
Meri menatap Livia sekali lagi menyadari sang nyonya kembali ragu. mereka masih dikamar sementara waktu terus bergerak. bagaimana kalau nyonya Tania membatalkan rencananya malam ini.bagaimana jika rencana yang telah tersusun rapi dikepalanya akhirnya hancur berantakan. tidak..tuan Roni pasti akan sangat kecewa padanya.
"Nyonya Livia." ucap Meri kembali menunduk dihadapan Livia.
"Yah."?
"Sekarang adalah saatnya." ucap Meri
"Sekarang...tapi Meri aku merasa sedikit takut.
"Nyonya, tuan Roni sudah menunggu anda disana, dan dia hanya perlu mendengar nyonya meminta maaf dan setekah itu kita akan kembali pulang, bahkan sebelum tuan Rusell menyadarinya."
Livia mendesah...ya..semua akan baik-baik saja. toh dia hanya ingin meminta maaf pada Roni. iapun menatap Meri yang sudah siap dari tadi.
"Baiklah kita pegi sekarang Meri." ucap Livia.
Malam yang begitu sunyi tak ada seorangpun penjaga disana yang biasa berjaga-jaga di sepanjang lorong kamar menuju pintu keluar. bahkan didepan lift pun tidak ada satupun penjaga. disitulah Livia merasa ada yang aneh. malam ini tidak seperti biasanya. malam ini terlihat lengang. apa karna Rusell sedang tidak ada di tempat karna itulah penjagaan mulai berkurang?
"Nyonya kita harus cepat." Meri meraih jemari Livia dan measuk kedalam lift yang menghubungkan pada lantai satu.
Pintu terbuka dan mereka berdua keluar dan kembali disambut kesepian yang mengerikan. dipintu depan juga tidak ada pengawal Rusell.
"Meri, ada sesuatu yang tidak beres..kau liat tidak ada satupun penjaga, aku ragu...."
"Ini adalah malam keberuntungan kita nyonya, jangan berpikir yang macam-macam."
Meri kembali membimbing tangan Livia dan menariknya keluar dari pintu utama.
Berjalan mengendap-gendap mereka semakin jauh saja hingga sampai ke gerbang utama. sementara udara yang dingin dan kegelapan diluar sana membuat Livia sedikit ngeri.
"Meri." panggil Livia dengan panik.
Meri menoleh dan merasa sedikit kesal pada Livia yang terus meragu.
__ADS_1
"Nyonya, tuan Roni sudah menunggu kita dibalik gerbang ini." ucap Meri sedikit mendesak. obat bius telah ia siapkan begitu mereka keluar gerbang ini maka ia langsung akan membius Livia dan ada orang-orang yang menunggu mereka di dalam hutan, siap membawa mereka pergi.
"Baiklah."
Namun baru saja kaki mereka berdua mencapai gerbang tiba-tiba saja lampu sorot entah dari mana langsung mengarah pada keduanya dengan sinar yang sangat menyilaukan, dan di saat bersamaan muncul dari dalam kegelapan para penjaga yang entah darimana tiba-tiba ada dihadapan mereka.
Keduanya begitu terkejut hingga seluruh tubuh mereka bergetar. Livia merasa ia berada ditengah peperangan dan dalam kepungan musuh.
"Meri..kita tertangkap sebelum bisa keluar." airmata Livia mengalir dengan begitu ketakutan, hingga tubuhnya melemah. Rusell akan membunuhnya...Rusell benar-benar tidak akan mengampuninya.
"Nyonya, apa yang harus kita lakukan sekarang." Meri merasa dia sudah di ambang kematiannya sendiri.
Tiba-tiba Rusel muncul dari tempat yang tidak pernah disangka Livia. ternyata Rusell tidak pernah pergi.? pria itu mendekat dengan tatapan membunuhnya.
"Bagaimana rasanya melarikan diri dari suamimu sayang."? ucap Rusell dengan sorot mata paling dingin yang pernah Livia lihat. airmatanya menetes entah apa yang akan terjadi kepadanya Livia hanya bisa pasrah.
"Rusell, kau tidak pernah pergi..apa semua ini rencanamu."?
Pria itu mendekati Livia dengan tatapan dinginnya.
