
20 tahun kemudian..........
Seorang pria sangat tampan turun dari mobilnya dan menatap sebuah mansion dihadapannya.....
sudah 5 tahun ia meninggalkan kota ini.........
Pintu terbuka dan seorang gadis cantikk menatapnya dengan senyuman bahagia.
"Selamat datang kembali tuan muda Rafael Wins." ucapnya segera menghambur ke pelukan adikknya.
"Aku merindukanmu kak Angel." balas pria itu semakin mempererat pelukannya......
"Aku juga sangat merindukanmu adikk kecilku." ucap Angel dengan mata yang berbinar.
Kedua saudara itu melangkah ke dalam rumah disambut senyum bangga kedua orangtuanya.
"Papa.....mama." senyum Rafael mengembang di wajah tampannya begitu memikat. Rafael memiliki wajah tampan seperti Rusell papanya dan memiliki mata indah sang mama. perpaduan sempurna dari seorang Rusell dan Livia ada padanya.
"Anakku." ucap Rusell dengan bangga ia memeluk putranya dengankerinduan yang begitu dalam. hingga airmatanya jatuh, yah..ia sangat mencintai Rafael dan tidak berhenti merindukan putranya selama 5 tahun mereka berpisah.
Melepaskan pelukan Rafael merasa haru, segala cinta dan kasih sayang benar-benar ia rasakan di dalam rumah papa dan mamanya. ia tumbuh menjadi seorang pria yang penuh cinta namun tetap saja tersimpan warisan watak seorang Rusell Wins didalam dirinya yang tidak bisa ia singkirkan dari dalam jiwanya. dirumah ia menjadi pria yang hangat namun jika dia dilingkungan luar ia akan berubah menjadi sosok menakutkan dan dingin. entah mengapa ia merasa menyukai sikapnya ketika ia berada diluar rumah.
Tentu saja, sang mama selalu mengingatkan dirinya agar tidk memiliki sifat seorang Rusell Wins papanya. dan Rafael memenuhi permintaan mamanya, dia selalu bersikap seperti apa yang dikehendaki Livia.
Pandangan Rafael terarah pada wanita yang paling ia cintai didalam hidupnya yaitu mama Livia. jika nanti ia mempunyai kekasih, maka ia akan mencari sosok mama di dalam diri wanita itu.
"Mah...." bisik Rafael dengan mata yang basah. ia membuka tangannya lebar-lebar menyambut tubuh mama Livia yang sedang meneteskan airmata kerinduan untukknya. Rafael memejamkan mata, memeluk tubuh mama Livia yang hanya sampai didadanya karna tubuh Rafael yang memang jauh lebih tinggi. mendekap dengan erat. sungguh indah dan menyenangkan pelukan seorang wanita yang melahirkanmu tak akan bisa tergantikan oleh keindahan apapun juga didunia. mememluk mama Livia seolah bagai vitamin dosis tinggi yang disuntikan pada tubuhnya. Rafael merasakan itu.
"Mama merindukanmu nak." isak mama Livia enggan melepaskan pelukan hingga Angel dan Rusell hanya saling menatap penuh pengertian.
"Aku juga merindukanmu mamaku tersayang."
Rafael melepaskan pelukan dan membiarkan mama Livia membawanya duduk di sofa ruang tamu. wanita yang masih tampak cantik itu mulai memerintah para pelayan untuk menyiapkan makanan kesukaan Rafael dan Angell meski Angel tidak kemana-mana namun Livia selalu memporsikan kasih sayangnya secara seimbang, hingga kini Angel tidak tau jika Livia bukanlah ibu kandungnya.
"Ayo...makanlah dudlu sayang." ucap sang mama sedikit mendesak.
"Sebentar lagi mah...aku sudah makan di pesawat tadi." tatap Rafael.
"Baiklah sayang, mama tidak akan memaksa." ucap mama Livia sambil membelai rambut putrinya Angell yang selalu lengket dengannya. dan alasan Angell tidak ingin kuliah di luar negri adalah karna dia tidak bisa jauh dari mama Livia.
__ADS_1
"Bagaimana dengan perusahaan barumu Rafael." tanya Rusell dengan wajah serius.
"Aku akan membuka Hotel sekaligus Restoran baru di kota ini Papa, aku akan sangat sibuk nanti."
"Baiklah Papa akan selalu mendukungmu."Rusell tersenyum bangga.
"Kak....bagaimana dengan butik kakak."
"Semua berjalan baik Rafael..aku akan meluncurkan mode baru bulan ini." ucap Angel melirik Livia yang mencium dahinya dengan penuh rasa syukur.
