
"Tidaaaaaakkkkkkkk......" jerit Livia dengan histeris.
Jantungnya berdebar kencang melihat tubuh Roni jatuh dihadapannya dengan darah yang menetes dari bahunya. darah itu mengalir memenuhi jass berwarna putih milik Roni tampak begitu kontras dengan warna darahnya.
airmatanya mengalir deras memenuhi wajahnya sementara Rusell menatap dingin pada tubuh Roni yang tidak bergerak.
Livia menghempaskan pelukan Rusell darinya dan menghambur, menjatuhkan diri pada tubuh Roni yang pucat. jemarinya bergetar menyentuh tubuh Roni yang tidak bergerak
"Roni maafkan aku...ini semua kesalahannku." tangis Livia dengan isakan yang panjang. ia sungguh menyesal mengikuti Roni yang akan membawanya pergi..kalau saja dia menolak..kalau saja dia bisa lari saat itu, mungkin nasip Roni tidak akan seperti ini. sesal Livia yang tidak berujung.
Livia menyentuh darah yang masih segar dan membekas di jari-jarinya. pria yang mencintainya tulus dan selalu menjaganya dihampir sepanjang kehidupannya. inikah akhirnya.. Roni harus meninggalkan dirinya dengan cara seperti ini. Livia masih menuduk lama didalam ratapannya akan kepergian Roni dan rasa sakit yang tak pernah berujung ia rasakan.
Namun tidak lama ia bisa memegang Roni,karna Russell meraih lengannya memaksanya berdiri.
"Cukup Livia." desis Ruzell dengan tatapan tajam.
Jemari Livia bergetar didada pria yang berhati dingin itu, airmata sakit hati kembali mengalir pedih.
"Kaau jahat Rusell, kau membunuhnya..kau membunuh Roni.." geram Livia penuh rasa sakit, keduanya bertatapan sangat tajam saat ini.
"Kau yang memaksaku berbuat seperti ini Livia, aku...sudah memperingatkanmu berulang kali jangan menghianatiku."
"Kau sudah gila Rusell..aku juga sudah berulang kali mengingatkan kalau aku...tidak pernah menghianatimu tapi kau tidak pernah percaya kepadaku."jerit Livia mengertakan giginya. rasanya sakit sekali melihat Roni kehilangan nyawa dihadapannya.
"Livia..."
"Kembalikan Roni kepadaku..kembalikan dia Rusell." tangis Liivia meronta dan sesaat kemudian tubuhnya melemah dan jatuh perlahan ketika kegelapan itu merengut kesadarannya.
Rusell mengepalkan tangannya menatap Erik yang berdiri menunduk dihadapannya.
"Bawa dia dan jangan biarkan seorangpun tau dimana dia berada, aku akan menemuinya nanti" ucap Rusell dengan dingin.
"Baik tuan Rusell." ucap Erik menurut dan memberi perintah agar anak buah yang lain mengangkat tubuh Roni dan menghapus jejak apapun yang tertinggal ditempat ini. baik itu darah maupun cctv yang harus dihancurkan.
__ADS_1
💜
Livia mengerang membuka matanya dan terkejut, tubuhnya diletakan disebuah ranjang dengan sebelah tangannya terikat dikepala ranjang.
Dimanakah dirinya, mengapa tangannya terikat, untuk sesaat Livia masih kehilangan orientasinya.namun tidak lama ketika satu nama muncul dikepalanya.
"Roni."? jeritnya dengan mata berkaca-kaca, ketika kesadaran penuh. Roni meninggal dihadapannya setelah Rusell menembaknya. rasanya tubuh Livia kehilangan kekuatannya lagi, airmatanya kembali mengalir dengan derasnya. teganya Rusell membunuh Roni untuk menyakitinya. teganya Rusell kepadanya..
Livia kembali memberontak dan berusaha melepaskan tangannya pada ikatan yang begitu kuat membelenggunya, walau sudah berusaha setengah mati namun ikatan itu semakin kuat saja.
"Ya Tuhan aku harus pergi dari sini aku...harus pergi dari pria sakit jiwa itu. jerit Livia dengan putus asa. tenaganya terkuras habis hanya untuk meronta.airmatanya sudah kering dan lelah oleh airmata yang tidak henti-hentinya mengalir diwajahnya.
