
Rafael melangkah masuk dan tertegun melihat Zefanya sedang menatapnya di depan pintu. apakah dia melihat semuanya. apakah dia mendengar semua pembicaraan dirinya dan Elena.
Rafael menghampiri Zefanya dan mengambil jemarinya dan menggenggamnya dengan erat..
"Kau darimana Rafael."? tatap Zefanya dengan senyuman bahagia, yah..dia sangat bahagia malam ini.
"Aku mencarimu sedari tadi, kau yang dimana."?tanya Rafael menatap ke arah Zefanya yang sekarang memenjara matanya.
"Aku sedang bersama mama di belakang, aku di ajak mama untuk menyiapkan kue-kue untuk tamu."
"Aku senang mendengar kau mudah akrab dengan mama terimakasih Zefanya."
"Tentu saja..aku beruntung mengenal mama Livia, sangat lembut dan sangat cantik." ucap Zefanya dengan mata berkaca-kaca.
"Mama adalah wanita yang sangat lembut, jika dia menyukai seseorang ia tidak akan berhenti memberikan perhatian padamu."
"Aku merasakannya Rafael, terimakasih."
Rafael mengerutkan dahi....
"Mengapa kau mengucapkan terimakasih."
"Kau memberiku kesempatan untuk dekat dan mendapatkan pelukan seorang ibu...airmata Zefanya menetes...
Rafael tak menunggu pria langsung meraih Zefanya ke pelukannya dan mendekapnya dengan erat. mengelus punggung Zefanya dengan gerakan pelan.
rasanya nyaman berada di pelukan wanita ini. dan Rafael tersenyum.
"Terimakasih kau memberiku kebahagian dan menyembuhkan lukaku Zefanya, aku...akan mengingat semua ini dengan baik."
Keduanya asik berpelukan dan tidak menyadari tatapan terluka seorang wanita yang menatapnya dari kejauhan.
Elena Rive..memandang dengan terluka ketika ia sudah kehilangan kesempatan untuk cinta sejati, seandainya saja dulu dia tidak tergoda..seandainya saja dia bisa menjaga hati dan tubuhnya..semua penyesalan yang kini datang menghantuinya terasa sangat menyakitkan bagi Elena. kini semuanya tinggal kenangan dan tak akan pernah kembali kepadanya. Elena menundukan wajahnya dalam-dalam.
"Sedang apa kau disini."? ucap seseorang dibelakangnya. Elena terkejut dan menoleh.
"Kenzo."?
"Yah..aku, mengapa kau berdiri disini seperti wanita yang bodoh."? ucap Kenzo ketika matanya menatap ke arah yang sama dengan tatapan Elena.
Elena menghapus airmatanya....
"Aku lelah dan aku ingin pulang." ucap Elena melangkah melewati Kenzo yang terdiam. ia menatap ke arah Rafael yang sedang memeluk wanitanya. sial...mengapa hatinya kesal melihat Elena masih saja mengharapkan mantan tunangannya itu.
❤❤
Wili tersenyum ketika semua acara penetapan tanggal pernikahan sudah hampir selesai, ia mendekati Angell yang sedang serius menyelesaikan sentuhan terakhir pada gaun pengantinnya, pria itu memeluk Angell dari belakang sehingga ia pun sontak terkejut.
__ADS_1
"Sayang...sudahlah..apa kau tidak punya pekerjaan selain ini."? aku harus cepat menyelesaikan gaun ini lusa adalah pernikahan kita." bisik Angell merasa geli dengan sentuhan Wili di balik pinggulnya.
"Aku tidak sabar lagi menunggu hari pernikahan kita sayang."
"Aku juga..." balas Angell dengan suaranya yang lembut.
"Aku harus ke suatu tempat sayang, dan aku minta maaf hari ini aku tidak bisa menemanimu ke salon.
Angell membalikan tubuhnya, membiarkan Wili memeluknya dengan mesra.
"Kau mau kemana."?
"Kesuatu tempat...ke makam orangtuaku dan adikku."
"Kau punya adik."?tanya Angell penasaran, selama ini ia hanya tau Dani adalah adikknya itu saja dan mengenai orangtua Wili ia sudah tau kalau mereka telah meninggal.
"Yah..adik perempuan..tapi dia meninggal ketika usia 17 tahun."
"Kasian sekali dia..siapa namanya."?
"Fia..ucap Wili pelan, ia tidak bohong nama adiknya adalah Gracefia Pearl dan belum saatnya Angell tau tentang nama panjang adiknya."
"Bagaimana jika kita pergi bersama, aku ingin mengunjungi makam mereka sebagai seorang menantu dan kakak ipar."
