
Aksana membeku, jantungnya berdebar dengan kencang seperti mimpi ia memeluk Lusi saat ini, meski bukan sebuah keinginan namun insiden kecil yang mempertemukan mereka.
Pria itu tersenyum lega sungguh lega, rasanya semangat di dalam dirinya bangkit 1000% melihat Lusi saat ini. wajah Lusi merah padam ia sama sekali tak siap dengan pertemuan mereka saat ini. hatinya bergetar karna rindu....
"Maaf bu...dasinya sudah siap." ucap pelayan toko mengejutkan Lusi dan Aksana..
Pegangan itu terlepas hingga keduanya tampak kikuk. Lusi mengangguk ke arah pelayan toko yang sedang menantinya. wajahnya kembali dingin seolah tidak perduli dengan keberadaan Aksana di hadapannya...
"Kau membeli dasi juga..untuk siapa."? tanya Aksana dengan penasaran.
Lusi menatap wajah Aksana yang tampak sedikit kusut dan tampak berantakan, ia seperti pria yang hampir tak pernah tertidur, ada lingkaran hitam di bawah matanya..Aksana berubah menjadi sosok lain yang tak terurus..hal itu membuat Lusi merasakan sedikit nyeri.
Kemudian ia menggeleng...
"Yang pasti bukan untukmu tuan Aksana." ucap Lusi melangkah melewati Aksana yang tampak lelah...
Lusi membayar dengan sangat cepat lalu keluar dari sana..sementara Aksana memilih mengikuti istrinya,tidak ia tak akan kehilangan Lusi lagi, Tuhan sudah memberinya jalan maka Aksana tidak akan melewatkannya.
Lusi merasa gusar karna Aksana terus mengikuti di belakangnya,sesekali ia menoleh dan melemparkan tatapan dingin namun hanya di anggap angin lalu oleh Aksana,pria itu sangatlah keras kepala.
Lusi akhirnya keluar dari pusat perbelanjaan itu menuju mobil sementara Aksana terus mengikutinya,
"Lusi tunggu..aku mohon." teriak Aksana dengan putus asa..
Lusi akhirnya menghentikan langkahnya...sesaat ia menoleh ke arah Aksana dengan hati yang hancur, Aksana tampak begitu lain sangat berantakan dan tak memperhatikan penampilannya, Aksana yang dulu tidak akan pernah serapuh ini dia adalah pria yang gagah dengan segala keangkuhannya. namun lihatlah dirinya sekarang, Aksana tak lebih dari pria yang tampak rapuh. Lusi menghela nafas, itulah sebabnya jika pepatah bilang,
Pria tak bisa hidup sendirian, karna itulah wanita dijadikan Tuhan sebagai penolong bagi pria...yah Lusi sudah membuktikannya sekarang...
"Mengapa kau mengikutiku terus tuan Aksana yang terhormat...aku rasa kau tidak kehilangan pelayanmu bukan."? Lusi bersedekap dengan dingin...
Aksana mengangguk....
"Satu-satunya pelayanku yaitu kau Lusi." ucap Aksana dengan tegas....
Lusi mengepalkan tangannya tidak terima....
__ADS_1
Asana mendekat hingga mereka berdiri saling berhadapan,
"Kau adalah segalanya bagiku,kau adalah pelayanku, majikanku, kau adalah chefku, dokter bagiku..kau juga sebagai perawatku yang setia..kau adalah temanku, musuhku..Lusi...lebih dari itu semua...kau adalah hidupku, dan aku baru sadar bahwa aku lumpuh dan buta tanpamu Lusi,aku bahkan sedang sekarat saat ini." bisik Aksana sungguh menyesal, matanya basah hingga siapapun yang mengenalnya tidak akan percaya jika dialah seorang Aksana si penguasa yang kejam itu.
Lusi melonggarkan tenggorokannya,ingin rasanya ia langsung memeluk tubuh suaminya dan berkata bahwa yah...ia disini dan semua akan baik-baik saja, ia ingin kembali merasakan pelukan penuh cinta yang selama ini selalu ia rindukan dari sosok Aksana yang telah memberinya luka dalam.
Namun sekali lagi Lusi menahan dirinya, ia masih ingin sedikit menyiksa Aksana lebih lama lagi, agar Aksana bisa lebih berpikir 1000 kali untuk menyakitinya...dan Lusi memastikan pria arogan ini jera..
