
Livia membuka mata dan langsung merasa hangat dan sesuatu yang berat melingkupi tubuhnya. mencoba melepaskan diri namun begitu sulit. Rusell memeluknya dengan sangat erat hingga sulit baginya untuk bergerak.
"Rusell." jeritnya dengan suara pelan...
"Hm.."
"Lepaskan pelukanmu aku tidak bisa bergerak."
Rusell melonggarkan sedikit pelukannya agar Livia bisa menyesuaikan tubuhnya lalu kembali mendekapnya ketika Livia ingin pergi.
"Apa yang kau lakukan."?
"Aku masih ingin bersamamu."
"Aku harus kembali kekamar karna aku sangat lelah Rusell." tatap Livia merasa tidak nyaman, ia benar-benar kelelahan.
"Aku sudah bilang bahwa aku tidak pernah puas ketika bersama denganmu dan kau harus tetap disini."ucap Rusell tidak perduli kesakitan Livia karna percintaan yang dilakukannya secara berulang-ulang.
"Aku mohon Rusell, aku sudah tidak sanggup lagi."
"Kau tidak bisa pergi sebelum aku selesai dengan semuanya."
Wajah Livia pucat..beberapa hari ini ia sering kelelahan walau tidak sedang melakukan aktifitas berat. apalagi keinginan Rusell yang seolah sengaja menyiksanya dalam percintaan yang panjang membuatnya semakin kehilangan tenaga.
"Apa kau sengaja ingin menyiksaku dengan ini."? tatap Livia sakit hati.
"Bukankah ini tugasmu Livia, memuaskanku adalah kewajiban untukkmu." ucap Rusell dengan dingin.
"Tapi kau tidak pernah puas dan tubuhku tidak kuat untuk melayanimu." mata Livia berkaca-kaca.
"Apa kau sengaja tidak ingin kusentuh karna mungkin kau bisa pergi dariku suatu saat."
Livia menggeleng....
"Kau benar-benar kejam." jerit Livia dengan marah.
"Aku kejam." sinar mata Rusell menyala-nyala.
Rusell bangkit dari tempat ranjang dan menatap wanita yang mencoba menjauh darinya dengan selimut yang masih melilit di tubuhnya. Rusell menatap dengan senyuman mematikan.
"Bukankah kau masih dalam masa hukumanmu."
"Mengapa kau sangat jahat padaku, aku telah melakukan semuanya untukkmu dan Angell hingga..aku tidak memikirkan tentang kebahagiaanku yang sudah lama tidak aku rasakan."
__ADS_1
Livia menggeleng dengan rasa sakit yang luar biasa dihatinya.
"Dalam hidupku aku tak pernah ingin berbuat baik Livia, aku benci pada orang yang lemah dan aku...suka menyiksa orang yang menghianatiku dengan caraku yang kejam." ucapnya tersenyum.
"Sepertiku."?
"Yah...seperti dirimu Livia."
Airmata kembali mengalir di wajah Livia. bagaimana cara melepaskan diri dari Rusell. pria ini tidak pernah mencintainya..tapi sengaja ingin meyiksanya dalam kesakitan yang panjang tanpa mampu terlepas. Livia sudah kehilangan segalanya dan tak ada harapan lagi untukknya.
"Apa kau..tidak pernah mencintaiku sedikitpun Rusell." jerit Livia
"Cinta...pria itu tertawa..cinta sudah mati didalam hatiku, ketika kau menghianati seorang Rusell dan cinta tidak akan mungkin bisa tumbuh oleh siapapun termasuk dirimu."
Livia merasa kepalanya mulai terasa berputar..
"Bagaimana bisa kau setega itu padaku Rusell..adilkah untukku."?
"Aku tidak perduli Livia, kau harus membayar semua penghianatanmu pada diriku dengan sangat mahal." sinar mata Rusell terlihat siap membunuh.
Livia mundur dengan langkah yang sedikit goyah menghindari Rusell yang sedang menatapnya begitu dingin dan semakin mendekatinya hingga Livia menjadi panik.
"Rusell..aku adalah istrimu, kita sudah menikah,kau bahkan berjanji pada orangtuaku untuk tidak menyakitiku." airmata Livia semakin deras saja.
Rusell meraih lengan Livia dan membenturkannya dengan kasar di dinding putih dibelakang mereka.
"Kau harus tau kalau tak ada yang bisa menyakiti seorang Rusell Wins."
