Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Kau adalah milikku Livia


__ADS_3

Livia seperti bermimpi bisa melihat Roni mantan tunangannya yang pernah sangat ia cintai. airmatanya mengalir deras. menyadari Roni berdiri dengan tatapan rindu yang menyiksa Livia, bagaimanapun..ada sebagian dari hatinya yang merindukan Roni walau mungkin cinta itu sudah terkikis habis namun, ia mengenal Roni hampir diseluruh hidupnya dan terpisah paksa. karna penculikan yang dilakukan oleh anak buah Rusell.


hati Livia seakan diremas dengan begitu kuat melihat Roni yang dulu gagah dan berbadan tegap kini mengalami penurunan berat badan yang begitu dramatis. tubuhnya lebih kurus dan ada janggut dan kumis yang menandakan ia tidak mengurus dirinya dengan benar.


"Roni." bisik Livia dengan airmata yang menetes.


"Ini aku Livia." suara Roni bergetar berusaha menahan airmatanya yang hampir mengalir. ia mendekati Livia.


"Aku merindukanmu Livia." ucapnya mengulurkan tangan.


"Roni...aku merindukanmu." tangis Livia begitu sedih.


Sudah setahun lebih mereka berpisah tanpa sedikitpun kabar. bagaimana kabar Roni selama ini, apakah dia baik baik saja, apakah pria ini makan dan tidur dengan benar..hati Livia sedih sekali. apakah mungkin Roni sudah menemukan penggantinya.? Livia hanya terus memohon agar pria ini bisa melupakannya dan melanjutkan hidupnya. namun menyadari kenyataan Roni terlihat frustasi Livia merasa sangat bersalah.


Pria itu menggenggam jemari Livia dengan kuat, seolah dia takut jika pegangannya terlepas Livia akan pergi lagi dari hidupnya.


"Bisakah kau ikut aku sebentar saja.? tatap Roni memohon.


"Roni..tapi aku..." bagaimana kalau Rusell mencarinya apa yang harus dia katakan, apakah Rusell akan marah padanya. Livia tidak pernah merasa setakut ini.


"Kau sudah berubah Livia..apakah kau takut kalau Rusell akan marah."? ucap Roni mengepalkan tangannya.


"Bukan begitu Roni tapi aku harus..."


"Baiklah...kau lebih memilih menjaga perasaan Rusell dari pada aku yang mencintaimu selama bertahun-tahun." tuduh Roni menajamkan matanya dan menghempaskan pegangannya pada Livia.


"Maafkan aku Roni..baiklah, ayo..kita pergi." ucap Livia tersenyum.


Mendekati Roni dan menyentuh lengannya. hal yang biasa dilakukan Livia ketika dia merasa bersalah. pria itu menatap dengan tajam lalu meraih jemari Livia dan setengah menyeret wanita yang ia cintai itu keluar dari pesta.


💓


Sementara Rusell sudah mengetahui Roni telah membawa istrinya pergi dan tak sabar ingin menghajar pria itu.iapun menekan eardphone dan berbicara.


"Cegat mereka ditempat yang sepi, aku tak ingin ada keributan yang mengundang perhatian."ucapnya dingin.


Usai berkata Rusell berpamitan dengan tuan Jhon sekaligus meminta maaf jika istrinya sedang tidak enak badan dan harus segera pergi.


Wajah Rusell berubah begitu dingin ketika memasuki mobil melirik Erik yang mengemudikan mobilnya. Rusell memejamkan matanya ia tidak menyangka jika Livia lebih memilih pergi bersama mantan tunangannya, padahal Rusell sudah berkali-kali memberi peringatan pada Livia. istrinya kembali menghianatinya. entah mengapa Rusell merasakan nyeri.

__ADS_1


Rusell segera mengeluarkan senjata api dari dalam saku jassnya dan kembali memeriksa beberapa peluru yang terpasang dengan sempurna.


"Kau akan merasakan peluru ini menembus kepalamu Roni" ucap Rusell geram.


Mobil itu melaju sangat kencang, menembus gelapnya malam. bersama kemarahan Rusell yang akan meledak dalam beberapa menit kedepan.


💔


Livia menatap ke arah jalan dengan cemas sesekali menoleh kebelakang takut jika Rusell sedang mengejar mereka. Livia sangat yakin kalau Rusell tidak akan membiarkannya pergi. wanita itu memejamkan matanya sedikit menyesal karna menuruti keinginan Roni untuk pergi bersama, yang dikira Livia hanya sebentar.


"Roni..kau mau membawaku kemana."


"Ketempat dimana seharusnya kau berada Livia." tatapnya dengan penuh tekat.


"Roni..bagaimana kalau Rusell mengikuti kita, kau akan celaka Roni." ucap Livia sangat cemas.


"Aku tidak perduli Livia, aku..mencintaimu dan kita akan bersama lagi seperti dulu."


"Roni, aku sudah menikah dan Rusell tidak akan membiarkanmu membawaku." jerit Livia sangat panik.


