Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Membenci


__ADS_3

Tubuh Livia membeku untuk sesaat seperti jiwanya lepas dari raganya..airmatanya menetes menatap dengan ekspresi tak percaya. Meri jatuh perlahan dengan darah yang menetes dengan sangat banyak di perutnya.


Gadis itu menutup mata dalam hitungan detik, dihadapan Livia. tak pernah ia sangka jika ia menyaksikan kematian seorang gadis yang beberapa hari ini telah menemainya, menjadi teman ceritanya, membantunya mengurus Angel. yah..meski dia bersalah namun bukan berarti Rusell membunuhnya. mengapa Rusell harus sekejam itu. mengapa Rusell dengan gampangnya melakukan itu seolah-olah nyawa Meri tidaklah berharga, bagaimana orangtuanya, bagaimana jika mereka tau anak mereka mati dengan cara yang keji. perlahan wajah Livia terangkat menatap Rusell yang juga menatapnya. wanita itu berdiri saling menantang dengan Rusell.


"Mengapa kau membunuhnya...mengapa."? jerit Livia tidak terima.


Rusell tertawa kejam..mendekati Livia yang tampak begitu tersiksa.


"Dia pantas mati Livia..dia..pantas dienyapkan dari dunia ini..tak ada tempat bagiku untuk seorang penghianat." tatap Rusel tajam.


"Bagaimana denganku, akulah yang sebenarnya menghianatimu...mengapa kau tidak membunuhku saja Rusell mengapa."


"Terlalu mudah untukmu mati Livia.."


"Apa maksudmu."?


"Kau...harus merasakan penderitaan yang lebih dari kematian itu sendiri." sinar mata Rusell begitu tajam seolah membelah Livia didalamnya. tubuh wanita itu goyah untuk sekedar menopang tubuhnya.


"Kau bukan manusia." desah Livia benci.


"Yah..saatnya bagimu melihat sisi gelapku sayang, mulai sekarang..kedudukan istri aku cabut darimu Livia, kau tidak lebih dari wanita pemuas nafsuku saja."


Wajah Livia menjadi pucat....ia bergerak mundur menjauhi Rusell yang berubah sangat mengerikan.


"Kau..akan merasakan betapa aku menganggapu tidak lebih dari seorang Pelac**. "desis Rusel kejam


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu Rusell tidak akan pernah." ucap Livia penuh dendam. cinta yang sempat tumbuh itu sudah hilang diganti kebencian di hatinya.


Rusell tersenyum meraih Livia dengan sebelah tangannya yang kokoh. melirik anak buahnya untuk menyingkirkan Meri. lalu menarik Livia dengan sangat kuat hingga pergelangan tangan Livia memerah dan lecet namun pria itu tak bergeming. hatinya sudah terlanjur terbakar. tak ada yang bisa memadamkannya kecuali dengan penderitaan Livia.


"Persetan dengan maafmu karna aku sama sekali tidak butuh Livia."


"Lepaskan aku.,ini sakit sekali..Rusell."

__ADS_1


"Kau akan segera menerima hukumanmu yang pertama jadi bersiaplah." ucap Rusell tidak perduli dengan tangisan Livia.


Masuk melalui pintu utama menuju lift dan menekan tombol di lantai paling atas. tempat penyiksaan yang akan diterima Livia. wanita itu hanya bisa menangis meratapi nasip buruknya. penyiksaan yang didepan mata terasa mengerikan bagi Livia namun ia sudah siap dan sangat mengharapkan jika Rusell selesai dengan semuanya ia bisa mati dan melepaskan semua bebannya.


Lift terbuka dan Livia dihadapkan pada sebuah pintu utama terbuat dari besi kokoh yang sangat kuat. Rusell kembali menekan pasword pada handle pintu dan sesaat kemudian pintu itu terbuka lebar. Livia dihadapkan dengan sebuah ranjang besar berwarna hitam dan seluruh kamar bernuansa gelap. Livia sangat ketakutan hingga seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.


"Aku mohon Rusell, aku takut gelap..jangan Rusell aku sangat takut."


"Bukankah kau tadi ingin mati, mengapa dengan kegelapan saja kau takut." ucap Rusell sinis.


Rusel menekan tombol dan seketika seluruh dindingnya berganti warna menjadi warna cerah. hingga Livia tertegun.perlahan ketakutannya hilang. diruangan jni hanya ada sebuah ranjang, wastafel dan kamar mandi. seperti kamar umumnya. mata Livia menjelajahi seisi kamar hingga matanya kembali terjebak dalam mata Rusel, yang tajam.


