
Rusell menuruni tangga akan menemui Erik yang sedang menunggunya di taman depan rumah, sedangkan Livia mengikuti Rusell dari belakang.
"Sayang, aku ingin bicara." ucap Livia pelan hingga mampu menghentikan langkah Rusell. pria itu membalikan tubuhnya dan menyambut Livia untuk menggenggamnya.Rusell menuntun Livia hingga berdiri di hadapannya dengan sangat hati-hati. kehamilan Livia sudah terlihat besar membuat Rusell tersenyum senang.
"Ada apa sayang."ucapnya sambil membelai rambut Livia.
"Aku ingin ketika Melinda datang, dia harus mengikuti semua aturanku Rusell dan aku ingin kau setuju denganku..aku hanya ingin menjaga keluargaku dan aku ingin kau menyerahkan urusan rumah hanya kepadaku, aku ingin Melinda tau jika akulah nyonya Rusell Wins, aku tidak ingin dia menjadi pengganggu " ucap Livia dengan wajah serius.
Ruzell terdiam mengamati Livia yang semakin hari semakin menunjukan sikap berani dan proktektif kepadanya mungkin karna hormon kehamilannya ataukah karna mereka sudah menjadi suami istri lalu tanpa sadar sikapnya yang tegas menular pada istrinya, apapun itu Rusell senang..dia akan setuju dan menyerahkan semua kepada Livia karna memang Livia adalah nyonya rumah ini dan nyonya didalam hatinya dan Angel. Rusell tersenyum seraya mengangguk memegang kedua bahu istrinya dan menepuknya dengan bangga.
"Aku mencintaimu sayang dan aku sudah berjanji akan menyerahkan hidupku kepadamu jadi, tentu saja kau nyonya Livia Wins.. kau yang paling berhak mengatur semua penghuni rumah ini termasuk aku, dan dengan senang hati akan bertekuk lutut kepadamu sayangku." ucap Rusell denan mata berkaca-kaca. ia sungguh-sungguh mencintai Livia dan Tuhanlah saksinya, jika ia akan menjaga Livia dengan nyawanya.
Livia tersipu malu mendengar pujian suaminya yang membuatnya bahagia diberikan hak untuk mengatur seisi rumah. wanita itu mengggenggam jemari Rusel yang tadi berada di bahunya. lalu ia menuntun jemari itu agar menyentuh perutnya dengan lembut. keduanya saling menatap dengan penuh cinta.
"Kau tau betapa bahagianya aku saat ini sayang, terimakasih karna kau menghargaiku sebagai istrimu." ucap Livia dengan mata berkaca-kaca.
Rusell menundukan kepalanya seraya mencium perut Livia dengan penuh cinta lalu mengangkat wajahnya menatap Livia dengan dalam kemudian mencium bibir Livia dengan hangat.
"Aku pernah sangat menyakitimu dahulu Livia bahkan jika aku ingat aku sungguh menyesalinya. kau adalah cahaya hidupku yang dikirimkan Tuhan kepadaku untuk menerangiku yang penuh dengan kegelapan.apapun yang kau inginkan akan aku berikan jika itu membuatmu bahagia."
"Rusell..." airmata bahagia Livia menetes diwajah cantikknya sungguh ia sangat bahagia sekarang dan tidak mengharapkan apa-apa lagi. Tuhan telah memberikannya keluarga yang luar biasa.
Rusell meraih tubuh Livia untuk memeluknya dengan erat membiarkan keharuan melingkupi keduanya.
"Aku mencintaimu Livia Wins, aku sungguh-sungguh mencintaimu." ucap Rusell memejamkan matanya dengan sejuta haru.
"Aku juga mencintaimu Rusell Wins suamiku..aku bahagia, terimakasih." bisik Livia mengelus punggung suaminya dengan penuh kasih sayang.
>>>>^^<<<<
Roni menatap makanan yang disediakan Aleta dengan senyuman terimakasih.
"Silahkan tuan."
"Berhenti memanggilku tuan, kita tinggal bersama sekarang dan kita sudah seperti teman..aku tidak ingin ada jarak di antara kita." ucap Roni sambil mengunyah makanannya dalam diam.
__ADS_1
"Baikklah..tuan....
Roni menatap tajam....
"Maksudku adalah Roni, ucap Aleta tersenyum membuat Roni terpana.. yah selama ini Aleta selalu berwajah datar tak pernah sekalipun wanita ini tersenyum , setidakknya Roni tidak pernah melihatnya.
"Ehm..sering-seringlah tersenyum, kau terlihat lebih baik." ucap Roni
Aleta sekali lagi menunduk dan menutup senyumnya. ia menyesali tersenyum. Aleta tidak ingin kembali jatuh pada pesona Roni. ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk pergi, mungkin setelah rencana tuan Roni berhasil untuk mendapatkan Livia.