"Apa kau mencintainya Livia." ucap Roni terlihat syok.


beberapa mobil dari arah depan dan belakang mobil mereka menghalangi laju mobil Roni. sementara cahaya begitu menyilaukan mata dengan lampu sorot yang mengarah lurus pada mereka berdua. jantung Livia berdebar kencang menyadari mereka telah tertangkap tanpa mampu terlepas. Rusell tidak akan mengampuninya kali ini. Livia dan Roni saling memandang dengan tatapan pasrah, bagi Roni dia tidak takut sedikitpun dan sudah lama menantikan pertemuan mereka walau dengan resiko yang besar. mereka keluar dari sana dengan wajah pucat pasi.


Sebuah mobil datang dari arah depan dan berhenti dihadapan Livia dan Roni, seorang pria membuka pintu belakang mobil Rusell.


Livia merasa sangat gemetar menyadari Rusell turun dari mobil dengan tatapan dingin dan beku tidak tersentuh sedikitpun.


Rusell tersenyum kepada Livia dan Roni yang menatap mereka. ia menyandarkan tubuhnya di depan mobil begitu santai.


"Bukankah aku adalah pria yang baik sayang, aku...membiarkanmu bertemu dan reuni dengan mantan kekasihmu."


"Rusell ini tidak seperti yang kau pikirkan."


"Benarkah...yah...aku pikir, istriku akan setia aku pikir..aku bisa hidup dengan tenang dan damai dengan cintamu, tapi ternyata selama ini aku salah berpikir tentang dirimu Livia Wins istriku." tatatp Rusel dengan tajam.


Livia menundukan wajahnya kehilangan kata-katanya....


"Tuan Rusell Wins, dari awal Livia adalah milikku, dan kau mencuri hidupnya dariku."

__ADS_1


"Hahahahahha..." tawa Rusell begitu mengerikan ditengah malam. sementara anak buahnya hanya mengelilingi mereka dengan tatapan tajam dan siap membunuh.


"Aku memang mencuri hidup Livia untukku dan juga anakku." ucap Rusell sangat santai.


"Kau memang bajingan yang tidak tau malu." ucap Roni sangat marah.


Rusell mendekati keduanya dan memandang mereka satu persatu dengan senyum kejam.


"Kenyataanya sekarang adalah Livia milikku, milik seorang Rusell Winss bahkan aku telah mengukir tanda ditubuhnya atas namaku agar dimanapun dia berada, tak akan bisa merubah apapun kalau dia milikku seorang." Rusell puas melihat betapa pucatnya wajah Roni saat ini dihadapannya.


"Rusell cukup." jerit Livia tidak tahan.


Rusell meraih tubuh Livia dan memeluknya dengan posesif ia menatap Livia dengan penuh rasa cemburu.


"Kau tidak tahan aku menyakiti hatinya sayang."


"Rusell hentikan sudah cukup aku menyakitinya aku sudah menjadi milikmu jangan menyakitinya lagi." ucap Livia dengan airmata menetes.


Dan terbakarlah Rusell, ia benci melihat Livia meneteskan airmata untuk pria lain, ia benci karna Livia ternyata masih sangat perduli dengan Roni mantan tunangannya. mata Rusell bersinar tajam. mengeluarkan senjata api yang dari tadi tersimpan disaku jassnya dan mengarahkannya pada Roni.


"Aku ingin kau menyaksikan tunanganmu mati dihadapanmu sendiri Livia Wins." teriak Rusell dengan sangat murka.


Livia tertegun seluruh tubuhnya gemetar melihat pistol itu di arahkan tepat dikepala Roni. ia menggeleng keras dan meraih ujung jass Rusell dengan tatapan nanar.


"Jangan..aku mohon jangan melakukan itu padanya, jangan membunuhnya Rusell." jerit Livia meronta dalam dekapan Rusell yang kuat.


"Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali agar jagan pernah menghianatiku tapi apa, begitu kau melihat tunanganmu kau langsung lupa pada janjimu Livia." teriak Rusell menggila..


"Aku tidak pernah menghianatimu, desah Livia jujur..jemarinya terulur dengan gemetar penuh permohonan pada Rusell agar pria ini tidak membunuh Roni.


"Kau pikir aku percaya, jika Roni mati maka tak ada alasan bagimu untuk menghianatiku lagi." tatapan Rusell membara dalam rasa cemburu dan posesifnya.


"Ruselll tidakkkkk...aku mohon..."


Rusell menarik pelatuk tanpa ragu....seiring nafas Livia yang seakan berhenti bernafas, jantungnya berdebar sangat ketakutan..melihat wajah Roni yang menatapnya dengan senyum pasrah yang seakan membunuhnya....tidak ia tidak bisa membiarkan Roni pergi dengan cara seperti ini.


"Duaaaarrrrrrrrrr."


Suara tembakan itu melesat lurus seiring teriakan Livia yang begitu histeris melihat tubuh Roni yang jatuh dan tak bergerakkk...

__ADS_1


"Tidaaaakkkkk." jeritnya histeris........


__ADS_2