
Rusell mengangkat gelasnya, baru sampai dibibirnya ia mengurungkan niatnya dan menatap Melinda dengan tajam.
"Selagi aku masih berbaik hati untuk mengampunimu, bisakah kau berhenti saja dan mencoba untuk jujur padaku." Rusell meletakan gelas tidak tertarik lagi untuk sekedar mencicipnya.
Melinda menaikan alis bingung, ia tidak mengerti maksud dari kak Rusell. apakah ia harus jujur tentang apa yang baru saja ia lakukan bahwa dia menaruh obat perangsang kedalam minuman itu. itu sama saja ia bunuh diri dan Melinda tak akan melakukannya.
"Aku tidak mengerti maksud kakak." ucapnya berlagak polos.
"Baiklah...bagaimana kalau kau minum saja minuman yang kau bawa untukku karna kau lebih membutuhkannya Melinda."
"Aku." jerit Melinda dengan wajah pucat...ia langsung menggeleng dengan wajah pucat.
"Mengapa kau menolak Melinda." sinar mata Rusell berubah tajam.
"Aku hanya...tidak haus."desah Melinda dengan suara yang bergetar.
Rusell bangkit dari tempat duduknya, meraih sesuatu dari balik sakunya dan tersenyum dengan kejam ke arah Melinda.
"Kakak apa yang kau laukan, kau ingin menembakku." jerit Melinda dengan histeris ketika pistol itu ditempelkan Rusell dikepala Melinda.
"Kau lupa siapa aku Melinda, beraninya kau ingin mengerjaiku untuk menghancurkan rumah tanggaku." teriak Rusell dengan suara menggelegar seolah siap membunuh.
"Aku tidak...."
"Kau pikir aku pria bodoh yang akan duduk diam menunggu kau dan juga Roni bersekongkol untuk mengancurkan aku, kau tau jika aku bukan pria yang baik Melinda..dan kau berani menghinaku, orang yang selama ini perduli dan membiayai kebutuhanmu karna aku menganggapmu seperti Marsya adikku tapi kau....tidak tau diri ya." tatap Rusell dengan tajam.
Airmata Melinda menetes.. apakah kak Rusell tau tentang rencana mereka dan darimana dia tau.?
"Kakak... aku tidak melakukan apa-apa."
Duarrr.....................
Suara tembakan itu membuat Melinda melebarkan matanya dengan ketakutan, ketika kak Rusell menembak pajangan guci tepat disamping hingga tubuhnya gemetar melihat guci itu hancur dengan mengenaskan. Rusel mendekatinya hingga meraih tubuh Melinda agar sejajar dengannya dan begitu geram.
__ADS_1
"Jika sekali lagi kau berbohong dan tidak mengatakan kebenaran kepadaku maka peluru ini akan menembus kepalamu dalam hitungan detik." ancam Rusell tidak main-main.
Tenggorokan Melinda tercekat, dia merasa dicekik dengan kuat. dan tak bisa bernafas walau Rusell bahkan belum melakukan apa-apa kepadanya. ia sangat ketakutan membayangkan peluru itu menembus kepalanya. tak ada jalan lain selain menyerah, atau dia akan mati sekarang. sial....bahkan dia belum memulai untuk membalas Livia.
"Kakak...turunkan pistol aku sangat takut kak."
"Jawab dulu....atau aku akan membunuhmu sekarang juga." Rusell semakin menajamkan tatapan.
"Baiklah.... aku akan jujur, tapi turunkan dulu pistol itu atau aku akan mati karna ketakutan sebelum menjelaskan semuanya." jerit Melinda histeris.
Rusell menurunkan pistolnya, dan menghempaskan tubuh Melinda ke sofa lalu menatapnya dengan sangat tajam.
"Aku....dan Roni sebenarnya bekerjasama untuk menghancurkan hubungan kak Rusell dan kak Livia lalu aku bisa....mendapatkan hati kakak dan Roni bisa mendapatkan Livia kembali.
Rusell mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Lalu...."? Rusell menaikan kedua alisnya.
Melinda menundukan kepala, kedua jarinya saling bertautan untuk menyalurkan kekuatan. ia tak pernah membayangkan kalau kak Rusell akan mengetahui rencana mereka dan semarah ini kepadanya. selama ini selalu bersikap lembut dan tidak pernah menunjukan sikap menyeramkan seperti ini.
