
"Apa maksudmu Mikha..."
Mikha memandang Martin yang tampak begitu pucat...yah ia bisa membayangkan perasaan Matin saat ini sebagai seorang pria Martin tentu ingin sekali punya anak, apalagi Martin adalah penerus bagi keluarganya, seorang anak itu penting untuk masa depannya,
Martin memejamkan mata betapa hancurnya Martin ketika harus menerima kenyataan pahit ketika pernikahan sudah di depan dimata, dan cinta sudah tidak bisa diragukan lagi, ia mencintai Mikha dengan seluruh jiwanya...
"Sejak kapan...apa kau pergi bersama pria itu, melakukan operasi pengangkatan rahim secara diam-diam tanpa sedikitpun memberitahuku.."
"Martin semua terjadi di luar kendaliku, Damian dia,....."
"Wah...kau hebat sekali Mikha..kau bahkan tidak menganggapku sebagai kekasihmu..kau tidak memberitahuku apapun dan memilih membaginya dengan pria itu yah......mengapa"?
Mikha sungguh kehilangan kata, Martin sudah salah paham......
"Kau menuduhku Martin."
Martin tertawa kesal....
"Jelaskan padaku jika kau berada di posisiku Mikha, aku mencarimu bahkan tidak perduli waktu..aku hampir gila karna nyaris tidak pernah tertidur dan hanya terus memikirkanmu......."
"Apa maumu sekarang Martin, aku sudah pasrah..." desis Mikha menantang....
Martin menatap tajam ke arah Mikha yang menantangnya, Mikha sama sekali tidak menjawab dan hanya memandangnya dengan ekspresi dingin seolah cinta sudah tidak ada lagi....
"Aku ingin kau kembali padaku..karna aku tidak akan melepaskanmu Mikha."
"Aku seorang wanita yang sampai kapanpun tidak bisa memberimu seorang anak Martin..." tangis Mikha pecah saat itu juga...
"Lalu mengapa..aku tidak perduli Mikha..aku tidak perduli dengan adanya anak atau tidak..kita bisa adopsi anak atau memakai jasa ibu pengganti, yang terpenting adalah aku mencintaimu dan akan menerima semuanya...aku tidak bisa hidup tanpamu Mikha tolonglah..."ucap Martin tegas..
"Benarkah....sampai kapan kau akan mencoba bersikap baik padaku.."? ucap Mikha sinis...
"Mikha....aku tidak pernah memikirkan seperti yang kau tuduhkan." Martin menoleh dengan gusar.
"Satu...dua...tiga tahun pertama kau akan menahan perasaanmu Martin tapi aku tak yakin kau akan menahan perasaanmu di tahun ke empat." ucap Mikha dengan keyakinan penuh...
Martin mengangguk dengan nada kecewa...
"Itu artinya kau belum mengenal siapa diriku Mikha......itu berarti selama ini kau berpikir cintaku hanya berdasarkan untung rugi..kau sama sekali tidak sungguh-sungguh mengenalku." tatap Martin tajam.....
"Paling tidak aku belajar sifat alami manusia..Martin, semua pada akhirnya akan mementingkan dirinya sendiri dan egonya."
"Lalu apa artinya cinta jika semua orang terlihat sama dimatamu Mikha..."? ucap Martin mencoba menenangkan kekhawatiran kekasihnya....
"Aku menyerah Martin...." ucap Mikha hendak membuka pintu mobil...
__ADS_1
"Jangan coba-coba pergi Mikha...atau kau akan menyesal." Martin mencengkram stir mobil dengan kuat....
Mikha menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di jok mobil....
Hening sesaat.......sebelum Martin melanjutkan pembicaraan.....
"Aku akan tetap menikahimu.."
"Tidak...."
"Aku akan menikahimu tak perduli kau setuju atau tidak."teriak Martin tegas....
"Aku tidak mau menjadi beban siapapun Martin..." ucap Mikha menggeleng enggan..
"Tak ada beban dalam cinta Mikha..aku akan membuktikan padamu aku mencintaimu dengan adanya anak atau tidak."
"Aku tidak bisa maaf."
"Aku yang harusnya minta maaf Mikha...aku harus tetap menikahimu, sekarang kita akan menemui bibiku."ucap Martin segera mengemudikan mobil secepatnya...
Sekarang ia tau alasan Mikha dan Martin akan menerima semua kekurangan Mikha dengan lapang dada..
