
Martin melepaskan pelukan walau masih memenjara tubuh Mikha dengan posesif...
"Jadi..apakah hubungan kita bisa serius sekarang."?
"Yah..." balas Mikha yakin..
"Walau dengan status sosial yang kentara di antara kita Mikha...apakah kau masih memilihku."? bisik Martin ingin tau...
Mikha membetulkan letak dasi Martin yang miring, jemarinya naik membelai wajah Martin yang di penuhi garis halus rahang pria ini begitu kokoh menandakan ia penuh ketegasan..Mikha tersenyum senang..ini pertama kalinya seseorang jatuh cinta padanya dan tampak begitu menginginkannya.
"Aku hanya ingin jujur padamu kalau aku merasa sangat bahagia..ini pertama kalinya aku merasa dicintai, airmata Mikha menetes...aku sudah sangat lelah berharap Martin, selama ini aku hidup dalam tekanan untuk menyenangkan orang lain, aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini aku...."
"Ssssstt...jangan menangis lagi, aku benci melihat kesedihan di matamu sayang...Martin mengusap airmata yang jatuh membasahi wajah Mikha..aku berjanji akan selalu melindungi dan mendampingimu di segala keadaanmu...jangan pernah merasa sendiri okey...kau punya aku sekarang," bisik Martin mengecup kening kekasihnya.
"Terimakasih Martin kau baik sekali."
"Jadi hubungan kita bukan hubungan sementara bukan."
"Tentu saja.."
"Aku senang sekali, ayo kita pulang sayang." bisik Martin tetap menggenggam jemari wanita yang ia cintai itu menuju mobil.
💞💞
Hana mengaduk kopi yang mengental di cangkir, ia tersenyum penuh keserakahan..yah..saat ini dirumah sepi hanya tinggal tuan Aksana yang sedang berada di ruang tamu, nyonya Lusi sedang keluar sementara Stela dan Mikha sedang berada di perusahaan. Hana mengepalkan tangannya. ini saatnya merebut apa yang harus di rebut selama ini. sudah cukup lama ia berdiam diri dan Hana tidak akan pernah menunda lagi, Stela sudah berada di dalam genggamannya dan tinggal merebut hati tuan Aksana dengan cara paksa,..yah, ia telah memasukan obat perangsang dosis tinggi ke dalam minuman ini, jadi setelah minum ini maka dalam hitungan menit, tuan Aksana akan bereaksi dan Hana akan ada disana untuk mempersembahkan diri.
Ruangan sepi karna pelayan sudah ia suruh pergi dengan berbagai alasan yang di buatnya.
Hana mengangkat cangkir dan membawanya menuju meja ruang tamu tempat tuan Aksana duduk sendirian..
"Ehm...selamat pagi tuan." ucap Hana dengan suara lembut yang dibuat-buat...
Aksana hanya mengangguk tanpa menoleh..
__ADS_1
"Mana istriku..aku ingin kopi tapi dia tak membuatnya." ucap tuan Aksana dengan nada dingin..
"Nyonya sedang keluar sebentar dan saya telah membuatkan anda kopi tuan." ucap Hana dengan sopan lalu meletakan cangkir di hadapan tuan Aksana dan kemudian tersenyum..
Aksana menatap Hana sebentar, mengerutkan dahi melihat cara pakaian Hana yang aneh dan sedikit membuatnya merasa lucu, karna Hana memakai pakaian bukan di usianya, ia seperti sedang memaksakan dirinya...
"Apakah otakmu sedang bermasalah."? desis Aksana dengan nada dingin..
"Ah...tuan..."
"Cepat ganti pakaianmu seperti biasanya, kau membuat mataku sakit." ucap Aksana memalingkan matanya dengan jengkel...
Wajah Hana berubah pucat, mengapa pria ini sangat dingin, padahal dia sudah berusaha memakai pakaian yang mungkin bisa menggoda tuan Aksana, namun rasanya begitu sia-sia..
Hana menundukan kepalanya penuh hormat lalu hendak melangkah pergi....
"Tunggu.." ucap Aksana membuat senyum Hana mengembang, mungkinkah tuan Aksana berubah pikiran..
"Yah Tuan..."