"Kau sangat pintar memutar kata Melinda, aktingmu sangat luaar biasa adikku, bagaimana kalau kau memainkan sebuah peran lagi." ucap Rusell memaksa.
"Kak...Rusell....."
>>>>**<<<<
Livia menatap Roni yang hanya membeli beberapa minuman. wanita itu hanya menggeleng.
"Katanya kau mau berbelanja, tapi mengapa hanya membeli itu."? tunjuk Livia ke arah troly Roni yang hanya di isi beberapa minuman kaleng. pria itu mengusap rambutnya dengan pelan.
"Aku berubah pikiran Livia, mungkin Aleta saja yang akan berbelanja nanti."
"Roni, aku rasa Aleta wanita yang baik..bukalah hatimu sedikit saja." ucap Livia sambil mereka terus berjalan ke arah mobil setelah selesai berbelanja. Roni hanya diam tanpa membalas sedikitpun kata-kata Livia, pria itu malah membantu Livia memasukan barang belanjaannya ke mobil. sementara Marsya dan Angel sudah lebih dahulu masuk.
__ADS_1
"Urusan hatiku biarlah aku yang memikirkannya Livia, dan soal Aleta..tidak akan ada sesuatu yang istimewa di antara kami mungkin saja dia sekarang sudah punya kekasih." ucap Roni seraya melonggarkan tenggorokannya karna merasa tidak yakin. selama ini Aleta tidak pernah menggandeng orang lain dan hanya selalu bersamanya.
"Baiklah aku tidak bisa memaksamu Roni tapi...aku hanya ingin bilang bahwa, aku sangat mencintai suamiku dan tidak akan mungkin berganti hati....maafkan aku Roni karna aku tidak akan bisa mencintaimu lagi."ucap Livia dengan menundukan kepala.
Roni hanya menundukkan kepala, sesaat merasa sedikit nyeri..tapi mengapa ia merasa hanya sedikit nyeri, mengapa ia tidak merasakan perasaan hancur seperti dulu.
"Aku mengerti Livia, ayo kita pergi sekarang." ucap Roni seraya membuka pintu mobil untuk Livia. wanita itupun masuk dengan kelegaan luar biasa karna dia sudah menjelaskan perasaannya.
>>>>^^<<<<
Aleta telah memasukan semua baju-bajunya kedalam koper dengan isakan sedih. yah....dia telah menyiapkan segalanya untuk pergi. tinggal menunggu Roni pulang lalu dia akan pamit. dan meninggalkan rumah ini, kota ini untukk selamanya. Wanita itu menundukan kepala dengan isakan sedih yang menggema diruangan itu.
>>>^^<<<
Akhirnya mobil sampai di garasi rumah milik Livia, Roni lebih dahulu turun membantu Marsya keluar dari mobi dan menggendong Angel. Livia segera turun dan menggendong Angell bersamanya. ia menatap para pelayan yang sibuk menurunkan barang, lalu menatap Roni.
"Ayo masuk dulu....aku akan membuatmu minum." ucap Livia sambil melangkah di dikuti Marsya dibelakangnya bersama Roni yang berjalan pelan.
Begitu pintu rumah dibuka ketiganya di sambut oleh senyuman Melinda yang seperti biasa membuat Livia dan Marsya jengkel.
"Apakah belanja hari ini menyenangkan kakak." tatap Melinda dengan nada lembut.
"Sangat menyenangkan, tanpamu Melinda." tatap Livia lurus pada Melinda yang terdiam.
"Kak Rusell mencarimu dikamar." ucap Melinda tajam.
"Di kamar, mengapa kau yang diberi tau, dia bisa menelfonku atau mengirim pesan." Livia menggertakan giginya.
"Mana aku tau, ketika aku keluar kamar dia menitip pesan." ucap Melinda cuek.
Livia mengepalkan jemarinya...lalu melangkah melewati mereka semua dengan perasaan campur aduk. Marsya hanya menatap jijik kepada Melinda lalu meninggalkan mereka berdua dengan tatapan kesal.
sehingga tinggalah Melinda dan Roni saling berhadapan dengan tatapan tajam...Melinda tersenyum...
__ADS_1
"Apa kau berhasil melakukannya, apa kau berhasil menjebaknya untuk tidur dengannmu." tanya Roni dengan tidak sabar.
"Sebenarnya aku...."