
Airmata Mikha menetes di pelukan sang papa, ia sangat merindukan diperlakukan adil, ia sangat rindu di perlakukan dengan penuh kasih sayang oleh orangtuanya sendiri...
Akasana terdiam, meresapi kedekatan yang berbeda, mengaoa ia merasa bahagia memeluk Mikha..mengapa rasanya senag ketika Mikha bersadar di bahunya. yah...ini pertama kali mereka sedekat ini dan rasanya indah..
"Papa..." bisik Stela pelan yang mampu menarik perhatian Aksana..
"Yah..."
"Bukankah ini saatnya kita membahas pertemuan untuk pertunangan mereka." ucap Stela tak sabar, ia mengirim sinyal membunuh ke arah Mikha yang sedang menatapnya dengan dalam....
Penjilat sialan...!!!! batin Mikha kesal.
Aksana mengangguk sesaat kemudian melepas pelukan namun masih menatap teduhnya tatapan Mikha....
"Bagiamana menurutmu Mikha..apakah kita akan menadwkan pertunangan."?
Mikha menggeleng dengan sopan...
"Papa...bisakah aku bertemu dulu dengannya...kami bisa saling mengenal untuk......"
"Kau sudah mengenalnya Mikha." Stela bersedekap..
"Siapa."?
"Dia mantan kekasih yang masih mengharapkanmu."
"Mantan kekasih......" ulang Mikha dengan wajah pucat..
"Yah...dia sangat mencintaimu...siapa lagi kalau bukan Roland."
"Roland."? jerit Mikha dengan begitu terkejut...
Matanya berkaca-kaca seketika, airmatanya menetes....bicara tentang Roland begitu membuatnya sedikit trauma...Mikha menghela nafas....ia memandang ke arah Stela yang sedang tersenyum penuh kemenangan...
"Kau boleh bertemu dulu dengannya Mikha...papa akan memberi kau waktu berpikir.." ucap Aksana dengan nada lembut.
Mikha mengangguk...
"Terimakasih papa...." ucap Mikha menunduk hormat...
Aksana menatap tajam ke arah Mikha...lalu meninggalkan ruang keluarga dengan hati yang bingung, mengapa ia memikirkan Mikha...bukankah Mikha bukan anakknya, seharusnya ia hanya memikirkan Stela..lebih cepat Mikha menikah maka akan lebih baik bukan..?
Aksana menggelengkan kepalanya ia harus menenangkan dirinya......
Kini tinggallah Mikha dan Stela berdiri saling menantang....Stela melipat tangannya di dada...ia mendekati Mikha yang terlihat marah...
"Kita satu sama Mikha sayang...aku tak sabar lagi untuk menyiapkan pernikahanmu dengan Roland...
"Kita liat saja nanti kakak...aku juga tidak sabar."
Stela terkekeh senang lalu meninggalkan Mikha yang terdiam..apa yang harus ia lakukan sekarang.?
💗💗
Mikha mengendarai mobilnya melaju menuju sebuah rumah sakit ketika ada pesan masuk di ponselnya..
Martin.
Kau dimana Sayang.?
__ADS_1
Mikha
Aku sedang menuju Rumah sakit.
Martin
Berikan alamatmu, aku akan menyusul.
Mikha
Baiklah...
Mikha menatap layar ponselnya, ia tersenyum...rasa hangat kembali menghampirinya. Martin begitu perhatian dan tak pernah lelah mengejarnya.
Untuk pertama kalinya Mikha merasa di cintai dan di butuhkan. tentu saja selama ini ia merindukan perasaan itu. ia lelah jika terus mengejar dan mengejar lagi, ia sungguh sangat lelah, tanpa ia sadari Ia mulai terikat dengan Martin.
💖💖
"Tenanglah....semua akan baik-baik saja." bisik Martin menggenggam jemari Mikha sambil menunggu, namanya di panggil.
"Aku tidak yakin hasilnya Martin..bisa saja aku memang bukan anak papa."
"Jangan mendahului takdir, berdoalah yang terbaik untuk hasilnya..apapun yang terjadi aku akan tetap mendukungmu." tatap Martin dengan dalam.
Mikha tersenyum, hatinya di penuhi bunga indah.. ia sungguh bahagia menyadari Martin begitu perhatian padanya, yah...ia belum terlalu yakin namun untuk sementara hanya itu yang bisa di simpulkan hatinya bahwa Martin mencintainya..
"Nona Mikha." panggil seorang perawat..
Mikha tersenyum dan menoleh pada Martin yang mengangguk memberi dukungan, Mikha tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah memasuki ruangan yang telah menunggunya....
💞💞
"Mikha...dia mulai mencari perhatian papa, beraninya dia memanasiku dengan mendekati papa...aku sangat membencinya.." jerit Stela marah...
