
Livia menatap sekali lagi di cermin, gaun sutra berwarna biru itu sangat indah melekat di tubuhnya. Livia terlihat sangat cantik malam ini, warna kulitnya yang putih pucat begitu kontras dengan warna gaunnya .
"Anda sangat cantik malam ini nyonya." puji Mira tidak mengedipkan matanya sedikitpun.
"Terimakasih Mira." balas Livia tersenyum.
"Nyonya Livia, malam ini tuan Roni juga akan hadir di pesta."
"Aku tau."
"Apakah nyonya sudah mempersiapkan diri."?
Livia tertegun..menatap Mira, hubungannya dengan Rusell sudah lebih baik bahkan Livia sudah mulai nyaman dengan kenyataan kalau dia adalah istri dari seorang Rusell.
Apakah dia sanggup meninggalkan Angel dan Rusell, apakah dia sanggup.....
"Nyonya Livia."
"Yah..."
"Apakah anda sedang ragu nyomya." ucap Mira dengan wajah kecewa.
"Tidak...aku hanya memikirkan kalau aku akan sangat senang bertemu dengan Roni, sudah setahun lebih aku hanya sedikit gugup."
Mira menunduk dengan lega, tak ingin rencananya gagal karna keraguan sang nyonya. pintu diketuk dan Mira mundur beberapa langkah menjauhi Livia karna tak ingin tuan Rusell curiga dengan kedekatan mereka berdua.
Rusell membuka pintu kamar dan terpaku melihat kecantikan Livia yang begitu bersinar malam ini. dengan setelan jas tiga potong Rusell mendekati Livia yang menantinya dengan penuh senyuman.
"Kau baru datang Rusell." ucap Livia salah tingkah.
Rusell meraih tubuh Livia setengah memeluknya dengan penuh kekaguman.
"Istriku kau sungguh sangat cantik malam ini."
"Masih terlalu awal untuk keinginanmu Rusell."
Pria itu tertawa......
"Kau akan menjadi ratu malam ini dipesta nanti."
"Dan kau akan menjadi rajaku."sambung Livia.
"Kita akan menjadi Raja dan Ratu dipesta itu sayang." bisik Rusell mendekatkan wajahnya.
"Jangan merusak riasanku sayang, bukankah kau sudah puas ketika bangun pagi ini."?
"Aku tidak pernah merasa puas ketika bersamamu, rasanya ingin dan ingin lagi."suara Rusell menjadi serak.
"Tunggulah sampai kita selesai menghadiri pesta itu." bisik Livia berjanji."
"Bagaimana kalau kita tidak pergi saja." goda Rusell.
"Rusell." jerit Livia melotot hingga Rusell merasa gemas.
Suara ketukan di pintu menghempaskan suasaan romantis mereka.
Mira masuk dan menundukan kepalanya, sesaat ia menatap wajah Rusell yang juga sedang menatapnya begitu tajam.
"Maaf tuan dan nyonya..tapi sekarang adalah saatnya berangkat ke pesta." ucap Mira menunduk.
"Terimakasih....siapa namamu." tanya Rusell ingin tau.
__ADS_1
"Mira.."?
"Ya...Mira tuan."
"Namamu mirip dengan salah satu pelayanku yang berkhianat namanya Meri." tatap Rusell tak melepaskan tatapan tajamnya dari Mira.
Wajah gadis itu pucat begitu juga dengan Livia saat ini hingga ia dan dan Mira sampai melemparkan pandangan takut.
Rusell yang menyadari kegugupan keduanya langsung mencairkan suasana.
"Aku hanya bercanda, mengapa kau begitu pucat Mira, lagi pula kau bukan dia, kau tidak mungkin berkhianant kan."?
"Yaa tuan." Mira menundukan wajahnya dalam-dalam.
"Ayo sayang, kita berangkat." ucap Rusell pelan.
"Yah...ayo sayang." jawab Livia gugup.
🧡
Roni mempersiapkan senjata yang selama ini disimpannya didalam brangkasnya. malam ini ia akan merebut Livia dengan cara apapun, suka atau tidak suka, Livia harus kembali kepadanya.
Pria itu sudah mempersiapkan segalanya...
Seorang pria yang merupakan anak buahnya menunduk dihadapannya.
"Tuan Roni..nyonya Livia sudah ada dipesta itu sekarang." ucap pria itu menunduk.
Mata Roni berkaca-kaca menyadari sesaat lagi dia akan bertemu Livia. sudah sangat lama dan rasa rindu ini begitu menyiksanya.
"Livia...akhirnya kita akan bertemu lagi,aku sangat merindukanmu." ucap Roni dengan suara bergetar.
🤍🖤
Mobil mewah itu berhenti dan Rusell tampak keluar dengan mengandeng Livia dalam genggaman posesifnya.
