
Lama Tari masih duduk di taman bunganya sendirian sementara hari sudah gelap, bagi Tari waktu berjalan semakin cepat hingga ia sendiri ingin lebih lama disni, dan menghentikan waktu walau sesaat, iapun memejamkan matanya membiarkan semilir angin malam menyentuh kulitnya. seorang pelayan mendatanginya dengan hati-hati..
"Nona Tari...."
"Apakah tuan Wilard sudah tertidur."? tanya Tari pelan.
"Sudah nona...tuan sudah sejak tadi tertidur setelah meminum minuman yang diberikan nona." ucap pelayan dengan menundukan wajahnya...
"Bagus..mulai sekarang kau bertugas untuk mengawasi tuan Wilard." mata Tari berkaca-kaca dengan sedih.
"Nona...aku akan melakukan yang terbaik." ucap pelayan ikut sedih.
"Yah...aku senang tuan Wilard bisa istirahat dan tidak mendengar semua kekacauan nanti, aku tau di usianya yang sekarang tuan Wilard akan mudah tertekan...lebih baik dia tidak tau saja, dan semoga ia akan terbangun ketika aku telah pergi." ucap Tari menghela nafas.
Pelayan itu mengangguk dengan hormat..
"Sebaiknya nona istirhat dulu dan biarkan aku mengobati luka nona Tari."
"Tidak usah, aku akan membersihkan diri sekarang dan sekaligus mengobati lukaku..pergilah."ucap Tari pelan.
Pelayan itu menunduk...
"Baik nona Tari."
๐๐
Tari menatap wajahnya di cermin ada bekas luka di bibir dan juga di keningnya, namun Tari tidak kehilangan akal, ia sengaja menggunting rambut depanmya agar berbentuk poni dan luka itu tidak terlihat lagi. Tari tersenyum walau airmatanya masih menetes, ia sekarang berada di kamar pelayan yang terpisah dari rumah besar karna Wilard yang memerintahkan itu. karna sebelumnya mereka tidur di kamar yang sama walau mereka tidak pernah melakukan hubungan itu.
"Tari....takdir apalagi yang menunggumu."? bisiknya sendiri.....
Tari bangun dari meja rias dan mendekati ranjang sederhana lalu berbaring miring disana. matanya terpejam walau rasanya sulit untuk bisa terlelap. terlalu banyak beban yang ia pikul, terlalu banyak airmata yang jatuh. Tari kemudian mulai menangis, entah mengapa seolah airmatanya tidak pernah mengering, tangisannya awalnya pelan kemudian berubah menjadi isakan panjang yang menyayat hati.
Gadis itu masih tenggelam di dalam patah hatinya yang pertama sungguh menyakitkan ketika merasakan dua hal penting dalam hubungan, yaitu jatuh cinta dan patah hati dalam waktu yang singkat. Tari tertidur masih dalam posisi menangis karna kelelahan ada jejak airmata di pipinya.
๐๐
Theo menunduk di hadapan Wilard, pria itu meminta Theo mengawasi Tari apakah dia masih menangis atau tidak. dan Theo memutuskan berbohong pada Wilard, ia tak ingin tuannya berubah menjadi lemah karna seorang gadis, karna jika dibiarkan maka bisnis tuan Wilard akan tamat dan para anak buah akan melarat karna kehilangan pekerjaan.
__ADS_1
"Nona Tari sudah tertidur dari tadi, ia tidak sedih tuan mungkin karna nona Tari masih sangat muda jadi mudah baginya untuk menghapus perasaannya." ucap Theo menundukan wajahnya dalam-dalam. ia bisa melihat kalau tuan Wilard terlihat kecewa.
"Aku pikir dia menangis." ucap Wilard menjatuhkan tubuhnya di kursi besarnya....
"Dia hanya seorang gadis 18 tahun tuan Wilard, dan tuan sendiri sudah 35 tahun..tentu jalan pikiran tuan dan nona sangatlah berbeda." ucap Theo menundukan wajahnya...
Wilard terdiam....dalam hati ia membenarkan, mereka begitu berbeda dari usia yang terlalu jauh sampai Wilard sendiri sadar jika mustahil mereka bersama, lebih baik Tari patah hati sekarang daripada nanti, jika bersama Sean kemungkinan Tari akan kembali pada keluarganya itu besar..tapi tidak dengannya. Wilard memejamkan matanya dengan kesedihan yang tergambar jelas di wajah matangnya...
