
Rafael keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. sekali lagi ia melirik ke arah kasur yang masih ada noda darahnya. sial.. bahkan sekarangpun ia masih memikirkan tentang wanita misterius itu. ia sudah meminta Toni untuk mencari wanita itu. namun sangat sulit karna ia tidak punya satupun foto dan hanya memberikan informasi berdasarkan ciri-ciri yang di ingatnya. sementara cctv hotel juga tidak banyak membantu. hanya merekam ketika gadis itu pergi menaiki sebuah taxi yang tidak kelihatan platnya sedikitpun. Rafael benar-benar kehilangan harapan mungkin dia harus benar-benar merelakan wanita itu yang hilang darinya.
Bunyi pesan di ponselnya membuat Rafael menghempaskan lamunannya. dari mama Livia yang memintanya pulang untuk membawakan gaun sang mama. Rafael meraih jasnya sambil membalas pesan mama Livia bahwa ia akan segera pulang.
>>>>**<<<<
Kediaman Rusell Wins.
"Makan dulu sayang...setelah itu kita akan menunggu Rafael pulang, tante akan mengenalkannya padamu."
Livia duduk bersama Angel dan Elena di meja makan, karna Rusell sedang keluar negri untuk urusan bisnisnya selama 3 hari.
"Terimakasih tante, apakah aku boleh istirhat dulu setelah makan, aku sangat lelah, mungkin nanti saja tante mengenalkan aku dengan kak Rafael."pinta Elena pelan.
Livia mengangguk penuh pengertian...
"Kau boleh istirahat sayang anggap saja ini rumahmu karna kau akan menjadi menantu tante, mengenai kak Rafael. masih ada banyak waktu tante akan memintanya tinggal disini karna om Rusell tidak berada disini."
Elena mengangguk dengan senyuman lega. ia senang karna tante Livia sangat baik seperti gambaran Ayah dan bundanya. dan dia tidak merasa ada perbedaan dirumahnya atau dirumah ini. suasana hangat dan sikap penuh keibuan begitu terpancar dari tante Livia yang cantik ini.
"Kau boleh memilih akan mulai bekerja di hotel bersama kak Rafael atau kau bisa menemaniku di butik." ucap Angel dengan ramah.
"Terimakasih kak Angel, karna aku mendalami bagian pariwisata mungkin setelah di wisuda aku harus bergabung bersama kak Rafael." ucap Elena yang sontak membuat ibu dan anak dihadapannya tertawa dan saling bertukar pandangan.
"Mah...rupanya calon pasangan suami istri ini akan memajukan hotel menjadi semakin sukses."goda Angell melirik wajah Elena yang memerah..
"Aku tidak berpikir seperti itu kak."sangkal Elena dengan tatapan polos.
"Eh..tante malah bangga kok, anak dan menantu tante akan menjadi pembisnis yang hebat." puji Livia membesarkan hati Elena.
Senyum diwajah Elena memudar ketika ia teringat peristiwa yang baru saja ia alami. mungkinkah Rafael akan menerimanya sebagai istri yang sudah tidak suci lagi. mungkinkah pria itu tidak mempermasalahkan mengenai virginitas. Elena menggeleng, ia tidak sepercaya diri itu. untuk menghadapi Rafael.... mungkin setelah mereka bertemu nanti Elena akan menyepakati beberapa hal mengenai pembatalan pertunangan dan pernikahan mereka secara baik-baik dan akan melanjutkan hidupnya seorang diri saja.
"Elena."
"Ah...tante." ucap Elena terkejut
"Apa yang sedang kau pikirkan sayang." tatap Livia khawatir.
"Akku tidak apa-apa tante aku, hanya terlalu lelah."Elena membuat alasan.
__ADS_1
"Kalau begitu istirahatlah, setelah makan yah."
"Iya tante." Elena mengangguk dengan sopan.
Angel lebih dahulu selesai makan lalu mencium pipi sang mama dan memandang Elena sebentar.
"Aku duluan Elena, ada klien yang ingin bertemu sebentar lagi."sambil melirik jam tangannya Angel berdiri sekali lagi ia memeluk mama Livia dengan erat. pemandangan itu sungguh indah di mata Elena. mereka terlihat begitu dekat satu sama lain.
"Hati-hati kak Angel."
"Terimakasih adik iparku." Angel mengedipkan sebelah matanya.
Mama Livia mengantar Angel sampai di depan pintu dan memandang putrinya hingga mobilnya menjauh. yah..itulah kebiasaan Angel yang manja, ia selalu ingin ditemani Livia dan tak ingin jauh dari mamanya.
Livia kembali masuk kedalam rumah dan mendapati Elena telah selesai makan dan menunggunya.
Livia mendekati Elena dan tertegun karna wajah Elena sangat mirip dengan Roni. ia sangat mengharapkan Rafael akan menyetujui pertunangan ini Livia sangat berharap memiliki menantu seperti Elena.
"Kau sudah mau istirahat Elena."
