
Lusi membuka pintu kamar dengan lebar, kali ini tekadnya sudah kuat. ia meraih kopernya dan membawa semua pakaiannya secara acak, meraihnya dengan penuh emosi dan memasukannya acak ke dalam koper lalu ia menuju lemari dan meraih sebuah map lalu memegangnya dengan gemetar...
Aksana masuk dan terkejut melihat seluruh isi kamar dengan berantakan,...ia mengusap wajahnya dengan kasar hatinya merasa nyeri melihat wanita yang sudah mendampinginya belasan tahun ini memilih pergi menghindarinya...
"Lusi..."
"Cukup..kau sudah kehilangan kesempatan Aksana." Lusi bahkan tidak menoleh. ia terus memasukan bajunya di koper.
Aksana mendekat dan menyentuh bahu Lusi yang membelakanginya dengan sedikit lebih erat hingga Lusi terdiam...
"Dengarkan aku Lusi, maafkan perkataan Stela dan lupakan semuanya..dia tidak tau apa yang dia bicarakan Lusi."
"Apa maksudmu memintaku melupakan semua yang terjadi Aksana, penghinaan ini seudah bertahun-tahun aku telan sendiri."
"Aku sudah melunak padamu Lusi, bukankah itu semua sepadan."
"Diam....aku tak pernah menyangka kau sangat sadis Aksana.."
"Lusi...aku peringatkan..."
Betapa hancurnya hati Lusi mendengar perkataan Aksana yang sama sekali tidak punya perasaan, betapa egoisnya pria ini kepadanya istrinya sendiri...
Lusi menoleh dan bergerak mundur dengan sakit hati...aimatanya menetes lagi...
"Mengapa kau tega kepadaku Aksana...apa kesalahanku..selama ini aku diam bukan berarti aku salah...selama ini aku diam bukan berarti aku pantas kau perlakukan seperti seseorang bodoh."
"Lusi...mengertilah Stela dia putriku..."
"Apa hanya dia saja putrimu."? jerit Lusi tercekat.
"Lusi..mengapa kau selalu memaksa aku...."
"Lihat saja kau masih saja tidak percaya padaku Aksana."
"Lusi aku butuh waktu..."
"Cukup Aksana...yah...Stela.... hanya dia putrimu hanya dia...tetap berpikirlah seperti itu dan lupakan Mikha dan juga diriku." Lusi meraih gagang koper dan melangkah melewati Aksana yang tampak hancur...
Lusi sudah tidak memikirkan apapun selain ia ingin meninggalkan semua...meninggalkan Aksana secepatnya. ia muak melihat keegoisan pria itu kepadanya...
Lusi menuruni tangga dengan cepat, ia bisa melihat tatapan Hana dan Stela di bawah tangga yang terarah kepadanya. mereka tersenyum penuh kemenangan namun Lusi sudah tidak perduli apapun...
__ADS_1
Sampai di ujung tangga Stela mencegatnya....
"Akhirnya aku akan melihat wanita ular sepertimu pergi dari kehidupan papa." desis Stela tersenyum puas...
Lusi mengangguk.....
"Taukah kau betapa hancur hatiku melihat keadaanmu saat ini Stela....aku merawatmu dengan tanganku sendiri waktu kau berusia 40 hari..aku, mengajarkanmu segalanya sebelum kau tau dunia yang sebenarnya....tapi aku tidak pernah menyangka aku memelihara seekor ular yang pada akhirnya, menancapkan bisanya padaku..kau tega merancuniku dengan sangat kejam." airmata Lusi menetes..
Stela terdiam mendengar kata-kata Lusi padanya, hatinya bergetar..yah, entah mengapa hatinya merasakan sakit walau samar....tatapan mata Lusi seakan membunuhnya.....
Hana yang melihat Stela sepertinya terpengaruh dengan kata-kata Lusi mendekat,menyentuh pundak Stela ia berbisik...
"Jangan pernah membiarkan dirimu lemah Stela,atau keadaan akan berbalik, bukankah dia telah menguasai papamu, bukan tidak mungkin kalau kau mudah disingkirkan karna kelemahanmu." bisik Hana menguatkan hati Stela..
Dan...selalu berhasil, Stela seperti mendapat kekuatan dari perkataan Hana padanya, ia tersenyum sinis pada Lusi..
"Katakan saja berapa uang yang kau inginkan agar aku bisa mengganti semua jerih dan lelahmu dalam mengurusku,aku yakin itu tidak murah...dan kau pasti akan memanfaatkannya dengan baik, jadi katakan saja.." tantang Stela tajam...
Lusi tersenyum.....
