Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Menemukan penghianat


__ADS_3

Rusell melangkah turun dari helikopter dengan senyuman puas, hari ini dia menyelesaikan urusan bisnisnya secepat kilat. lebih bersemangat dari hari sebelum-sebelumnya. yang ia inginkan adalah secepatnya pulang dan menemui Livia dan Angel menghabiskan waktu dengan mereka adalah hal yang paling dia rindukan. dahulu memang hidupnya suram tanpa cahaya, penuh kekerasan dan hampir tak pernah ia tersenyum. Rusell juga menjadi pribadi yang dingin dan tidak tersentuh namun semuanya hilang ketika Livia menyinari hidupnya dengan cinta yang tulus. meski yah, sampai saat ini Livia belum memberi jawaban atas pertanyaannya tentang memulai semua dari awal.


Rusell baru sampai di pintu utama dan mengerutkan dahi ketika melihat kepala pelayannya menunduk dengan hormat.


"Ada apa Pedro."? lirik Rusell tajam.


"Ada sesuatu yang ingin saya tunujukan pada tuan." kembali pria paruh baya itu menunduk.


Rusell mengeraskan tatapannya. jika Pedro ingin mengatakan sesuatu itu artinya sedang terjadi masalah atau ancaman ketika dia tidak ada. Pedro adalah tangan kanannya yang paling dipercaya Rusell untuk mengawasi rumah ini ketika dia tidak berada ditempat. penampilan Pedro yang pendiam dan sederhana mampu membuat beberapa penghianat di antara anak buahnya yang tertangkap tangan ingin menghancurkan Rusell mampu ditaklukan pria itu. Pedro dahulu adalah supir dari Ayahnya semasa hidup. pria tua itu terus mengabdikan diri pada Rusell meski usianya tidak muda lagi.


Rusell mengikuti langkah pelan Pedro menuju ruang rahasia mereka berdua. diruangan ini berisi semua tentang rahasia yang terungkap dan bukti penghianatan yang disimpan rapi oleh Pedro.


Sampai didepan pintu Pedro menekan tombol otomatis menggunakan sidik jari yang hanya bisa dibuka oleh sidik jarinya dan sidik jari Rusell.


Pintu terbuka dan Rusell masuk kedalamnya. menatap Pedro yang melangkah mengambil sebuah remot, menekannya dan saat itulah sebuah gambar besar dan sangat jelas muncul dilayar Tv.


Rusell mengambil tempat dikursi besarnya dan duduk sambil bersandar, menanti fakta apa yang akan Pedro tunjukan kepadanya.


"Tuan, saya memohon maaf sebelumnya." ucap Pedro ketika menyadari tatapan tajam Rusell ke arah Tv.


"Jelaskanlah Pedro." ucap Rusell mengeraskan rahangnya.


"Tuan, ada seorang mata-mata yang dikirimkan oleh mantan kekasih nyonya ke rumah ini."


"Apa maksudmu."? mata Rusell menajam.


"Silahkan tuan lihat dilayar Tv, saya bahkan sudah merekam semua pembicaraan nyonya dan penghianat itu." ucap Pedro kembali menundukan kepalanya.


Rusell mengusap wajahnya dengan gusar. tidak..jangan sampai Livia bersekongkol untuk menghianatinya atau dia...akan merasakan bagaimana amarah Rusell yang sebenarnya.


pria itu menggertakan giginya, seluruh dadanya bergejolak seakan terjadi badai disana. namun Rusell mencoba menahan dirinya. menunggu sampai ia mengetahui semua pembicaraan mereka berdua.


"Putar sekarang Pedro." ucap Rusell dengan dingin.


"Baik tuan."


Pedro mulai menekan lagi tombol remote dan tampak di layar seorang gadis mendekati Livia mencoba mempengaruhinya dengan kata-kata, Rusell mengepalkan tangannya ketika melihat bagaimana gadis itu terus menekan Livia menjebaknya dengan perasaan bersalah sampai Livia meneteskan airmata. gadis itu terus menerus mengatakan bahwa mantan kekasihnya masih menunggu Livia bahkan ketika tau Livia sudah menikah pria itu masih menunggunya sampai akhirnya Livia menurut ketika gadis itu menawarkan sebuah solusi untuk bertemu kembali dengan pria dimasa lalunya. bahkan gadis bodoh itu sudah siap mati karna telah berani masuk sebagai penghianat didalam rumah seorang Rusell. video itu telah selesai diputar dan Rusell menatap kejam kepada Pedro yang seolah sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kapan tuan Rusell akan melenyapkan penghianat itu."?