"Jika kau berani membantahku aku akan membiarkan ruangan ini menjadi sangat gelap."


Pria itu melepaskan pegangan pada Livia dan mulai melepas satu persatu pakaiannya mulai dari jass, dasi, dan kemeja.


"Apa yang akan kau lakukan."? tanya Livia takut.


"Memberi hukuman untukmu Livia apa kau lupa."?


"Selama seminggu kau akan menjalani hukumanmu Livia, terima dan bersyukurlah." ucap Rusell dengan tidak sabar. ia segera meraih Livia dan memeluknya dengan erat.


"Aku tidak siap Rusell."


"Aku tidak butuh jawabanmu Livia, kau...harus melayaniku."


Skipppp..............


Livia terbangun dengan rasa sakit disekujur tubuhnya hingga memaksa airmatanya menetes. jejak yang ditinggalkan Rusell ada dihampir seluruh tubuhnya. bekasnya mulai menggelap.


Livia di tinggalkan sendirian didalam kamar ini. matanya bengkak karna terlalu banyak menangis. Livia menatap meja disana yang telah tersedia makanannya. Rusell entah pergi kemana setelah puas menyiksa dirinya. sungguh ia sangat membenci Rusell demi apapun. dia sangat membenci pria yang telah begitu menghancurkan jiwa dan raganya. Livia berjaji tak akan sudi memberikan hatinya. tidak akan pernah.


"Papa..Mama...Roni....taukah kalian, aku sudah tidak tahan lagi...aku merindukan kalian, aku...." airmata Livia kembali mengalir untuk kesekian kalinya. merenungi nasibnya yang semakin gelap.

__ADS_1


💔


Rusell meraih gelas berisi minuman beralkohol dan meminumnya sampai habis. ia ingin melupakan Livia mengusir semua tentang wanita penghianat itu. namun ia sama sekali tak bisa mengendalikan hatinya. rasa nyeri mulai menyebar didadanya ketika membayangkan bagaimana Livia menjerit memohon ampun atas perlakuannya yang begitu kasar. bahkan ketika Livia sedang tidak siap Russel tidak sedikitpun perduli, ia terus memasuki Livia berkali-kali hingga wanita itu pingsan.


Rusell kembali memejamkan matanya dan meneguk lagi minuman itu kali ini langsung dari botol besarnya.


"Ruselll, aku mohon...ini sakit sekali, aku tidak bisa Rusell tubuhku kesakitan."tangis Livia kesakitan.


"Diam, atau aku akan menyiksamu dua kali lipat." ucap Rusell semakin kasar.


"Livia, kau tidak boleh menguasai pikiranku..tidak."geram Rusell.


Rusel, sangat marah dengan kuat ia menghancurkan semua botol-botol minuman itu hingga hancur. sementar semua anak buahnya hanya diam tak bersuara sedikitpun. Rusel pikir setelah ia mneyakiti Livia hatinya akan menjadi tenang. Rusell pikir dia akan puas. namun yang terjadi apa yang ia rasakan saat ini adalah perasaan hampa luar biasa dan rasa bersalah yang memenuhi jiwanya. kesakitan Livia selalu membayangi dan menuduhnya.


"Nak Rusell kami tidak meminta apa-apa, Livia adalah putri kami satu-satunya, jangan pernah melukainya." ucap mama Lydia memohon.


Kata-kata mama Lydia kembali menghantam Rusell. apa yang telah ia lakukan.? Rusell seperti tersadar. ia membalikkan tubuhnya ingin menemui Livia namun langkahnya terhenti melihat seorang pelayan menunduk ke arahnya dengan wajah cemas.


"Ada apa."?


"Tuan Rusell..terjadi sesuatu pada nyonya."


Wajah Rusell menjadi pucat.......


"Apa maksudmu."?


"Nyonya pingsan dikamar mandi tuan. ada banyak darah." pelayan itu tidak sanggup meneruskan kata-katanya.


"Sepertinya...nyonya meninggal, nyonya tidak bernafas tuan Rusell." pelayan itu sangat ketakutan.


Tubuh Rusell membeku................Livia, desahnya memanggil dengan langkah yang cepat Rusell segera berlari ke arah kamar....


jiwanya terasa kosong, hatinya hancur berkeping keping...Liviaa.......

__ADS_1


Haiiii..,terimakasih sudah menyukai cerita ini, dukung author dengan like, koment yang banyak dan vote biar author lebih semangat up setiap hari..


Love u all...❤❤❤


__ADS_2