"Belum saatnya sayang." cegah Wili buru-buru.
"Jika sudah waktunya aku akan membawamu mengunjungi mereka terutama makam adikku dia akan senang sekali melihat aku menikah denganmu." mata Wili menajam yang entah mengapa membuat Angell sedikit nyeri. walau tatapan tajam itu cuma beberapa detik namun seperti menembus jantung Angell.
"Baiklah...pergilah." ucap Angel pelan.
"Aku mencintaimu Angell."
"Aku juga mencintaimu sayang." balas Angell menganggukan kepalanya, walau ia masih belum bisa melupakan tatapan tajam itu. namun itu pasti hanya pikirannya saja. Angell segera melepaskan pelukannya. dan melangkah bersama Wili keluar ruangan. ia harus pergi bersama Zefanya dan mama Livia ke salon dan fiting baju untuk Zefanya.
Merekapun melangkah keluar dari gedung dan berbagi jalan masing-masing.
Wili mengangkat tangannya dan melambai ke arah Angel yang menjalankan mobilnya lebih dahulu dan melaju meninggalkan parkiran perusahaan.
Wili kemudian mengikutinya dari belakang walau akhirnya ia berbelok arah.
Sebuah pemakaman umum yang mahal.....
Wili turun dari sana dan melangkah pelan menuju makam orangtuanya yang bersbelahan dengan makam adiknya Grace. semakin dekat ia melangkah semakin terasa sakit didadanya. seharusnya ia bisa menikmati pernikahan yang sempurna..seharusnya adikknya disini ada bersamanya dan sedang bahagia dan sibuk mempersiapkan pernikahan bersamanya.
Wili tak mampu menahan kesedihannya ketika baru sampai di depan makam Grace, ia tersungkur dihadapan makam adikknya dan meneteskan airmata.
"Apa kabarmu sayang..bersabarlah sedikit lagi dan kau akan melihat bagaimana kakak akan membalaskan semua rasa sakit yang pernah diberikan Angel kepadamu." ucap Wili dengan penuh dendam...
__ADS_1
💙💙
Angel, Zefanya dan juga mama Livia melangkah menuju sebuah butik terkenal milik Jimi teman mama yang menjadi langganan mama Livia. baru saja akan masuk kedalam butik mereka dikejutkan dengan sapaan seseorang.
"Selamat siang semuanya."
"Alex."? seru mereka serentak.
"Ya...aku ingin mengunjungi butik dan aku tak menyangka kita bisa bertemu disni." Alex tersenyum dengan cerahnya.
"Kau sudah berlangganan di butik paman Jimi juga."
"Kami sudah berteman dengan baik sejak saat kau kenalkan waktu itu."
Angell mengangguk.....
"Baiklah Alex, apakah kau sedang mencari jass untuk pesta pernikahan nanti."? tanya mama Livia.
"Iya tante...jujur aku sedikit bingung memilih dan Tuhan baik padaku sehingga kita bertemu disini..mungkin Angell bisa membantuku untuk memilih Jas yang tepat." ucap Alex dengan wajah pasrah.
"Baiklah Alex, aku akan memilih untukmu..ayo kita masuk."
Alex menganggukan kepala dan ikut masuk bersama rombongan Angell kedalam butik.
Jimi menyambut mereka dengan senyuman bahagia. setelah berbincang-bincang Jimi mengarahkan beberapa pegawainya untuk memperlihatkan beberapa gaun untuk di pilih Zefanya dan mama Livia.
Pria itu tersenyum menatap Alex dan Angell. seperti biasa pria itu akan selalu menganggumi Alex.
"Jadi...apa yang bisa kubantu untukkmu tampan."? ucap Jimi mendekati Alex yang hanya menggeleng tersenyum.
"Paman Jimi berikan koleksi Jass koleksi paman karna Alex akan memilih." ucap Angell.
"Baiklah....kau akan tampan di pesta pernikahan nanti."
Alex mengangguk dan menatap ke arah Angell dengan tatapan penuh harap.
Angell meraih setelan jass dan memberikan pada Alex.
"Coba ini dulu."
" Baiklah..aku akan mencobanya."
Angel baru saja akan memutar tubuhnya namun kakinya tergelincir karna lantai yang terlalu licin. tubuhnya goyah dan ia hampir saja jatuh namun Angell terkejut ketika sebuah tangan menangkap tubuhnya. Alex bergerak tepat waktu melempar jass itu sembarangan dan berlari untuk menahan tubuh Angell bersamanya.
"Achh......." desah Angell merasa ngeri hampir saja tubuhnya jatuh membentur lantai dengan keras..
"Angell..." Alex menatap Wanita itu dengan tajam.
__ADS_1