"Terimakasih Roni, aku akan mengingat kata-katamu." ucap Aleta
Roni hanya mengangguk dengan pelan..lalu kembali fokus pada makanannya.
"Bagaimana..apakah hari ini Melinda akan mulai menginab dirumah Rusell." tanya Roni.
"Ya, malam ini Melinda akan mulai menginab." balas Aleta.
"Bagus, aku hanya akan menunggu kabar baikk kan..mungkin saja.. Livia sendiri yang akan menghubungiku dan menangis lalu memintaku membawanya pergi dari kota ini..dan kami akan menikah." seru Roni dengan senyuman puas, membayangkan Rusell kehilangan Livia seperti apa yang ia rasakan dulu membuatnya tidak sabar untuk melihat hasillnya.
Aleta hanya mengepalkan tangannya dengan kuat, mencoba menghalau rasa sakit yang menghujam jantungnya. inilah alasannya mengapa hari demi hari membuat Aleta semakin giat membantu Roni untuk mencapai tujuannya karna semakin cepat Roni bersama Livia maka dengan cepat juga ia akan meninggalkan pria menyedihkan ini. yang mencoba segala cara walaupun ia tau Livia sudah tidak mencintainya.
"Siapa yang kau bilang bodoh." tatapnya tidak terima.
Wajah Aleta pucat, ia tak berhenti mengutuki kebodohannya yang berani mengeluarkan kata-kata seperti itu pada Roni. wanita itu mundur beberapa langkah menyadari Roni bangkit dari tempat duduknya dan mendekatinya..
"Aku tidak bilang kau bodoh, percayalah.' jerit Aleta ketika ia terhimpit didinding tembok denga gugup.
"Kau jelas-jelas mengataiku Aleta, beraninya kau."
"Tidak..percayalah." seru Aleta yang hampir pingsan karna mereka begitu dekat sekarang. dan ia hampir tak bisa bernafas dngan baik."
"Ikut aku sekarang." Roni meraih jemari Aleta, setengah menarikknya..
"Kemana..bukankah tadi pagi sudah." ucap Aleta dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Siapa yang ingin bercinta denganmu sekarang." ucap Roni sambil terkekeh menikmati wajah malu Aleta.
"Lalu."
"Aku akan mengajakmu berbelanja dan membawamu jalan-jalan."
Aleta tersenyum..apakah dia sedang bermimpi.?
"Apa kau serius."?
"Apa aku terlihat sedang bercanda." ucap Roni tersinggung.
"Baiklah..aku akan mandi..."
"Tidak usah mandi, kau sudah cantik seperti ini..tak perlu mengganti baju lagipula aku akan merombak penampilanmu yang terlihat kuno." ucap Roni menatap gaya busana yang kuno, Aleta selalu menggulung rambutnya ke atas dan berpakaian yang longgar membuat auranya tidak terlihat, dan sebagai rasa terimakasihnya Roni akan mengubah wajah Aleta jadi lebih cantik dan modis.
"Ayo kita pergi." Roni meraih jemari Aleta dan melangkah menuju mobil. Aleta hanya menatap Roni dengan senyum bahagia.
>>^^<<
Malam hari...
Livia sedang menyuapi Angell, sedang Rusell belum kembali bersama Erik.. terdengar bunyi mesin mobil memasuki garasi rumah. Livia menoleh waspada.. ia menyerahkan makanan Angel pada pengasuhnya untukk memberi makan Angel selanjutnya.
Livia berdiri melangkah menuju Ruang tamu tepat disaat gadis itu masuk dengan langkah yang angkuh dan berpakaian terbuka. Livia menarik nafasnya.
"Saatnya menghadapi Melinda." batinnya.
"Selamat malam kakak Livia, senang bisa bertemu denganmu lagi." ucap Melinda dengan sinis.
Livia tersenyum namun sesaat kemudian ia memanggil salah satu pelayan untuk memberikan sebuah kain untuk menutupi dada Melinda yang akan merusak mata seluruh penghuni rumah.
"Apa kakak sedang menghinaku." tatap Melinda dengan tajam.
Livia tersenyum mendekati Melinda dan membalas dengan tatapan tak kalah tajam.
__ADS_1
"Apa alasanmu yang sebenarnya Melinda, untuk menengok Angel atau menggoda suamiku atau malah semua pria yang ada dirumah ini termasuk para pekerjaku, sehingga kau datang dengan baju terbuka." lirik Livia sinis.
Melinda mengepalkan tangannya, dia pikir Livia adalah wanita lemah yang akan gampang menangis jika Melinda sedikit menggertak. tapi apa ini..bahkan ia mendapat kejutan diawal kedatangannya. Melinda harus menyiapkan diri untuk menghadapi Livia.