
Mikha mengetuk pintu kamar mamanya dari luar, Martin sudah kembali dan ingin bertemu. tak lama kemudian pintu terbuka, senyum hangat dari wajah Lusi membuat Mikha lebih lega..
"Boleh aku masuk Mah..."
"Tentu sayang, mama sedang membaca majalah." ucap sang mama dengan pelan...
Mikha mengangguk dan melangkah masuk duduk bergabung dengan dengan mama yang lebih dahulu duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana tidur mama, nyenyak."? tanya Mikha memeluk wanita yang ia cintai itu..
Lusi mengangguk walau matanya menjadi basah....hal itu membuat Mikha menoleh..
"Mengapa...mama menangis."?
"Mikha.....rasanya mama lega bisa tidur dengan nyenyak setelah memastikan kau bisa aman dan baik-baik saja nak..selama ini mama selalu hidup di dalam ketakutan dan cemas..mama selalu menekanmu walau mama tidak mau dan rasanya itu sangat menyakitkan."
Mikha mengangguk..matanya menjadi panas....dengan penuh rasa haru Mikha menggenggam jemari Lusi,
"Semua sudah berlalu Ma.....aku pastikan kita akan hidup bahagia mulai dari sekarang, dan Aksana....dia akan merasakan bagaimana rasanya di abaikan Mah....aku tidak akan memaafkannya."
"Ssst...meski kau benci padanya,dia tetap papamu Mikha, Tuhan akan membalas perbuatannya mama yakin."
"Aku akan mencoba Mah...meski sulit sekali...aku ingat ketika dulu...setiap aku meraih rangking atau setiap habis pentas, papa tidak akan pernah mau menghadirinya, papa tidak pernah memujiku seperti anak yang lain...aku merasa itu sangat menyakitkan dan tak bisa aku lupa dengan mudah mama."
Lusi menggeleng mengerti....jemarinya naik dan merapikan anak rambut Mikha yang jatuh....
"Maafkan mama dan papa nak...maafkan kami, Mama hanya berharap kau akan hidup bahagia...mencintai dan dicintai." Lusi menghapus airmata Mikha yang menetes....
Mikha tersenyum.....
"Aku lupa jika Martin sudah menunggu kita di bawah." ucap Mikha hati-hati...
"Benarkah,.....mengapa kau tidak memberitahu mama, kasian dia menunggu kita." ucap Lusi menggeleng protes.....
"Dia pria yang sabar." bisik Mikha malu-malu....
"Mama sangat bersyukur untuk itu sayang, baiklah...ayo kita menemui calon menantu mama." ucap Lusi dengan antusias..
💖💖
Martin berdiri dengan gugup, bagaimanapun ini pertama kalinya ia bertemu dengan orangtua Mikha, apa yang akan dikatakan mama Mikha, apakah penampilannya baik,
Astaga...Martin mengusap kepalanya dengan pelan...melirik lagi penampilannya, ini pertama kalinya ia berhadapan dengan seorang ibu..bicara tentang sosok ibu Martin sudah lama kehilangannya,
Ibunya meninggal ketika ia berusia 7 tahun dan ayahnya baru saja meninggal 3 tahun lalu, Martin sebatang kara di dunia. dan akhirnya membawanya pada pamannya yang menawarkan pengalaman baru untukknya...
Martin tertegun ketika terdengar bunyi langkah kaki menuruni tangga, ia pun lalu menganggkat wajahnya, dan tersenyum ketika Mikha meliriknya penuh cinta...
"Selamat malam Mama Lusi." ucap Martin menunduk hormat pada Lusi...
Lusi merasa bahagia dengan pria yang menunjukan rasa hormat pada orang yang lebih tua.
__ADS_1
"Selamat malam Martin..senang bisa bertemu denganmu." balas Lusi dengan ramah dan keibuan...
Martin tersenyum, dan mengulurkan tangannya pada Lusi dan disambut hangat oleh Lusi..
"Aku lebih senang lagi bertemu dengan mama, sejak pertama kali bertemu Mikha aku ingin sekali mengenal orangtuanya."
"Dan kau sudah bertemu dengan mama sekarang, namun mengenai papa Mikha tentu kau sudah tau apa yang sedang terjadi."
"Aku mengerti Mama..."
"Baiklah..mama tenang sekarang."
Martin kemudian kembali menunduk hormat pad Lusi dan wania itu mengerutkan kening...
"Ada apa Martin."?
"Aku..mencintai Mikha dan aku ingin menikahi Mikha, dengan restu mama..aku akan menjaga Mikha dengan nyawaku...maaf jika selama ini aku belum sempat meminta langsung Mikha di hadapan mama." ucap Martin lagi-lagi membuat Lusi terharu...