"Ya tante..aku minta maaf tapi aku benar-benar lelah jadi aku...."
"Terimakasih tante." mata Elena berkaca-kaca ia sungguh bahagia diterima dengan baik di keluarga ini.
Livia mendekat dan memeluk tubuh Elena dan mengusap punggungnya untuk menenangkan.
"Jika nanti kau menemui kesulitan jangan sungkan untuk bicara pada tante yah..tante akan membantumu nak."
Elena mengangguk dengan mata yang basah. ia menemui kesulitan sekarang dan bisakah ia bercerita. kalau saja dia bisa jujur. rasanya sakit sekali mengalami hal yang begitu mengerikan di usianya yang baru 19 tahun.
"Terimaksih tante, aku akan mengingat semua kata-kata tante."
>>>>***<<<<
Elena berbaring miring diranjang kamarnya airmatanya masih menetes. menyadari tadi ketika ia membersihkan diri ia menemui bekas tanda percintaan di hampir semua bagian sensitif tubuhnya. ia merasa sangat jijik ketika bayangan sentuhan demi santuhan pria itu masih begitu segar di ingatannya. masa depannya hancur sekarang. bahkan Elena tidak sanggup membayangkan wajah kecewa orangtuanya dan orang tua Rafael ketika nanti ia berkata jujur. apa yang harus ia lakukan Elena sungguh bingung. tapi ia juga tak bisa terus menerus berbohong sampai di pernikahan mereka nanti. Rafael dan seluruh keluarga mereka akan sangat kecewa dan malu. memikirkan hal itu membuat Elena semakin takut untuk bertemu dengan pria yang telah dijodohkan dengannya itu dan memilih menghindarinya selama mungkin. kalau saja ia tidak gampang percaya dan menaiki taxi misterius dibandara. mungkin ia tidak akan diculik dan hendak dijual kepada seorang germo yang telah menunggunya di hotel yang sama tempat ia bertemu dengan pria itu. Elena memilih memejamkan matanya dan membiarkan sejenak melupakan semua kenyataan pahit yang ia rasakan.
......**......
Hari sudah larut malam dan Elena terbangun dari tidurnya. astaga ia tidur sangat nyenyak dan sampai lupa waktu. Elena segera berlari kekamar mandi dan membersihkan diri. memakai piyama tidurnya Elena segera bergegas turun dari tangga. namun ia mengerutkan dahi ketika menatap sekeliling ruangan yang kosong, dimana tante dan kak Angel. batinnya mencari. dan matanya menangkap sosok pelayan dan segera menghampirinya.
__ADS_1
"Maaf dimana tante dan kak Angel."
Pelayan itu menundukan kepala...
"Maaf nona. tapi nyonya dan nona Angel sedang menghadiri sebuah pesta."
"Berarti aku sendirian dirumah ini." ucap Elena pelan.
"Tuan Rafael ada dikamarnya."
Elena terkejut, kapan Rafael datang apakah ketika tidur tadi.
"Lalu apakah kau juga tinggal dirumah ini lalu dimana kamarmu."
"Kamar kami ada disamping, di dekat taman..apakah nona Elena butuh sesuatu..akan aku siapkan sebelum ke kamar." ucapnya dengan sopan.
"Tidak aku hanya bertanya saja..kembalilah ke kamarmu." ucap Elena pelan.
Setelah pelayan itu pergi Elena mengambil camilan dan minuman kaleng untuk dibawa ke kamar karna ia tak ingin makan sendirian.
Menaiki tangga Elena menuju kamarnya baru sampai di pintu.ia tertegun ketika mendengar pintu kamar disebelahnya terbuka, dan seseorang muncul disana pria tanpa baju atasan keluar dari sana dan keduanya bertatapan dengan tajam..
Hening........................
Wajah Elena berubah pucat ketika menyadari pria ini adalah pria yang memaksanya bercinta di hotel. tubuh Elena bergetar dan dengan cepat membuka pintu kamar, namun baru saja pintu itu akan di tutupnya kembali Elena menatap gugup ketika lengan besar itu menahan pintu. senyuman khas nya begitu tampan sekaligus mematikan memaku Elena di tempat.
"Kau adalah...." suara Rafael terdengar pelan, namun menjadi parau. sinar matanya begitu terang seperti kucing yang menangkap basah seekor tikus kecil yang tak berdaya dan sedang ketakutan. ternyata gadis yang ia cari adalah calon tunangannya.
"Aaku, adalah......"
"Kau tau aku merindukanmu sayang."mata Rafael menyipit penuh hasrat.
Sekali dorongan pintu itu terbuka lebar dihadapannya. hingga Ellena menjatuhkan semua camilannya dan minuman kalengnya. Rafael masuk kekamarnya dan tak lupa mengunci pintu. ia menatap lapar kepada Elena.
"Kau adalah Elena Rive." ucapnya dengan nada menggoda.
"Apa yang kau inginkan Rafael Wins." jerit Elena sungguh ketakutan.
"Aku ingin kau Elena Rive."
__ADS_1