
"Apa yang kalian lakukan disini." tatap Wili dengan dingin.
Angel dan Oscar saling menatap...
"Kami hanya sedang berbicara." ucap Angel dengan asal.
"Bicara tentang apa." tanya Wili mulai merasa tak puas. begitu ia melihat kebersamaan mereka hatinya menjadi terbakar. jika ini bukan di tempat pesta maka Oscar pasti akan dihajarnya. dan untukk Angell ia sudah menyiapkan kejutan besar dan ia yakin. setelah ini Angell tidak akan berani menantangnya.
Angel mulai jengah, tidak di perusahaan dan disegala tempat Wili selalu terang-terangan menunjukan sikap posesif yang mulai membuatnya muak. mereka bukan sepasang kekasih, dan alasan mereka datang bersama hari ini tak lebih karna ucapan terimakasihnya. ketegasan seperti apalagi yang di inginkan Wili darinya.
"Bukankah kami dijodohkan Wili, tak ada salahnya jika aku sedikit berbicara pada jodohku." ucap Angell sengaja memancing Wili. sementara Oscar hanya memejamkan mata. sepertinya Angel telah berbuat kesalahan yang besar kali ini dengan menantang Wili.
Wili mengepalkan tangannya dan mendekati Angell. mengabaikan Ostan yang hanya diam dan menjadi penonton mereka. iapun tersenyum lembut,
"Sepertinya aku harus menyadarkanmu tentang beberapa hal."
"Maaf Wili aku rasa kau salah alamat, kau tak perlu menjelaskan apapun kepadaku.. jelas kau bukan siapa-siapaku."
"Ikut aku sekarang Angell." ucap Wili menaikan alisnya.
"Aku tidak mau..aku masih ingin bicara pada Oscar." Angell belum sempat mendapat penjelasan apapun dari Oscar. dan dia tak akan pergi sebelum menemukan kebenaran yang dimaksud Oscar.
Wili menatap ke arah Oscar dengan tatapan membunuh, seperti mendapat isyarat ancaman melalui matanya Oscar buru-buru berdehem.
"Maaf aku harus pergi Angel."
"Tidak..kita harus bicara." cegah Angel menolak Oscar pergi.
"Maaf tapi belum saatnya kau tau segalanya Angel, tapi aku berjanji jika kita bertemu lagi aku...akan menceritakan semuanya.
Oscar meninggalkan mereka di tempat itu dan menghilang dibalik pintu. Angel benar-benar gusar. ia kembali menatap kepada Wili dengan kekesalan yang tak mampu ditutupi.
"Aku tak habis pikir apa yang sebenarnya kau inginkan Wili."
"Aku ingin,...kau ikut aku sekarang juga sebelum kesabaranku habis."
"Aku ingin pulang sekarang juga." Angel melangkah melewati Wili dengan wajah merah padam. namun sekali lagi ia harus menahan kesabarannya, karna Wili menahan lengannya. mau tak mau Angell menatap kedua mata Wili.
"Aku ingin kau merubah wajah marahmu dengan senyuman paling manis karna kita harus berpamitan sekaligus memberi selamat pada pengantin, setelah itu kita bisa pulang." ucap Wili menekan.
Angell sekali lagi harus menelan rasa marahnya kemudian tersenyum.
__ADS_1
Wili melingkarkan tangan posesifnya di punggung Angell dan membawa gadisnya menemui tuan Hans dan istrinya.
Lalu mengabadikan moment dalam sebuah foto bersama pengantin. Wili sangat bersemangad karna untuk pertama kalinya ia membawa seorang pendamping milikknya yang tentu menjadi pusat perhatian. Wili tau setelah pesta ini para pemburu berita akan langsung membahas hubungannya dengan gencar. dan Wili memang sengaja ingin membuat Angell tak bisa bergerak apalagi menghindarinya. dengan pemberitaan itu, Wili sekaligus ingin membuat pengumuman kalau Angell adalah milikknya.
Mereka keluar dari gedung hotel dan melangkah menuju mobil. seorang supir sudah menanti mereka disana,
"Silahkan masuk tuan dan nona." ucapnya menunduk hormat.
"Malam ini kau tidak perlu mengantarku karna aku akan membawa mobil sendiri." ucap Wili mengambil kunci yang diberikan supirnya.
Lalu masuk kedalam mobil...
"Mengapa kau yang membawa mobil." tanya Angell menatap Wili yang tampak sangat bersemangad malam ini dan sorot mata yang berbeda.
"Bukankah aku harus menjelaskan beberapa hal padamu." ucap Wili langsung menjalankan mobilnya membelah malam.
"Kau tidak perlu membawa mobil sendiri Wili, kita bisa tetap bisa bicara di dalam mobil dalam perjalanan pulang."
