
"Roni.."? ucap Livia seakan tidak percaya dengan matanya...
"Roni." desahnya sekali lagi dengan suara yang serak..
Rasanya tidak percaya dengan pandangan matanya, Roni berdiri di hadapannya dengan keadaan yang baik-baik saja tidak ada kondisi serius ia sehat dan..hidup... pria itu tampak datang membawa seikat bunga dan memberikannya pada Livia, dan Livia menerimanya.
"Roni." jerit Livia dengan suara tercekat...
"Ya..Livia aku disini." ucap Roni dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana bisa..kau..bukankah kau tertembak dan sudah.....
"Mati maksudmu Livia." tatap Roni dengan mata yang berbinar..
Livia hanya mengangguk dengan airmata yang menetes....
"Bukankah kau tertembak dengan luka yang sangat parah di dadamu." isak Livia kembali mengenang perisatiwa penembakan itu.
"Aku selamat Livia." tatap Roni dengan wajah yang serius...
"Aku benar-benar mengira kau sudah tidak ada lagi Roni, aku mengira kau sudah mati... dan aku.."
"Sstt...aku disini dan masih hidup Livia." ucap Roji dengan wajah tertunduk, kembali menyentuh jemari Livia seakan mimpi bagi Roni. dan keinginan untukk merebut Livia dari pria kejam itu semakin kuat...
"Bagaimana dengan lukamu Livia." ucap Roni menatap ke arah perut Livia.
Livia menunduk searah mata Roni menatap, dan tersenyum skeptis.
"Lukaku sudah mengering walau masih terasa sakit." ucap Livia mencoba tersenyum walau airmatanya juga ikut menetes.
"Boleh aku memelukmu walau hanya sebentar saja." tatap Roni penuh harap.
Livia tertegun bagaimana jika Rusell masuk di saat yang tidak tepat,suaminya akan salah paham dan Livia tidak ingin kembali bertengkar.
Roni mengepalkan tangannya ketika menyadari Livia meragu apakah pria brengsek itu sudah membuat Livia mencintaiinya....
"Maaf..aku lupa bahwa aku bukan siapa-siapa lagi bagimu dan kau sudah menikah." ucapRoni dengannada kecewa yang kentara.
"Baiklah..ayo peluk aku,aku juga sudah sangat merindukannmu tatap Livia dengan senyuman.
Roni mengangguk lalu mendekatkan dirinya pada Livia dan meraih tubuh wanita yang masih begitu ia cintai selama bertahun-tahun itu begitu erat, sambil memejamkan matanya Roni merasa jantungnya kembali bergetar seolah memberinya kekuatan untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikknya, harumnya tubuh Livia masih sama tidak ada yang berubah dari wanitanya selain Livia semakin cantik dan lebih berisi.
Pada saat yang sama pintu ruangan terbuka dan Rusell membeku disana dengan tatapan dingin ketika melihat Roni begitu berani memeluk tubuh istrinya dengan begitu erat. hal yang sudah lama tidak juga dirasakan Rusell. dan apa yang sedang dilihat matanya begitu menyakitinya dan membuatnya sangat cemburu. kantong belanja yang di pegangnya dihempaskan begitu saja dengan marah ia mendekati keduanya dan menarik paksa tubuh Roni dari pelukan Livia da seketika menghantam wajah Roni dengan sangat kuat hingga tubuh pria itu membentur meja di ruangan itu. tatapan Rusell begitu membara menyadari Roni tak juga menyerah padahal ia sudah memutuskan menyelamatkannya dari kematian akibat luka tembakan waktu itu.
__ADS_1
"Beraninya kau mendekati istriku lagi..stelah aku menyelamatkan nyawamu." teriak Rusell dengan emosi.
Livia begitu terkejut dengan apa yang dia dengar saat ini..Rusell menyelamatkan Roni setelah dia sendiri yang menebakknya tapi mengapa..bahkan Livia tidak pernah tau itu dan selama ini membenci Rusell karna telah membunuh Roni.
Tapi mengapa Rusell tidak membela dirinya padahal dia bisa....
untuk yang pertama kali dalam hidupnya Livia merasa sakit luar biasa, Rusell ternyata tidak seperti apa yang ia pikirkan.ternyata Rusell masih punya hati untuk mengampuni. dan saat ini tidak ada alasan bagi Livia untuk terus membenci Rusell bukan, bahkan pria ini adalah suaminya.
