namun seluruh pikirannya tertuju pada Angell. membayangkan Angell tertawa bersama Alex membuat darahnya mendidih..yah..meski ia telah memiliki Angell seutuhnya namun entah mengapa..ia masih ragu kalau Angell akan tetap aman. dan cara yang paling baik adalah menjaga Angell sebisa mungkin dari pria-pria yang Wili rasa akan merebutnya. Wili langsung meninggalkan ruang rapat dan mengalihkan seluruh bebannya pada sang sekertaris yang merangkap tangan kanannya.
dan disinilah dia sekarang, duduk disebelah Angell dan merasa lebih tenang.
"Silahkan makan..dan jangan malu-malu." ucap mama Livia membuka pembicaraan.
Seolah telah terbiasa, Angell mengambil piring Wili dan mengambil nasi dan beberapa lauk untukknya, pemandangan ini tak luput dari perhatian Rusell dan Livia yang saling melemparkan senyum.
"Jangan makan nasi terlalu banyak Wili..kau harus makan lebih banyak sayur." bisik Angell menjelaskan.
"Baiklah..aku ikut apa kata-katamu..tapi jangan terlalu banyak tolonglah Angell."pinta Wili mengeluh.
"Baiklah..tapi kau harus mulai membiasakan dirimu Wili."
"Yah..baiklah sayang." ucap Wili menurut.
"Astaga..kalian membuatku iri, cepatlah menikah dan aku juga akan menikah." ucap Rafael mencibir.
Angell hanya mengedipkan matanya...
"Mungkin setelah aku mengadakan fashion show dengan brandku sendiri setelah itu aku akan mau menikah." ucap Angell membuat Wili melongo.
"Sayang kau...." tatap Wili protes.
"Jika aku jadi calon suamimu aku akan mendukungmu Angell, bagaimanapun ini adalah kesempatanmu mengembangkan bakatmu." ucap Alex dengan tenang.
"Aku akan mendukungnya..mengapa kau seperti menganggap sebalikknya." Wili mulai terbakar..
"Papa dan mama akan menyerahkan semua keputusan kepadamu Angell karna papa yakin kau sudah dewasa dan mampu untuk memutuskan yang terbaik...kapan pergelaran fashion showmu."
"Dua bulan lagi papa."
Wili langsung meneguk segelas air, ia merasa sudah kenyang mendengar semua perkataan Angell.
"Bagaimana Wili..apa kau bersedia menunggunya."
"Dia adalah hidupku tuan,..aku akan menunggunya." ucap Wili menatap tajam ke arah Alex yang juga menatapnya.
"Bagus...aku lebih tenang sekarang..karna kedua anakku sudah dewasa. dan di dampingi oleh orang-orang baik." ucap Rusell menghela nafas.
"Wili kami telah menganggap Alex sudah jadi bagian dari keluarga dan aku harap kalian berdua akan menjadi lebih akrab."
"Tentu saja tuan Rusell, aku akan mengingatnya baik-baik." ucap Wili tersenyum lembut.
***********
Makan malam pun selesai mereka berbincang ringan di taman.sedangkan Rusell dan Livia pamit untuk istirahat ke kamar karna memang sudah larut malam.
__ADS_1
Sementara Rafael juga pamit untuk menelfon kekasihnya Elena. tinggalah mereka bertiga dalam kecanggungan yang nyata.
"Oh ya..tuan Alex."
"Panggil saja namaku Alex, dan jangan ada jarak di antara kita ingatkan tuan Rusell sudah menganggabku keluarga." Alex menatap Angell begitu dalam.
Angell mengangguk dengan tatapan minta maaf..
"Aku tidak akan mengulanginya Alex." ucap Angell.
"Gaun untuk ibumu sudah hampir selesai." sambung Angell tersenyum lagi.
"Aku akan mengambilnya sendiri." tatap Alex dengan nada santai.
Wili dan Alex kembali saling menantang.
"Aku akan mengambil minum." ucap Angell meninggalkan keduanya sendiri.
Wili mulai gerah dengan semua sikap manis Alex yang pura-pura, mungkin ia harus menyelidiki pria ini.
"Ah....berapa lama kalian saling mengenal." tanya Alex dengan wajah polos.
"Bukan urusanmu Alex, berhentilah berbasa basi di hadapanku, bagaimana kalau kau pulang saja." ucap Wili jengah.
Alex tertawa.....
"Aku memang akan pamit sebentar lagi, tuan Wili..bagaimana kita bisa akrab kalau kau menutup diri."?
"Kau bukan siapa-siapaku dan Angell jadi berhentilah memakai topeng dihadapanku Alex."
Alex bangkit dan menatap tajam...lalu tersenyum dengan dingin...
"Baiklah..karna hanya ada kita berdua disini maka aku, tidak akan berbohong padamu."
Wili bangkit dan bersedekap ke arah Alex, ia sudah menyadari semua dari sikap pria ini yang terlalu munafik baginya.
"Aku menyukai Angell." ucap Alex dengan jujur.
"Apa katamu." Wili mengepalkan tangannya dengan kuat bersiap ingin menghajar Alex...
"Aku akan merebutnya darimu Wili."
"Aku tak akan membiarkannya, karna aku dan Angell sudah saling memiliki."
"Aku bukan pria kolot Wili....jika aku menyukai seseorang..maka orang itu harus kudapatkan, meski harus menyingkirkan pemilikknya." Alex berucap dengan sangat tenang seolah tak terganggu dengan emosi Wili.
Wili meraih ujung jass Alex dan ingin memukulnya namun tertahan oleh panggilan Angell.
"Apa yang kalian lakukan." jerit Angell dengan suara keras....
__ADS_1