"Apakah ada seorang ibu yang meminta anaknya mengganti semua jerih lelahnya dalam mengurus anaknya, kalau ada tunjukan padaku Stela...walau aku bukan wanita yang melahirkanmu, tapi aku..adalah wanita yang pertama kalinya menuntunmu menyentuh tanah..akulah wanita itu yang menangkap tubuh kecilmu setiap kali kau jatuh ketika berjalan,dan aku.....wanita itu yang menangis jika kau sedang sakit Stela...Lusi memejamkan matanya dengan sedih... Aku merelakan semuanya untukkmu..semoga kau bahagia dengan apa yang kau inginkan Stela."
Lusi menarik kopernya dan melangkah melewati Stela yang tanpa sadar meneteskan airmatnya walau ia tak ingin,segala ingatan-ingatan masa kecil mulai menuduhnya.....
Tak lama kemudian terdengar tangisan kecil Stela yang terjatuh.....
"Ibu.........ini sakit bu."
"Bertahanlah sayang...ibu akan menggendongmu, kau harus kuat kau kan anak ibu." )
Stela memejamkan matanya....ketika rasa sakit dalam dadanya mulai menyerangnya..
Lusi hampir sampai di pintu...
"Lusi..jangan pernah melangkah keluar dari pintu itu." teriak Aksana menuruni tangga dengan tatapan tajam...
Lusi menghentikan langkah ia pun menoleh...
"Kau mau apa tuan Aksana yang terhormat, apa kau mau membunuhku..,silahkan saja aku tidak takut." desis Lusi menantang...
Aksana mendekati Lusi dan mengeraskan tatapannya..
__ADS_1
"Kau adalah istri dari Aksana Putra, kau tidak akan pernah ku biarkan keluar dari sini atau aku akan menghancurkan semua yang kau sayang hingga kau akan lupa caranya tersenyum." Aksana bersedekap..
Lusi semakin membenci pria yang masih saja egois ini dan mendekatinya...
"Silahkan saja...aku tidak perduli lagi perlu kau ingat Aksana antara kita sudah berakhir dan aku...tidak akan memaafkanmu atau memberimu kesempatan kedua....
Aksana begitu marah melihat Lusi tidak sedikitpun mendengarkan dirinya..Lusi membalikan tubuhnya dan melangkah namun tidak lama karna Sean mencengkram kembali tubuh Lusi dan memaksanya menoleh ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan." jerit Lusi Marah...
"Aku sudah bilang kau tidak akan pernah meninggalkan rumah ini Lusi."
"Lepaskan aku....sekuat apapun kau menahanku namun sekuat itu juga aku akan berusaha pergi darimu Aksana."
"Diam...." bentak Aksana dengan suara tajam.....
Stela yang mendengar itu memejamkan matanya takut, airmatanya menetes sedih...mengapa semua jadi begini, pandangannya masih terarah lurus pada sosok Lusi yang entah mengapa bagai magnet yang menariknya untuk terus menatap wanita yang telah membesarkannya itu....ada rasa penyesalan di mata Stela yang sungguh besar...
"Aku tak akan diam...Lepas Aksana." sekuat tenaga Lusi meronta hingga tak sengaja tangan besar Aksana mengenainya dan iapun terjatuh ke lantai..
Pada saat bersamaan Mikha masuk dengan senyumnya terlihat lebar...memegang sebuah lembaran yang berarti di tangannya,...
"Papa...aku adalah......" kata-kata Mikha terputus....
Betapa terkejutnya Mikha melihat Lusi terjatuh di lantai dan menangis....airmatanya menetes menatap papanya..
"Apa yang terjadi...mengapa papa memukul mama."? ucap Mikha dengan tatapan menuduh,...
Aksana kehilangan suaranya, sungguh ia tidak sengaja tadi.....sementara Lembaran kertas di tangannya jatuh tanpa mampu ia pegang,segera Mikha menunduk menatap Lusi...
"Mama....."
"Lupakan semuanya nak, kita harus pergi menjauh dari keegoisan mereka...mama sudah tidak sanggup." tangis Lusi menatap Mikha dengan hancur...
"Mama..apa yang papa...."
"Dia bukan papamu Mikha."
Lusi berdiri dan menatap mata Aksana penuh dendam...
"Kau benar.....kalau Mikha bukan anakmu tapi hasil selingkuhanku..jadi mari saling melepaskan saja...hiduplah dan berbahagia bersama putrimu Stela, dan...lupakan kami." tatap Lusi dengan dingin.....
__ADS_1
Aksana sungguh terkejut dengan pernyataan Lusi yang penuh rasa sakit...sungguh ia menyesal...tatapannya turun di lembaran yang terjatuh dari genggaman Mikha dengan penasaran...
Lusi menggenggam jemari Mikha dengan gemetar lalu menariknya keluar dari rumah besar itu.........terlalu sakit untuk mengulang apalagi dengan orang yang sama, ia tidak menyia-nyiakan waktu sama sekali...Lusi meninggalkan Aksana dalam kebingungannya..