"Akan sangat panjang pembicaraan kita dan tidak cukup waktu bagi kau untuk mengerti." ucap Wili dengan misterius.
Angell justru semakin tidak mengerti..apa maksud Wili, pemahaman seperti apa..mengapa bagi Wili itu sangat penting.
"Mansionku."
Kali ini ekspresi Angell sangat terkejut, lalu melirik jam di tangannya yang menunjukan pukul sebelas malam. yang benar saja..mengapa ia merasa takut. Angel menoleh dan mendapati sinar mata Wili yang aneh.
"Tapi ini sudah hampir tengah malam Wili, orangtuaku akan..."
"Ayolah kau bukan lagi seorang remaja, yang takut pulang malam..lagi pula mereka tak akan pernah marah jika kau bersamaku." ucap Wili tegas.
"Wili..tapi..aku..."
"Apa kau sedang takut Angell Wins."
"Ya...aku........tidak takut." Angell memalingkan wajahnya keluar jendela menatap kegelapan yang begitu menakutkan malam ini."
"Bagus." ucap Wili dengan senyuman.
Mobil memasuki sebuah pagar besi yang begitu tinggi menjulang di hadapan mereka, setelah satu jam lebih perjalanan. Angell tak tau dimana mereka berada. bahkan ketika pintu pagar itu tertutup Angell hanya mampu menarik nafasnya dengan berat, dari kaca spion ia bisa melihat betapa privatnya mansion Wili. bahkan beberapa bodyguard masih berjaga disitu dengan wajah tidak ramah.
Mesin mobil berhenti di depan sebuah mansion yang sangat megah, bahkan mansion ini lebih megah dari milik orangtuanya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai..ayo turun." ucap Wili lebih dahulu turun dari mobil dan menunggunya.
Angell terdiam sebentar, sementara jemarinya naik menahan debaran jantungnya yang sedang melompat tidak terkendali. mengapa ia menjadi sangat gelisah malam ini.?
"Angel."
Wili mengejutkan Angell dari kaca mobil hingga gadis itu menoleh. Wili mengisyaratkan kalau dia harus segera turun. Angell pun mengangguk dan membuka pintu mobil dengan gugup. lalu keluar dari sana.
"Selamat datang dirumah masa depanmu."
"Apa maksdmu denagn rumah masa depanku." Angell menaikan kedua alisnya meminta penjelasan.
"Ayo masuk..seperti kubilang tadi bahwa aku harus memberimu beberapa pemahaman tentang beberapa hal."
Wili melangkah memasuki mansion megah itu di ikuti Angell di belakangnya yang melangkah dengan sedikit gemetar. Wili masih mengenggam erat tangannya seakan ia tak ingin dipisahkan.
Ruang tamu dari mansion itu sangat luas dilengkapi fasilitas ruangan yang lengkap dan mahal, namun begitu lengang dan sunyi, dimana para pelayan..mengapa ia tak melihat mereka lalu lalang.
"Para pelayan sudah berisitirahat karna aktifitas disini terhenti pada pukul 10 malam." ucap Wili seakan membaca isi kepala Angell. ia masih terus membimbing Angel menaiki tangga.
"Mengapa." tanya Angel dengan kerutan di dahinya.
"Karna aku tidak suka ada aktifitas di tas jam 10 malam, aku ingin menikmati kesunyian pada jam seperti itu." Angell hanya mengeleng dalam diam.
"Kau...sangat aneh."
"Terimakasih Angell aku anggap itu pijian."
Angell hanya melonggarkan tenggorokannya semakin gugup.
Menuju sebuah kamar yang terletak di ujung Wili menatap pada Angell yang menatapnya dengan guratan penasarann yang kian besar.
"Ruang apa ini."
"Kita akan bersantai disini, ini adalah kamar pribadiku Angel." Wili membuka pintu dan membawa Angell masuk kedalam ruangan yang berisikan puluhan bahkan ratusan koleksi pisau dan sejata api berbagai ukuran yang berjejer bagai hiasan di dalam lemari kaca yang mengelilingi ruangan. sedangkan di tengah ruangan ada sebuah mini bar. aneka minuman beralkohol mahal dengan cita rasa tinggi ada di tempat ini. lalu ada ranjang berukuran besar di tengah ruangan, persis di samping mini bar. Angell sangat terkejut hingga seluruh tubuhnya melemas, Angell bersandar di pintu ruangan.....
"Ayo..Angel...temani aku untuk minum." ucap Wili dengan wajah paling dingin yang pernah dilihat Angell.
"Aku..tidak pernah.."
"Maka aku akan mengajarkanmu Angell." ucap Wili dengan sinar mata kejam...
__ADS_1