
Livia tertegun ketika seorang pelayan mengulurkan sebuah ponsel kepadanya.
"Nyonya." gadis itu menyerahkan sebuah ponsel miliknya.
"Apa ini."?
"Tuan Roni ingin bicara."
"Aapa maksudmu, Roni."? Livia melebarkan matanya tidak percaya.
"Yah....cepatlah, cctv sedang diperbaiki jadi ini kesempatanku untuk menemui nyonya."ucapnya dengan pelan.
Livia menatap pelayan itu dengan tajam. hatinya cemas menimbang-nimbang apakah harus menerima atau mengabaikannya.jemarinya bergetar saat memutuskan mengambil ponsel itu.
"Kau tau resikonya, jika melakukan ini."? ucap Livia dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sangat siap dengan resikonya nyonya Livia, meski aku tau Meri telah mati karna tugas yang sama..tapi aku tidak sama dengannya, kali ini kita pasti berhasil nyonya." ucap pelayan itu dengan keyakinan.
"Siapa namamu."?
"Mira." jawabnya tenang.
__ADS_1
"Mira, dimana tuan Rusell sekarang." liriknya cemas.
"Tuan Rusell sedang bersama nona Eva."
Jemari Livia terkepal, yah...untuk apa dia menunggu Rusell disini ketika pria itu tengah bersama wanita lain, airmatanya menetes. munhkin cintanya pasa Roni sudah terkikis habis, tapi kesetiaan Roni kepadanya tidaklah berkurang sedikitpun. Livia menyesal pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi dari pria ini. pria yang tidak segan menyakitinya dengan begitu dalam. hingga Livia menderita.
Livia menatap Mira dan tersenyum sambil menganggukan kepala.
"Rahasiakan ini hanya hntuk kita berdua Mira, jangan terlalu dekat denganku..apa kau mengerti."?
"Yah...tentu saja nyonya Livia."
🧡
Namun pria tampan itu sayangnya hanya bertekuk lutut dihadapan seorang wanita cantik bernama Livia Morens yang adalah istrinya sendiri.
"Kau tau Eva, seluruh tubuhku kesakitan sepanjang malam." Rusell menggeleng hampir tidak percaya kalau dia bisa terikat begitu dalam dengan istrinya.
"Mengapa kau tak mencariku saja,aku pasti akan memuaskanmu." ucap Eva merasa kasihan.
Rusell kembali menggeleng dengan enggan, Livia layak untuk ditunggu, kenikmatan yang tak bisa dibandingkan dengan wajita manapun.
__ADS_1
"Aku tidak bisa selain Livia ingat."?
"Yah..aku selalu ingat, tapi aku hanya kasihan padamu..kau bisa mendapatkan apapun."
"Livia...aku akan mendapatkannya, aku akan mendapatkan tubuh dan hatinya aku berjanji."
"Janji seorang Rusell Wins..aku percaya, tapi sampai kapan kau menunggu,"?
"Aku hanya perlu sedikit waktu lagi Eva..sedikit waktu lagi." ucap Rusell mengedipkan matanya.
Ruzell menyesap anggurnya sembari menatap ke kantai atas tepatnya ke arah balkon kamar Livia dan tertegun ketika Livia menatapnya tajam dari atas sana. pandangan itu begitu penuh kerinduan dan putus asa. lalu sesaat kemudian Livia lebih dulu memutuskan pandangan dan melangkah meninggalkan balkon.
Apa arti tatapan Livia saat ini, mengapa ia merasa sesuatu akan terjadi diluar kendalinya. haruskah ia menyelidiki sekali lagi.
Rusell menatap Eva dan berpamitan dengannya meinggalkan wanita itu dan menuju kamar Pedro.
Pria tua itu sedang duduk mengamati cctv sembari berfikir.
"Apa yang terjadi kali ini pedro." ucap Rusell penuh arti.
"Yang pasti kali ini, dia mencoba lagi tuan."
__ADS_1
"Baiklah...aku ingin membuat ini jadi menarik Pedro." lirik Rusell dengan sangat tajam.
"Sesuai permintaan tuan Rusell." Pedro menundukan kepalanya.