Roni bangkit dari berdiri dan menatap Rusell dengan senyuman..
"Jangan salah paham dulu Rusell, itu hanya pelukan sebagai seorang teman." ucap Roni menatap Livia.
"Teman...kau pikir aku tidak tau apa yang kau rencanakan." Rusell mendekati Roni dengan tatapan membunuh..
Baru saja ia ingin menghantam wajah Roni..
"Rusell hentikan." jerit Livia dengan mata tajam..
"Livia kau membelanya." ucap Rusell dengan wajah kecewa.
Roni tersenyum menang...
"Aku sangat lelah, dan aku..tidak ingin menonton perkelahian kalian berdua, tidakkah ini cukup Rusell."
Livia mengangguk pada Roni dan kembali menatap Rusell yang masih dikuasai emosi yang begitu besar, jemarinya masih begitu mengepal dengan kuat.
"Aku hanya ingin hidup tenang Rusell, apa kau lupa jika aku sedang hamil anakmu, dan pelukan kami hanya sebatas teman" ucap Livia dengan keras hingga membuat Roni dan Rusell terkejut.
Bagi Rusell ia tidak menyangka jika Livia akan mengakui dihadapan Roni jika dia sedang mengandung anakknya, entah mengapa kemarahan yang tadi begitu menguasainya kini menguap digantikan rasa puas, apalagi melihat wajah Roni yang pucat karna terlalu terkejut dengan kabar yang baru saja di dengar olehnya. rasanya itu lebih dari sebuah pukulan yang telak bagi Roni.
"Kau sedang hamil Livia."? ucap Roni dengan tatapan tajam.
"Ya..Roni aku sudah hamil yang kedua." ucap Livia sambil tersenyum tampak senang berbanding terbalik dengan wajah Roni yang terlihat marah.
Pria itu mengusap kasar wajahnya. dan tersenyum..
"Kalau begitu aku permisi dulu Livia. aku lupa jika ada janji dengan klien." ucap Roni membuat alasan.
"Hati-hati Roni." ucap Livia melambaikan tangan.
"Pastikan kau mengemudikan mobil dengan benar Roni."tegur Rusell dengan senyuman sinis.
Roni melangkah pergi dengan sejuta amarah yang eolah meledak didalam dirinya. ia tidak akan menyerah...
__ADS_1
Rusell meraih belanjaan yang tadi di hempaskannya, lalu meletakan kembali di atas meja mengeluarkan beberapa potong roti yang sejak tadi diminta Livia lalu membawanya pada istrinya.
"Makanlah." ucap Rusell dengan wajah dinginnya. lalu membalikan tubuhnya,
"Rusell." ucap Livia dengan sangat lembut.
"Yah.."
"Kemarilah aku butuh bantuan." ucap Livia.
Rusell membalikan tubuhnya dan tertegun melihat Livia mengulurkan tangannya ke arah Rusell.
"Ada apa."
"Maafkan aku."
"Hmm."?
Rusell mendekati Livia dan membiarkan istrinya menggenggam jemarinya.dan tersenyum padanya, hal yang langka bagi Rusell.
"Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa kau menyelamatkan Roni."?
"Aku tidak melakukannya untuk menarik perhatiannmu Livia karna aku tidak ingin kau hanya mengasihaniku." tatap Rusell jujur.
"Lalu."
"Aku sadar ketika saat itu aku sudah jatuh cinta padamu walau masih dengan perasaan yang samar..aku menyelamatkannya karna kau pernah bilang jika aku bukanlah manusia, dan aku hanya ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku adalah manusia yang masih punya rasa iba walau hanya sedikit."
Livia mengangguk seraya menyentuh wajah Rusell yang tampak lelah.
"Kau tampan juga jika menumbuhkan kumis." bisik Livia menggoda.
"Aku tak akan mencukur."
Rusell menangkap jemari istrinya seraya mengecup berkali kali jemari Livia.
"Taukah kau, jika aku merindukan senyummu."
"Aku malah merindukan kau bersikap tegas."
Rusell melebarkan matanya tidak percaya.
"Livia..apakah kau sudah bisa menerimaku sebagai suamimu dan melupakan Roni." tatap Rusell dengan dalam.
__ADS_1