"Apakah kau menghafalsemua di kepalamu sebelum bertemu denganku."? tatap Lusi tajam...
"Apa maksudmu Lusi aku benar-benar..."
"Seorang Aksana....seorang pria yang arogan, menjunjung tinggi nama baik dan imeg..apakah kau melakukan ini karna kau butuh aku untuk pertemuan dengan rekan bisnismu, atau kau malu karna pergi ke acara-acara pentingmu lalu mereka menanyakan keberadaanku dan kau tidak mampu menjawabnya."?
"Lusi...."
"Cukup...aku rasa kau sedang berbohong padaku Aksana." ucap Lusi dengan suara tajam, ia lalu membalikan tubuhnya dan melangkah membuka pintu mobil namun tiba-tiba saja, Lusi tertegun mendengar suara di belakangnya...
Wanita itu menoleh dan melebarkan matanya ketika melihat Aksana sudah tersungkur memegang perutnya,ia tampak kesakitan...
"Aksana..."? jerit Lusi mendekat,ia lupa jkka ia barh saja marah, ia lupa bahwa ia sedang menguji Aksana,...hatinya berdebar takut..yah..ia takut terjadi sssuatu dengan Aksana...
"Aku...kesakitan Lusi, bisakah kau membawaku ke mobilku."? ucap Aksana menunjuk ke arah mobilnya...
Lusi menatap mengikuti arah telunjuk Aksana dan mengangguk,
"Baiklah...aku akan membantumu."ucap Lusi sangat cemas....
Dengan susah payah Lusi membantu Aksanasampai ke mobilnya seraya membuka pintu mobil...
"Bagaimana cara kau membawa mobil Aksana, haruskah aku memanggil......"
Suara Lusi terputus ketika tubuhnya di dorong masuk ke daam mobil hingga ia jatuh di kursi mobil, matanya melebar seakan tidak percaya ketika mendengar suara tertawa pelan dari ketika bunyi.......
"Klik." tanda pintu mobil sudah di kunci dan Lusi telah kehilangan kesempatan untuk melarikan diri, ia memejamkan matanya penuh sesall, bagaimana mungkin ia bisa begitu bodoh dengan mempercayai Aksana.?
__ADS_1
Lusi menatap tajam ke arah Aksana yang melangkah tegap mengitari mobil, ia tampak sehat dan bugar, batin Lusi mengutuk...
Pintu mobil terbuka dan Aksana tersenyum penuh kemenangan pada Lusi....
"Kau...membohongiku..kau..."
"Ssst...aku masih suamimu Lusi,aku berhak membawamu sayang."
"Kau mau membawaku kemana." jerit Lusi kesal..
"Melepaskan kerinduan kita apalagi, kau tau betapa tersiksanya aku jauh darimu sayang." bisik Aksana tidak sabar,..
"Kau brengsek...kau pikir aku sudi melakukannya denganmu..aku tidak akan..."
Aksana mendekat..sesaat kemudian melum** bibir penuh milik Lusi yang menggairahkan, satu ciuman dan mampu membakar Aksana....
Pria itu tersenyum,lalu menghidupkan mesin mobil...
"Aku akan menelfon Mikha....dia pasti.."
"Mikha sudah tau....lagipula aku bertemu dengannya lebih dahulu sebelum kau sayang." ucap Aksana melanju pelan dengan mobilnya...
"Apa....Mikha sudah tau."? ucap Lusi merasa dihiananti oleh putrinya sendiri, Lusi mengeraskan tatapannya.....
"Yah....kau tau Lusi,meski wajahnya mirip denganmu namun semua sifatnya mirip denganku,dan satu lagi..putriku benar-benar mencintai papanya." ucap Aksana dengan bangga...
"Mikha......anak itu, aku akan membunuhnya..." jerit Lusi histeris..
Aksana hanya tertawa penuh kemenangan...
"Aku tak akan memaafkanmu Aksana...turunkan aku." ucap Lusi penuh peringatan.....
"Perlu kau ingat Lusi aku seorang Aksana, dan aku.....tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun." ucap pria itu tajam...
"Hoh...aku benar-benar muak denganmu."
__ADS_1
"Simpan tenagamu sayang, karna kau akan sangat lelah kali ini."ucap Aksana mengedipkan matanya.....
Lusi menggeleng gusar....ia sudah tidak bisa lari lagi....