Hana menatap sedikit takut,airmatanya hampir mengalir..sungguh pria yang begitu kejam, liat saja jika obat itu bekerja maka tuan Aksana akan berubah pikiran dan bertekuk lutut padanya..
"Baik tuan." ucap Hana kemudian pergi dari ruang tamu itu dengan tatapan marah...
Aksana menatap cangkir yang di hadapannya lalu tanpa berpikir ia meneguknya dengan cepat....rasa pahit yang pekat mengaliri tenggorokannya, rasa kopi yang aneh, apakah karna bukan Lusi yang membuatnya...pria itu mengepalkan tangannya, sial..ia begitu kesepian dan Lusi pergi.
Aksana kembali lagi meneguk kopi itu hingga tandas di gelas, ia harus segera kekantor dan menenggelamkan dirinya di dalam pekerjaan....
Pada saat bersamaan terdengar suara mesin mobil memasuki garasi, Lusi turun dari sana ia tersenyum dengan lega..ia baru selesai dari panti asuhan untuk memberikan santunan bulanan.
Lusi membuka pintu ruang tamu dan langsung terkejut dengan tatapan tajam suaminya...yah..ini pertama kali setelah sekian lama ia berhadapan dengan Aksana secara langsung, biasanya suaminya akan menghindarinya sejauh mungkin dan hanya menatap dingin padanya..
"Selamat pagi Aksana."
__ADS_1
"Darimana kau sepagi ini."? liriknya tajam...
Tumben sekali Aksana bertanya, ia biasanya tidak pernah mau tau semua yang dilakukan Lusi apapun itu, hubungan mereka lebih dingin dari es. mengapa pria ini menatapnya dengan aneh....Lusi mencoba tersenyum..dan melangkah masuk, hari ini dia tampak cantik dengan dres panjang berwarna biru melewati lututnya, namun gaun itu membentuk lekukan tubuhnya yang indah di usia matangnya, kulitnya putih bersih karna perawatan mahal...Lusi berdiri berhadapan dengan Aksana dan saling menatap.
"Aku pergi ke panti pagi ini untuk memberikan donasi seperti biasa aku lakukan." ucap Lusi menunduk...
"Biasa kau lakukan."? yah Aksana tidak pernah tau itu,selama ini ia tak pernah mau tau..
"Yah...aku biasa melakukannya setiap bulan... itu sebabnya aku pergi pagi ini, apakah kau sudah minum kopi."? pertanyaan Lusi menguap begitu saja ketika ia melihat bekas cangkir kopi di atas meja,
Hana pasti yang membuatnya..hatinya menjadi sedih, sudah lama ia tau Hana menyukai Aksana..dan ia sudah lelah dengan semua ini...
"Kau pergi dan melupakan kewajibanmu sehingga Hana yang membuatkannya untukku..kau..istri tak berguna." ucapan Aksana mampu melukai Lusi dengan dalam..
Wanita itu mengepalkan tangannya dengan kuat..ia menatap Aksana...
"Bagus..kalau Hana sudah bisa mengurusmu, bagaimana kalau dia mulai belajar untuk menggantikan posisiku saja, aku sudah lelah." airmata Lusi menetes...
Wanita itu meninggalkan Aksana yang terpaku, seperti bommdi ledakan di depan matanya, Aksana tak menyangka Lusi berani menentangnya..
Membuka pintu kamar Lusi menuju lemari meraih koper dan mengambil baju-bajunya,ia sudah diambang batas kesabarannya....airmtanya menetes sedih, sejak lama ia bersikap seperti budak, bukankah ia sudah berkorban banyak untuk Aksana. bahkan pria ini tidak sedikitpun menghargainya...
Aksana memasuki kamar dan menatap marah pada Lusi..
"Apa yang kau lakukan."?
"Pergi...mari kita bercerai Aksana." ucap Lusi yang membuat Aksana terkejut...
"Apa maksudmu.."?
Airmata Lusi menetes.....
"Cukup sudah kau mencuri hidupku untuk kau dan anakkmu, aku sangat lelah." tangis Lusi pecah saat itu juga..
__ADS_1
Aksana merasa nyeri..ini pertama kalinya Lusi berteriak padanya dan menumpahkan kekesalannya...