__ADS_1


"Biarkan dia menikmati waktu-waktu terakhirnya Pedro."


"Apa maksud anda tuan Rusell."?


"Tempatkan lebih banyak waktu dia bersama dengan Livia, kurangi jumlah pelayan lain didekat mereka..aku masih ingin mendengar drama apa yang akan mereka tunjukan padaku."


"Apa."? Pedroa merasa seluruh tubuhnya gemetar. ia bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterima Meri nanti."


"Apa yang anda tunggu jika anda sudah menemukan penghianatnya."?


"Aku melihat Livia akan terpengaruh, jadi beri mereka sedikit ruang dan waktu agar ketika aku mengejutkan mereka itu akan jauh lebih seru pedro."


"Tapi tuan..,bagaimana kalau nyonya akhirnya."


"Aku akan menghukumnya dengan caraku agar ia berpikir 1000 kali untuk menghianatiku lagi Pedro.. tetap awasi mereka." ucap Rusell tersenyum yang membuat tubuh Pedro gemetar. itu senyuman mengerikan yang sama ketika Rusell akan menghabisi lawan-lawan atau para penghianatnya dengan cara yang kejam.


"Baik tuan Rusell."


💛


Rusell membuka pintu kamar dan menemukan Meri sedang menggendong Angel dan Livia tengah mengenalkan Livia dengan beberapa mainan. Rusell tersenyum dingin. mereka jadi lebih dekat bahkan tanpa jarak sekarang.


Meri menunduk hormat dan sedikit mundur memberi jalan Rusell untuk mendekati Livia. pria itu men**** bibir Livia denan penuh kerinduan lalu melepasnya setelah istrinya susah bernafas.


"Kau bergairah sekali, apa kau tidak lelah."? bisik Livia merasa malu.


"Aku bahkan kebih bergairah setelah ini." ucapnya sambil meraih Angel dalam gendongan Meri dan bermain-main sebentar.


"Kalau begitu, saya permisi tuan dan nyonya." ucap Meri menunduk.


Gadis itu membalikan tubuh dan hendak melangkah namun langkahnya tertahan.


"Siapa namamu." tanya Rusell.


Meri menoleh dan kembali menunduk,


"Saya Meri, pelayan baru disini."


"Ow..pantas saja aku baru melihatmu."

__ADS_1


"Iya tuan."


"Aku liat kau bekerja dengan sangat baik, setelah keluar dari sini Pedro akan memberimu bonus. pastikan kau memberikannya pada orangtuamu." ucap Rusell tersenyum ramah.


"Terimakasih tuan Rusell." Meri tersenyum senang


Livia yang melihat itu merasa sedikit heran.ia mendekati Rusell dan menatapnya penuh tanya.


"Mengapa kau memberinya bonus Rusell."


"Sayang, kau tidak lihat betapa dia sudah bekerja sangat keras menjagamu dan Angel ketika aku pergi, aku orang yang adil sayang." ucap Rusell meraih punggung Livia merapat kepadanya.


Livia dan Meri saling melemparkan pandangan dengan penuh arti.


dan Rusel, menyadari tatapan mereka berdua.


"Sebenarnya aku akan memberimu sebuah tugas Meri." tatap Rusell menjadi serius.


"Tuan, apa yang menjadi tugasku."?


Livia hanya menatap Rusell yang begitu serius.


Lusa aku akan keluar kota, mungkin sebagian besar anak buahku akan kubawa.


"Apa sesuatu terjadi sayang.? ucap Livia terlihat khawatir.


Rusell mengangguk dengan wajah yang kusut.


"Terjadi masalah dengan salah satu perusahaanku dan aku harus ada disana untuk menyelesaikan semuanya."


"Berapa lama kau disana."? tanya Livia yang membuat mata Rusell menajam.


"Tiga hari." ucap Rusell tegas.


"Saya akan menjaga nyonya Livia dan nona Angel dengan nyawaku tuan Rusell." ucap Meri menundukan kepala.


Rusel, mendekat kepada Meri dan menatap kedalam mata gadis yang berusia sekitar 26 tahun itu.


"Aku suka dengan pengabdianmu dan ketika kau bilang akan menjaga dengan nyawamu. aku...sungguh sangat senang." ucap Rusell dengan nada lembut.

__ADS_1


Meri menutup senyum melihat ekspresi dari tuan Rusell ia memang berkata dengan sangat lembut didalam suaranya. namun tidak dengan sorot matanya yang menyiratkan sesuatu yang sangat mengerikan untuk Meri. hingga tubuh gadis itu sedikit bergetar..


__ADS_2