"Rusell, ini tidak seperti yang kau pikirkan..aku tidak pernah..."
"Diam." bentak Rusell dengan suara menggelegar hingga semua yang ada disana diam tanpa suara.
"Mulai sekarang cinta dan perlakuan manis hanya akan menjadi kenanganmu Livia Morens."
Tubuh Livia bergetar dan bergerak mundur menjauhi Rusell yang terlihat begitu menyeramkan.
"Rusell kau bisa mendengar semuanya, aku bisa menjelaskan." jerit Tania terputus ketika dengan sangat kasar Rusell meraih lengannya memaksanya menatap mata Rusell yang membara.
"Mulai detik malam ini hanya airmata yang akan menghiasi wajahmu Livia, itu adalah hukuman dariku karna kau telah berani menghianatiku."tatap Rusel kejam.
"Pacccckkk."
__ADS_1
Dengan kuat Rusell menampar wajah Livia hingga wanita itu tersungkur jatuh ketanah. sementara Meri menatapnya dengan penuh rasa bersalah. darah mengalir disudut bibir wanita itu. seluruh tubuhnya kesakitan membayangkan kemarahan Rusell yang tidak terkendali. belum sempat ia mengusap airmata.
Tubuh Livia kembali ditarik dan menatap Rusell. pria itu terdiam sesaat menyadari ia terlallu keras mengarahkan tangannya. wajah Livia bengkak dan memerah, ada darah yang mengalir menuduhnya. hingga pegangan Rusell terlepas menjauhi Livia karna ia tidak sanggup melihat luka itu yang juga menyakitinya. dan pandangannya beralih pada Meri gadis yang sudah berani bermain api dengannya. Rusell tersenyum kejam. mendekati Meri dengan tatapan membunuhnya.
"Kau....telah berani memancing amarahku gadis kecil, kau pikir aku bodoh dan akan membiarkan ular sepertimu menang.? kau berani meracuni istriku, menghasut untuk membawanya pergi kau pikir aku tidak tau rencanamu.?
"Tuan...ampuni aku, aku yang bersalah..seperti janjiku aku bersedia mati demi semua kesalahanku." airmata Meri menetes demi sebuah janji, demi egonya yang ingin terlihat berhasil ia malah menjerumuskan nyonya Livia separah ini. berdiri melihat Livia yang hanya mampu menangis sementara wajahnya kesakitan Meri semakin bersalah. dia yang pantas menanggung hukuman.
Gadis itu berlutut dan menangis, jemarinya bertautan dengan ekspresi memohon.
"Aku bersedia menanggung hukuman, tapi nyonya Livia..dia tidak bersalah, akulah yang memaksanya tuan Rusell." suara Meri terdengar serak sambil menundukan kepalanya dalam-dalam.
"Katakan apakah kau melakukan ini untuk Roni."?
"Ya tuan Rusell tapi tidak ada yang memaksaku, aku hanya ingin mengembalikan nyonya pada tuan Roni."
"Bodoh...Livia adalah istriku dan kau bersekongkol dengan pria brengsek itu untuk menipuku...kau tidak bisa kumaafkan." Jerit Rusell meraih pistol dari saku jassnya dan mengarahkan tepat di kepala Meri.
Livia yang melihat itu menjadi histeris, ia tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi kepada Meri.
Livia berlari tidak perduli meski beberapa kali tubuhnya jatuh membentur tanah. ia mendekati Rusell dan sesaat kemudian, ia mendorong tubuh Meri dan posisinya adalah pistol itu yang sekarang mengarah dikepalanya.
Rusel menggertakan giginya melihat Livia malah membela penghianat ini. Livia ternyata masih mencintai Roni dan selama ini hanya berpura-pura mencintainya.
"Kau mau membelanya Livia."
"Rusell, ini semua karna aku..aku tidak bisa membiarkan kau membunuhnya, dia masih muda..harapan keluarganya."
"Apa kau bersedia mati menggantikannya." ucap Rusell begitu marah dan terluka.
"Yah..." ucap Livia dengan yakin.
"Baiklah...matilah kau Livia." jerit Rusel dengan penuh rasa sakit.
__ADS_1
"Tusssss......"
Terdengar bunyi letusan pistol milik Rusell hingga semua yang ada di situ bergetar takut.