Livia merasa sakit kepala yang hebat menyerangnya dengan kuat karna Rusell membenturkan tubuhnya dengan kuat.di saat bersamaan mata Livia menangkap sebuah pistol di atas meja sebelah ranjang yang membuatnya tersenyum pilu.
Yah...seperti kata Rusell, jika satu-satunya cara bisa terlepas dari pria ini adalah kematian. Livia sudah tidak tahan lagi. bagaimana hidupnya hancur di usia 20 tahun, dimana gadis lain sedang menikmati indahnya masa muda, disaat teman-temaan sebayanya menikmati kebahagiaan dengan bebas, tapi apa yang terjadi padanya sungguh diluar bayangannya.
Hidupnya dicuri dengan kejam dan membawanya kedalam jurang kegelapan yang diciptakan Rusell untukknya. bahkan dalam mimpipun Livia tidak pernah membayangkan akan mengalami hal yang begitu tragis untukk hidupnya.
Yah...inilah saatnya ia pergi meninggalkan kesakitan yang sudah tidak mampu ditanggungnya. Roni yang menjadi satu-satunya harapan Livia telah hancur bersama kematian kekasihnya. dan itu semua karna Rusell.
Sekuat tenaga Livia mendorong Rusell hingga pria itu mundur beberapa langkah. Rusell masih belum menyadari jika Livia sedang menatapnya dengan oenuh tekad.
"Yah....semua adalah kesalahanku Rusell, kesalahanku karna aku begitu mencintaimu dengan sepenuh hatiku walau aku tau...kau..hanya bisa menyakitiku, tapi hatiku menjadi bodoh dengan terus berharap kau..akan berubah dan menerimaku, semua sudah kulakukan dan aku sangat lelah sekarang."
Rusell terdiam masih mencerna kata-kata Livia..
"Cinta...kau benar-benar mencintaiku."?
__ADS_1
Rusell menatap wanita itu dengan dalam..
"Apa maksudmu itu Livia, kau mau membohongi aku lagi."?
Livia menghapus airmatanya dan dengan langkah yang cepat mendekati meja disebelah ranjang kemudian meraih pistol disana. dan mengarahkannya pada Rusell yang sedang menatapnya dengan syokk, bukan karna dia takut namun sebalikknya. melihat sinar penuh tekat dimata Livia..kali ini Rusell merasa takut jika Livia mungkin nekat dengan mencelakai dirinya sendiri.
"Livia apa yang kau lakukan..kau ingin membunuhku yah."? Rusell mencoba menahan debaran jantungnya yang saat ini berpacu dengan kencang.
"Apa kesalahanku padamu huh, mengapa kau menyakitiku Rusell..mengapa."? jerit Livia menarik pelatukknya masih mengarahkan pistol itu pada Rusell.
"Silahkan tembak aku karna aku sama sekali tidak takut apapun Livia." ucap Rusell mendekati Livia perlahan.
"Berhenti Rusell." teriak Livia penuh peringatan hingga Rusell terdiam. hatinya sungguh nyeri melihat rasa sakit dimata Livia saat ini.
"Yah....kau sama sekali tidak perduli kepadaku , betapa bodohnya aku." isak Livia menurunkan pistolnya membuat Rusell lega menyangka jika Livia menyerah.
Rusell tersenyum sinis menatap Livia....namun senyumnya menghilang seketika melihat Livia mengarahkan pistol pada dirinya sendiri.
"Livia.." jerit Rusell melebarkan matanya. Rusell membeku ditempat dengan ketakutan yang begitu kuat menyerangnya.
"Kau pernah bilang, aku bisa melepaskan diri darimu hanya dengan kematian."
"Livia..turunkan pistol itu kau..."
"Diam...aku muak padamu..aku membencimu dan salah satu dari kita harus mati."
"Livia..tidak.."
Rusell melompat ke arah Livia yang masih memegang pistol ditangannya, terjadi tarik menarik antara keduanya.
"Rusell lepas." jerit Livia meronta masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Rusell.
"Aku tidak akan membiarkanmu berbuat hal bodoh Livia." ucap Rusell menggertakan gigi.
Namun pegangan itu terlepas membuat Rusell tersungkur dilantai dengan mata yang basah, ia menoleh ketika Livia mengarahkan pistol itu diperutnya...
"Selamat tinggal Rusell." tangis Livia sedih..
"Duarrrrrr....." Hening yang mencekam..........
Suara tembakan itu begitu keras hingga membuat Rusell kehilangan suaranya...
"Livia......" jeritnya dengan airmata menetes. seluruh tubuhnya serasa lumpuh menyadari tubuh Livia jatuh dan bersimbah darah....
__ADS_1