Sontak semua mata hanya tertuju pada kedua pasangan yang tampak sempurna itu.
beberapa tamu wanita yang hadir bahkan ikut terpesona melihat kecantikan seorang istri Rusell Wins.
merekapun melangkah bersisian dan tersenyum satu sama lain dengan penuh cinta hingga membuat iri para tamu yang hadir.
"Selamat datang tuan Rusell wins dan nyonya Livia Wins." ucap seorang pria bernama Jhon menunduk hormat dia adalah pemilik pesta.
"Tuan Jhon selamat atas peresmian perusahaaa barumu." ucap Rusell bersikap ramah.
"Terimaksih tuan Rusell, ini semua berkat kebaikan hati anda sehingga perusahaan saya bisa bangkit kembali."
"Jangan merendah tuan Jhon kau pantas mendapat kesuksesan karna kau memang berbakat." ucap Rusell penuh arti.
"Terimakasih sekali lagi tuan Rusell, silahkan nikamti pesta anda."
"Aku menghargainya tuan Jhon."
Lalu Rusell membawa Livia menjauh, ia sedikit kesal malam ini karna hampir semua tamu pria kedapatan menatap Livia dengan tatapan memuja dan dia cemburu.
"Apa dia juga berhutang padamu Rusell." ucap Livia pelan sambil tersenyum pada tamu yang kebetulan lewat dan menegur mereka.
"Sedikit membantunya sayang."
"Pantas saja dia terlihat seperti seorang penjilat. ucap Livia terkekeh.
__ADS_1
Rusell melirik pada istrinya yang sangat menggemaskan ketika sedang dalam suasana apapun.
"Kau sungguh membuatku cemburu malam ini sayang."
"Mengapa." ucap Livia menerima minuman yang diberikan suaminya dan meneguknya.
"Malam ini kau benar-benar Ratunya, semua pria disini memujamu..tapi sayang, akullah pemilikmu."ucap Rusell bangga.
Livia mengangguk....
"Aku juga sangat cemburu padamu sayang." ucap Livia tajam.
"Kau cemburu, mengapa."?
"Kau liat tatapan para wanita ketika kita masuk mereka sangat ingin membunuhku dalam tatapan mereka." seru Livis kesal.
"Aku senang," tatap Rusell memeluk punggung istrinya.
"Senang."? ucap Livia menaikan kedua alisnya.
"Yah..akhirnya kau cemburu kepadaku."
"Aku mencintaimu Rusell." ucap Livia jujur.
"Bsiakah aku memegang kata-katamu Livia, bisakah kau tidak berubah."?
"Aku tidak akan berubah Rusell, karna aku benar-benar mencintaimu."
Rusel, mengangguk seraya meneguk minuman beralkohol dengan sangat banyak, ia butuh sedikit mabuk sekarang agar perasaan tidak akan menguasai logikanya nanti.
Rusell kembali tersenyum pada Livia yang sedang asikk menikmati minuman ditangannya.
"Tidak ada yang bisa merebutmu dariku malam ini Livia, tidak ada yang bisa...karna kau adalah milikku." batin Rusell tegas.
"Sayang."
"Hmm."?
"Aku terlalu banyak minum jadi..bisakah aku ke toilet." bisik Livia mengigit bibirnya karna menahan sesuatu yang mendesak.
Rusell tersenyum....
"Baiklah, aku akan mengantarmu."ucap Rusell sambil meletakan gelas.
"Tidak perlu mengantarku Rusell, itu terlalu berlebihan..aku tak ingin kau menunggu seperti seorang penjaga didepan toilet wanita. lagi pula aku tidak lama."
"Janji kau tidak lama."?
"Yah."
"Pergilah sayang." ucap Rusell mengeraskan rahangnya, menyadari sesuatu yang ia duga akan terjadi.
Livia tersenyum dan meninggalkan Rusell seorang diri. ia berlari cepat menuju ke toilet karna memang dia sudah tak tahan lagi.
Livia keluar dari toilet dengan perasaan yang lega, dan akan kembali menemui Rusell namun langkahnya terhenti mendengar teguran seseorang di belakangnya suara itu begitu dia rindukan.
"Livia......"
Livia membeku dengan mata berkaca-kaca. kemudian dengan cepat ia membalikan tubuhnya dan melebarkan matanya seketika...jantungnya berdebar dengan segala keharuan yang menguar.
"Ro..Roni.."? jeritnya dengan suara begetar...
__ADS_1
Haiiiii...terimakasih sudah menyukai cerita ini, jangan lupa Koment yang banyak tentang cerita ini, dan juga Like dan Vote juga beri rating agar author bisa lebih semangat up setiap hari..
Terimakasih yah....❤❤