Pintu kamar terbuka dan Rusell muncul disana dengan tatapan dingin. mendekati Livia yang sedang menatapnya penuh kebencian. melirik sebelah tangan Livia yang terikat.
"Apakah tanganmu terasa sakit."?
"Mengapa kau mengikatku." desis Livia meradang.
"Aku tidak ingin mengambil resiko kau melakukan hal-hal yang nekat karna aku sangat tau dirimu Livia.
"Walaupun dia sudah mati namun kau masih saja mengingatnya Livia sayang."?
"Jangan sebut aku dengan kata sayang karna aku sangat jijik mendengar kau memanggil namaku."
"Jijik katamu." mata Rusel menajam dengan sempurna.
"Yah..kau tidak pantas mendapatkan cinta, kau tidak layak menjadi Ayah dari Angel dan kau....tidak layak menjadi seorang manusia." ucap Livia penuh dendam.
"Beraninya kau Livia." Rusell sudah mengepalkan tangannya dengan kuat sampai kuku jarinya memutih.
"Mengapa... kau akan bercinta secara kasar lagi padaku, kau akan mengurungku dan kau akan menjauhkan aku dari Angell lagi."? tatap Livia menebak. setiap kali Rusell marah dia akan melakukan semua itu kepadanya dan Livia bahkan sudah hafal hukuman apa saja yang akan di dapatkan di kepalanya.
Rusell mencengkram lengan Livia mendekat padanya. matanya bersinar penuh kemarahan.
__ADS_1
"Kau benar sekali bahwa aku bukanlah manusia-manusia lemah seperti dirimu sayang, kau juga benar tentang hukuman yang akan kau dapatkan karna telah berani mempermainkan aku berkali-kali. Rusell tersenyum kejam...namun kau akan mendapat beberapa beberapa tambahan hukuman karna telah berani menghina suamimu sendiri."
Livia meronta mencoba melepaskan diri walaupun itu tidak mungkin. ia melonggarkan tenggorokannya merasa sedikit takut, yah....walau dia tampak kuat namun Livia tetaplah seorang wanita yang kadang ada di titik lemahnya.
"Kau mau tau tambahan hukumanmu sayang."? ucap Rusell menaikan kedua alisnya dengan santai.
"Rusell..kau...."
"Kau akan tinggal dikamar ini tanpa bisa keluar kemanapun Istriku sayang, kau...tidak bisa bebas kemanapun seperti dulu..batasmu ada disana balkon itu, namun jangan pernah lompat dari sana atau kau akan lenyap seketika. hidupmu akan terkurung selamanya disini dibawah kendaliku kau..telah kehilangan kebebasanmu Livia."Rusell membelai secara kasar rambut panjang Livia.
"Aku sangat membencimu Rusell..aku sangat membencimu..." jerit Livia geram.
"Aku senang kau membenciku karna segalanya akan lebih mudah untukku."
"Aku akan mencari cara agar bisa terlepas darimu." tatap Livia tajam.
"Benarkah aku akan melihat apakah kau..bisa lepas dariku." seyum Rusell.
Airmata Putus asa Livia mengalir lagi di wajah lelahnya. sungguh ia sudah lelah menghadapi Rusell yang begitu kejam dan begitu posesif padanya. seakan semua yang sangat dekat dengannya diambil dengan paksa darinya dan itu sangat menyakitkan. apakah Rusell tidak punya perasaan sedikitpun.
"Aku sangat lelah denganmu Rusell."
"Selama kau hidup maka hidupmu adalah milikku."
Rusell menatap dengan kejam dan tak sedikitpun merasa iba, hatinya sudah tertutup oleh penghianatan Livia yang sungguh menyakitinya. alasan dia menahan Livia adalah karna dia butuh Livia untuk memuaskan dahaganya.
"Bagaimana kalau aku mati." ucap Livia dengan wajah pucat...
"Yah...satu-satunya cara kau bisa bebas dariku adalah kematian sayang, jika kau hidup itu artinya hidupmu adalah milikku."
Rusell meraih Livia dan melum** bibir Livia dengan penuh keinginan. nsmun sebatas itu saja lalu meninggalkan Livia seorang diri dan tak lupa menguncinya kamar itu.
Livia sendirian dikamar dengan tatapan sedih...yah, Rusell benar...cara satu-satunya agar terlepas dari pria kejam itu adalah mati.
__ADS_1
Livia menundukan kepalanya dengan isakan panjang.