Rusell dan Rafael saling menatap dan menggelengkan kepala melihat keakrapan Angell dan Livia yang tidak terpisahkan bahkan dengan kehadiran Rafael pun tidak menggeser posisi Angell. mereka sedikit iri karna perhatian Livia selalu pada Angel.
"Sekarang ayo kita makan." ucap Papa Rusell sambil berdiri dan lebih dahulu melangkah.
Angell bangkit dan menyusul papanya..sementara Mama Livia menatap tajam ke arah Rafael yang sedang memegang ponselnya. mengapa ia melihat wajah Rusell di wajah Rafael. tatapan itu sama persis dengan tatapan Rusell ketika hendak mengahncurkan seseorang. Livia menjadi sedikit takut. ketika darah lebih kental dari air, mungkinkah Rafael akan menuruni sikap Rusell dahulu.
Rafael tertegun ketika mendengar pesan dari anak buahnya.
Toni
Tuan Rafael, perusahaan x tidak sanggup membayar bunga dari hutang-hutang mereka. apa yang harus saya lakukan.
Mata Rafael menggelap, sinar mata membunuhnya terpancar dari matanya. kemudian ia membalas pesan anak buahnya.
Rafael
.........
"Sayang, serius sekali sih...." ucap mama Livia mengejutkan Rafael. pria itu tersenyum dengan gugup segera menyimpan ponsellnya di dalam sakunya dan tersenyum dengan sangat manis.
"Aku membalas pesan dari sahabatku Mah." Rafael berdiri sambil memeluk mama menuju ruang makan.
"Siapa sahabatmu itu ajaklah kerumah." ucap Mama Livia dengan ramah.
"Akan ku kenalkan nanti Mah, ayo...aku sangat lapar." Rafael mengalihkan perhatian.
"Baiklah sayang ayok."
....^^....
__ADS_1
Rafael meninggalkan kediaman orangtuanya. menuju sebuah hotel yang ia tuju. menancap gas ia sedikit terburu-buru hingga iapun mengebut dalam kecepatan tinggi.
Lokasi Villa pribadinya yang berada di luar kota membuat Rafael harus sabar untuk sampai disana.
Setelah menempuh perjalanan jauh selama 3 jam sampailah Rafael di daerah pegunungan sekitar Vilaa. mobil itu berhenti dan beberapa anak buahnya membungkuk hormat kepadanya.
Rafael keluar dari mobil dan segera melangkah ke dalam Vila.
Toni pria berusia sekitar 30 tahun itu menundukan kepalanya dengan hormat.
"Bagaimana..apa pria tua itu sudah ada didalam."
"Ya tuan, beserta anak gadisnya." lirik Toni dengan seringai tipis.
"Bagus..ayo kita sedikit bermain-main, aku sangat bersemangat hari ini." Rafael melangkah lebih dahulu untuk menemui korbannya.
Rafael menatap seorang pria tua dan anak gadisnya yang sedang duduk di sebuah kursi dengan tatapan terikat.
"Tuan Rafael Wins." desah pria berkepala bota itu gemetar. sementara ia melirik kepada putrinya yang sangat cantik disebelahnya.
"Bagus....aku senang kau mengingat namaku tuan Peter" Rafael mendekati pria yang berhutang sangat banyak padanya itu dan terkekeh melihat hasil karya seni anak buahnya pada pria ini. sekujur tubuhnya babak belur.
"Tuan Rafael....ampuni aku dan, tolong bebaskan putriku aku mohon...."
"Hahahah.....' Rafael tertawa keras ketika mendengar permintaan Peter yang tidak masuk akal.
"Mengapa anda tertawa." wajah Peter menjadi pucat menyadari tatapan membunuh dari pria yang sangat tampan didepannya, jika orang yang melihatnya sekilas akan terpana dengan ketampanan pria ini namun, jika sudah menemukan sisi gelapnya maka mereka baru sadar betapa mengerikannya pria ini.
"Bukankah kau terlalu serakah setelah mendapatkan semua uangku, aku tidak akan mengampunimu Peter, kau pria munafik dan aku sangat membenci seseorang yang munafik..kau akan membayarku dengan sangat mahal." tatapan Rafael berubah sangat dingin.
"Toni...."
Pria di belakangnya menghampiri Rafael dan menunduk.
"Lempar pria ini ke jalanan dan pastikan dia tidak akan punya apa-apa lagi."
"Baik tuan Rafael."
"Dan soal gadis ini, bawa dia ke kamarku diatas dia harus membayar perbuatan ayahnya." Rafael tersenyum kejam, disertai senyuman Toni. lalu Rafael meninggalkan ruangan itu mengabaikan tangisan pria tua yang sudah berani menipunya..
__ADS_1
"Dasar orang bodoh..aku membencinya."
Jangan lupa like, koment dan vote ya...❤❤