Sedangkan Mikha ia memandang keluar jendela, tidak bisa...ia tidak mau egois dengan rasa cintanya, Martin berhak mendapatkan lebih baik darinya....bukan wanita tanpa rahim sepertinya...Mikha memejamkan mata sekali lagi ia membiarkan kesakitan itu menguasai hatinya...
💖💖
Martin turun dan menggenggam jemari Mikha yang dingin mereka melangkah menuju meja yang sudah di pesan sang bibi......
Dari jauh tampak seorang wanita anggun dari kelas atas tersenyum padanya. Martin membawa Mikha dan membungkuk hormat pada sang bibi...
"Apa kabar bibi.."? ucap Mikha dengan sangat sopan...
"Kau sangat cantik Mikha.." puji sang bibi sinar mata penuh penilaian....
"Ayo duduk, bibi sudah tidak sabar lagi bertemu kau Mikha dan akhirnya kita betemu juga..."
"Aku juga senang bisa bertemu bibi." ucap Mikha tersenyum....
Martin menatap ke arah Mikha dengan lega...Mikha menujukan sikap yang sangat manis...
Makanan di pesan dan merekapun akhirnya duduk dan mulai makan bersama....
"Apa makanannya enak...bibi memilih makanan disini karna menunya yang sangat enak..bagaimana Mikha."?
"Ini enak bibi walau sebenarnya lebih suka daging." ucap Mikha tersenyum dan membuat Martin hanya mendesah..
__ADS_1
Apakah Mikha akan berbuat onar...?
"Maafkan bibi...apa kau mau memesan ulang.."?
"Aah...tidak, aku sudah cukup bibi." Mikha menutup senyumnya...
"Baiklah..." ucap bibi dengan mata yang bersiar tajam....
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian...setelah menikah, kalian akan langsunb berbulan madu...dan aku rasa aku pantas mendapatkan seorang cucu lagi dari Martin."
Martin terdiam...sesaat melihat ke arah Mikha yang juga menatapnya tajam....
"Bibi tentang itu....." kata-kata Martin terputus....
"Aku ingin bicara bibi." ucap Mikha menyudahi makannya...
Begitu juga dengan Martin...ia meraih gelas berisi air dan meneguknya sampai habis sambil menghela nafas...
Wajah bibi Meri berubah tegang, ia pun kehilangan nafsu makan dan mulai menatap serius ke arah Mikha dan Martin secara bergantian...
"Katakan Mikha..."
Mikha menghela nafas....
"Aku ingin mengatakan jika, terjadi sesuatu di rahimku dan aku....telah di operasi untuk pengangkatan rahim." ucap Mikha dengan kesedihan yang berusaha di telannya....
Wajah bibi Meri begitu pucat, sesaat ia menatap ke arah Martin yang tampaknya tidak terkejut,....
"Apa maksudmu..kau tidak akan bisa meneruskan garis keturunan keluarga Sebastian..."? ucap bibi Meri dengan wajah pucat...
Martin yang melihat akan terjadi perang kata sebentar lagi berdehem, ia akan menjadi seorang suami jadi inilah saatnya ia bersikap tegas...
"Bibi....aku minta maaf tapi aku sangat mencintai Mikha dan aku akan tetap menikahinya..."
Wajah bibi Meri berubah menakutkan....
"Apa kau sudah gila Martin...kau satu-satunya pewaris kekuara orangtuamu..bagaimana bisa kau mengorbankan sesuatu yang begitu besar...apa kau sudah gila.?
Mikha memejamkan matanya dengan airmata yang coba ia tahan sedari tadi...namun sekuat apapun ia mencoba namun tetap saja..ada lubang di hatinya, ada rasa sakit yang mungkin akan di tanggungnya seumur hidup jika keras kepala....Mikha berdiri, karna ia sudah enggan berada disini.
"Maaf membuat acara makan siang ini menjadi kacau...bibi, aku akan menerima pembatalan pernikahan kami..."ucap Mikha dengan mata yang basah....
Martin mengangkat wajah...
"Apa kau sudah gila Mikha......aku tidak akan melepasmu.." ucap Martin memberi peringatan....
__ADS_1
Kali ini bibi Meri berdiri dan menatap tajam kepada Martin...
"jangan pernah membodohi dirimu dengan cinta yang sementara, karna pada akhirnya kau butuh penerus...." ucap wanita dengan setelan dari ujung kaki sampai rambut terlihat mahal itu dengan tegas.......