Selama ini tak pernah ia temui pria yang mencintai Lusi dan menghormatinya dengan sebesar ini, bahkan Roland yang pernah menjadi kekasih Mikha bahkan bersikap dingin ketika bertemu.
"Aku tidak meminta apapun sebagai orangtua Mikha Nak...asal kalian saling mencintai dan percaya lalu hidup bahagia maka itulah yang terpenting bagi orangtua apalagi seorang ibu, aku merestui kalian berdua anak-anakku." ucap Lusi dengan yakin.....
Martin sungguh bahagia, suasana menjadi hangat dan akrab....
saling bercanda dan saling mengenal satu sama lain, Lusi menceritakan masa kecil Mikha yang lucu dan Martin mendengarnya dengan penuh rasa penasaran.
"Jadi...dimana orangtuamu Martin."? tanya Lusi penasaran ia ingin mengenal calon besannya, mungkin mereka bisa lebih dekat dan mulai membicarakan masa depan anak-anak mereka.
"Benarkah...maafkan Mama..."
"Tidak mengapa..justru aku harus jujur."
"Baiklah.... mama mengerti Martin, mulai sekarang kau bisa menganggap mama seperti ibumu sendiri."
"Terimakasih." ucap Martin merasa lega...sambil melemparkan pandangan bahagia kearah Mikha yang juga tampak lega....
❤❤
"Jadi...besok kau akan ke perusahaan."? tanya Martin ketika mereka sedang duduk di taman...
"Yah....aku akan kesana, aku harus mengambil sisa barangku dan meninggalkan perusahaan."
"Bagus, bagaimana kalau aku mengantarmu."?
"Tidak usah..aku akan pergi sendiri."
"Apa kau yakin."?
"Yah..aku tidak lama disana."
Martin memegang pundak kekasihnya dan menatapnya dengan dalam..
__ADS_1
"Baiklah aku tidak memaksa....aku hanya ingin kau tau jika aku slalu mendukungmu sayang." ucap Martin dengan sungguh.
"Itu sangat berarti untukku Martin.."
Keduanya kembali duduk menghadap taman dan melanjutkan cerita...
💖💖
Mikha turun dari mobilnya, hari ini ia memutuskan ke perusahaan untuk mengambil barangnya dan mengucapkan selamat tinggal...
Dengan langkah penuh percaya diri Mikha melangkah, memasuki gedung....
Beberapa teman dekatnya langsung menghampirinya dan memeluknya erat. apalagi mereka tau jika Mikha akan keluar...
"Kau akan mendapat proyek Hotel itu Mikha..mengapa kau malah pergi."?
Mikha menggeleng tersenyum sambil meletakan barang-barangnya di dus..
"Aku ingin menikah,dan memulai kehidupan baru."
"Benarkah..."? seru Siska teman dekatnya...
"Yah...."
"Pastikan kau mengundangku.."
"Baiklah Siska..pastikan kau datang." ucap Mikha tersenyum...
"Itu pasti..." suara Siska tenggelam ketika ia melihat ke arah pintu siapa yang datang....
"Presdir..." desahnya dengan gugup...
Sementara Mikha menutup dusnya acuh, walau dalam hatinya sudah terjadi gemuruh sedari tadi......
"Pergilah...aku ingin bicara dengan putriku." ucap Aksana dengan tegas,..
Siska mengangguk dengan patuh, lalu meninggalkan keduanya dan menutup pintu di belakangnya...
Aksana menghela nafas..ia merasa lega menyadari Mikha baik-baik saja..putrinya.........
"Mikha.....putriku."
Mikha mengepalkan tangannya dengan sangat kuat..sungguh hatinya membara saat ini.....ia menoleh dan menatap tajam ke arah Aksana, mulai saat ini Mikha tak akan mengemis kasih sayang pada pria kejam ini..baginya papa sudah mati...
"Apa kau takut aku membawa barang-barang perusahaan, karna itu kau mengikutiku kesini tuan Aksana yang terhormat."? desis Mikha bersedekap menantang, berdiri berhadap-hadapan dengan pria yang masih tampak gagah dan kuat itu....
Aksana sungguh merasakan nyeri ketika kata-kata dingin Mikha begitu menusuk hatinya, tak ada lagi jejak senyuman yang biasa Mikha tunjukan padanya di setiap pertemuan mereka..yang ada hanya tatapan membunuh dari putri yang tidak pernah di akuinya...mata Aksana basah, hatinya sungguh sakit.
Ia melangkah mendekat mencoba menatap Mikha dari dekat, hal yang tak pernah ia lakukan selama ini...
"Berhenti....jangan mencoba mendekatiku...aku membencimu." jerit Mikha dengan suara serak, penuh rasa sakit......
__ADS_1