"Aku mengerti...besok jam berapa Sean akan datang."
"Pagi-pagi sekali." ucap Theo menunduk..
"Pria itu...tidak menyia-nyiakan waktu, tidak bisakah dia..."
"Itulah yang terbaik tuan Wilard...semakin cepat nona pergi itu bagus untuk kekuasaan tuan Wilard kembali."
"Baiklah...siapkan penyambutan dengan segera."
"Baik tuan Wilard."
Wilard termenung sendirian di kamarnya...ia merindukan Tari.....
๐๐
Tari memohon pada Theo untuk mengijinkannya masuk menemui Wilard walau dalam keadaan tertidur. dan Theo menginjinkannya walau dalam waktu yang terbatas tentu saja Theo takut jika tuan Sean akan segera sampai dan nona Tari masih dikamar tuan Wilard karna itu Theo berjaga di pintu.
Tari masuk dan menggenggam seikat bunga dan di letakan di samping ranjang Wilard, pria itu masih tertidur lelap. untuk sesaat Tari memandang seluruh sudut kamar dengan senyuman getir.
ini akan menjadi hari terakhir ia menginjakan kaki dirumah besar ini.
Airmata menetes di wajah lelahnya.....
Lalu pandangannya menyapu pada sosok Wilard yang terlelap.. ia melangkah mendekati ranjang dan duduk di sampingnya, menatap pria itu yang masih tertidur.....
Tari tersenyum dengan airmata yang menetes.....
"Berbahagialah sayang, aku....merelakanmu aku....mencintaimu, aku...akan selalu menyimpanmu didalam hatiku..Wilard, setelah aku pergi kau...tidak akan merasa lebih baik dan kau akan jadi pemimpin yang hebat.....
__ADS_1
Airmata Tari kembali menetes....sehingga jatuh di atas wajah Wilard..
"Maafkan aku...meski kau membenciku, aku tetap mencintaimu Wilard Pearl." desah Tari memejamkan matanya dengan isakan panjang....
Suara pintu di ketuk membuat Tari terkejut, ia tau itu adalah isyarat dari Theo kalau ia harus pergi...
Tari menatap wajah Wilard.....dan sesaat kemudian ia menundukan wajahnya dan menyentuh bibir Wilard dengan bibirnya.. hingga airmatanya menetes lagi dan lagi...
"Aku pergi Wilard, selamat tinggal." ucap Tari lalu beranjak menjauh dari Wilard yang masih menutup matanya.
๐งก๐งก
Sean turun dari pesawat dan menikmati udara di pulau milik Wilard yang begitu indah...para anak buahnya masih berjaga-jaga disekitarnya.
Sorang gadis tampak berlari kecil mendekati Sean hingga menarik perhatiannya.
Mereka saling menatap dengan ingatan masa lalu yang menyapa.....Tari tak tahan untuk tidak tersenyum. ia sangat ingat dengan Sean, pria yang pernah menolongnya waktu masih kecil ketika itu kak Jay ingin membawanya pergi dadi seolah asramanya, kejadiannya sudah lama sekali namun ingatan itu masih tergambar jelas di ingatan Tari.
"Kak Sean."? ucap Tari dengan senyum yang mengembang...
Sean tersenyum dengan tampannya, ia mendekati Tari dan menghela nafas lega, menyadari jika gadis ini tumbuh dengan cepat dan cantik...
"Apa kabarmu Tari Arneta."?
"Kak Sean....kau sangat tampan dan tinggi, aku baik-baik saja.. bagaimana denganmu...?
"Aku merindukanmu setengah mati Tari..dan menjadi lega ketika kita bertemu." ucap Sean lembut..
"Bisakah kita bicara."? ucap Tari dengan ekspresi memohon.
Sean tersenyum dan mengangguk......
๐๐
Wilard terbangun dengan wajah pucat menatap sekelilingnya dengan tajam......
"Tari...."????
__ADS_1
Hai.....readersku yang tercinta, mau nanya pendapat kalian yah...pantasnya Tari sama siapa, kali ini Author kasih kesempatan kalian buat milih, dan suara terbanyak yang jadi pemenangnya...gimana...?
Komen yah.....๐๐