Hana tersenyum, jika Stela bersikap meledak-ledak maka Hana sangat tenang...wanita itu mendekati Stela dan Membelai rambut gadis itu sekaligus menenangkannya...
"Kau harus tenang Stela....semua akan berjalan sesuai rencana kita."
Stela menoleh dengan gusar....
"Apa rencanamu yang bisa membuatku tenang..katakan." Stela menajamkan tatapannya...
"Bagaimana kalau kau memprovokasi Roland untuk datang menemui Mikha secepatnya..."? bisik Hana pelan..
"Roland....menemui Mikha."? ulang Stela mengerutkan keningnya...
Hana mengangguk penuh rencana licik di kepalanya..
"Buat kekacauan antara mantan kekasih dan kekasihnya sekarang...lalu kau tinggal menonton dari jauh dan menunggu sampai waktunya tiba Martin akan menjadi milikkmu." ucap Hana memberi solusi...
Wajah Stela yang tadinya mendung berubah menjadi cerah dan begitu senang...ia melompat-lompat kegirangan membayangkan pertunjukan yang akan ia saksikan di depan matanya....
"Mikha...kau akan hancur di tangannku, dan kau beserta ibumu akan ku pastikan kalian terusir dari rumah ini."
Hana tersenyum lega..ia sudah menunggu sekian lama, sebenarnya ia jatuh cinta pada Tuan Aksana namun pria itu sangat dingin dan tak tersentuh, selain itu tuan Aksana sangat menjujung tinggi nama baik di atas segalanya, ia tak ingin nama baiknya tercoreng sedikitpun....
Tuan Aksana sangat tampan dan punya kekayaan yang tak habis berpuluh turunan, Hana bahkan sudah bermimpi akan menjadi nyonya Aksana menganggantikan nyonya Lusi..yah..hanya tinggal sedikit waktu lagi dia bisa menikmati semuanya..
"Hana..kau selalu yang terbaik bagiku, tunggu saja jika Mikha dan ibunya pergi..kau akan menganti posisinya menjadi istri papa."
__ADS_1
Hana tersenyum misterius namun ia segera menutup perasaannya...
"Itu tidak akan pantas Stela, mana mungkin tuan Aksana akan menikahi aku seorang pelayan." wajah Hana memerah malu..
"Tenang saja,..aku anak kesayangan papa, aku akan membujuknya dan papa tidak akan pernah mengabaikan aku."
Hana hanya mengangguk setuju..
"Aku menyerahkannya padamu Stela." ucap Hana penuh penekanan...
Stela mengangguk setuju, ia segera meraih ponselnya dan menelfon Roland...
💞💞
Martin dan Mikha melangkah keluar dari gedung rumah sakit ternama itu dengan langkah pelan....
"Bagaimana perasaanmu setelah melakukan tes DNA sekali lagi."? tanya Martin membuka permen karet untuknya...
Mikha mengambil permen karet itu dan mengunyahnya....ia tersenyum hambar....
"Aku...merasa lega."
"Lega."?
Mikha mengangguk......
"Aku memilih rumah sakit yang jauh dan tersembunyi agar aku bisa mendapatkan hasil yang jujur...aku tau seseorang sedang mempermainkan hidupku dan mama, sekaligus menghancurkan kami."
"Stela."? ucap Martin menebak..
"Kau sangat pintar Martin." Mikha tertawa....
Pria itu menghentikan langkahnya dan menarik jemari Mikha untuk mendekat kepadanya...mata mereka saling memenjara dengan senyuman penuh arti yang indah...
"Aku akan melindungimu dengan nyawaku Mikha..tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu." ucap Martin penuh penekanan..
"Mengapa...bukankah aku bukan siapa-siapa."? tanya Mikha pelan...
Martin mengecup kening Mikha dengan lembut dan tersenyum...
"Aku tau dari garis keturunan kita berbeda, kau berdarah biru dan aku...hanya kelas renda......." kata-kata Martin terputus
ia terkejut ketika...
Mikha mengulu* bibir Martin yang dingin....menyentuhnya dengan penuh perasaan lalu melepasnya...
ia tersenyum ketika Martin hanya menatapnya dengan wajah beku.....
"Jangan bicara tentang garis keturunan, aku sadar jika semua itu tidaklah penting Martin...aku ingin kau tau jika, aku sepertinya menyukaimu juga.." Mikha tersenyum malu...
"Apa..."? ucap Martin tidak menyangka....
Ketika Mikha hendak melepaskan pelukannya, namun Martin semakin memeluknya erat....
"Mikha...kau tau jika kau tidak akan aku lepaskan lagi."?
"Hmm..."
Martin kemudian memeluk tubuh Mikha dengan erat dan merasa lega....cintanya tidak bertepuk sebelah tangan...
__ADS_1
"Aku mencintaimu Mikha." bisik Martin bahagia....