
"Apa yang kau inginkan Rafael Wins." Elena mundur beberapa langkah untuk menjauh dari tatapan pria ini yang begitu tajam. ternyata pria yang bercinta adalah seorang Rafael Wins, pria yang akan dijodohkan dengannya. wajah Elena memucat mengapa pria ini yang akan menjadi tunangannya. kebetulan yang sangat mengerikan. bayangan percintaan itu masih sangat membekas di ingatannya.
Rafael mendekat, sungguh kebetulan yang sangat membahagiakan untukknya. wanita yang ia cari kini begitu dekat dengannya bahkan bisa dibilang berada didalam genggamannya. Rafael tidak akan menyia-nyiakan waktu. bahkan jika orangtuanya menginginkan pernikahan sekarang. Rafael akan sangat menyetujuinya. masih terbayang kenikmatan tak terkira yang ia lewati bersama Elena di hotel semalam. bahkan tubuhnya bergetar meminta kehangatan itu sekarang. Elena Rive hanya wanita ini yang mampu memuaskannya.
"Aku menginginkan kau Elena Rive.'
"Kau sudah gila..kau sadar apa yang kau katakan, kita berada dirumahmu..tante Livia akan sangat marah jika tau apa yang kita lakukan, tepatnya apa yang kau lakukan."jerit Elena menghindar menutup dadanya dengan kedua tangannya.
"Untuk apa mama akan marah, lagipula kau akan menjadi tunanganku...tidak, aku tidak menginginkan tunangan itu terlalu lama untukku, mata Rafael membulat sempurna, bagaimana kalau kita menikah saja."
"Kau sudah gila, aku masih 19 tahun, aku bahkan belum selesai kuliah."
"Setelah menikah kau juga bisa tetap kuliah."
"Aku tidak mau Rafael, aku tidak ingin menikah muda...apalagi....."kata-kata Elena terputus..
Rafael menyambar tubuhnya hingga mata mereka bertemu dan tubuh mereka saling bersentuhan. bahkan dengan sentuhan saja Rafael merasa terbakar.
"Katakan semua yang ingin kau katakan di dalam kepala kecilmu sayang, aku ingin mendengar kejujuran calon istriku."
Elena mencoba meronta, namun tak bisa dan itu semakin membuatnya kesal. pria ini..tubuh pria ini yang polos membuatnya sesak nafas. tidak pernah ia seintim ini dengan lawan jenis. dan Elena merasakan debaran jantung Rafael dan nafasnya yang mulai tidak beraturan.
"Kurasa kita harus memikirkan ulang tentang pertunangan kita Rafael."
"Apa itu artinya, Elena Rive sedang menolak seorang Rafael Wins." desis Rafael semakin mendekatkan wajahnya hingga sedikit saja jika mereka bergerak. bibir mereka pasti bertemu.
"Yah..aku menolakmu, kau terlalu....liar dan aku tidak ingin disentuh oleh dirimu." ucap Elena yang sukses membuat wajah Rafael memerah. pria itu tersenyum dengan kejam.
"Sayang sekali karna aku adalah seorang Rafael Wins, aku tidak menerima penolakan...dan karna kau telah sedikit membuatku panas, maka kau harus mendinginkan aku...bagaimana." Rafael tertawa menikmati wajah pucat Elena yang seakan pingsan sebentar lagi.
__ADS_1
"Lepaskan aku Rafael." Elena kembali meronta untuk melepaskan diri namun seakan semua usahanya sia-sia.
Rafael terlanjur terbakar dan bangkit, tak ada yang bisa dilakukan Elena selain mendinginkan Rafael dari gairah dan rasa panas yang menjalar di seluruh aliran darahnya.
Dengan kekuatan penuh Rafael membawa Elena ke ranjang dikamarnya lalu membaringkannya. semua perlawanan Elena tak berarti sama sekali untuk Rafael ia menundukan kepala menikmati wajah Elena dibawahnya yang terlihat sangat cantik. lalu kembali melum** bibir Elena dengan rakus dan menikmatinya dalam waktu yang lama hingga Elena tak berdaya dikepung kenikmatan gairahnya. sekejap saja. semua pakaian Elena terlepas. Rafael menyukai untuk bermain-main disana disetiap titik sensitif Elena dan memberikan sensasi menyenangkan. yah..meski ini bukan pertama kalinya namun Rafael merasa lega, karna ia adalah lelaki pertama Elena. dan sekarang Elena akan menjadi milikknya. Rafael membawa Elena menuju puncak kenikmatan yang berkali-kali diraihnya malam itu.
Ruang makan keluarga Wins......
Livia tersenyum melihat pemandangan langka di meja makan. Rafael duduk makan dengan santai disamping Elena dan Angel seperti biasa memilih duduk di dekatnya.
Livia juga memperhatikan beberapa kali Rafael melirik ke arah Elena, walau gadis itu hanya menundukan kepala malu-malu.
"Bagaimana tidurmu semalam Elena."
"Uhug..uhug..."Elena batuk-batuk seketika hingga matanya memerah. smentara Rafael hanya terus makan dengan ekspresi dinginnya seolah tidak terganggu dengan ekspresi Elena yang pucat pasi.
"Apa kau sedang sakit Elena wajahmu pucat sekali."tatap Angel khawatir.
"Semalam aku merindukan Bunda jadi aku sedikit tidur larut malam." balas Elena berbohong.
"Baiklah kalau begitu, tante mengerti, ini pertama kalinya kau jauh dari orangtuamu dan tante akan menelfon mereka, jika tidak sibuk maka mereka bisa datang mengunjungimu sayang."
"Baik tante." Elena mengangguk dengan sopan.
"Oya, kau sudah tau kan ini namanya kak Rafael dia adalah tunanganmu mungkin setelah om dan ayahmu kembali dari luar negri, kami akan membicarakan pertunangan kalian."
Elena menoleh sebentar ke arah Rafael dengan tatapan kesal. tentu saja dia sudah lebih dahulu mengenal pria mesum ini. Elena tak habis pikir, mengapa om dan tante yang baik ini bisa punya anak semenakutkan seperti Rafael.
"Kami sudah saling mengenal Mah." ucap Rafael melirik Elena yang memilih diam dan hanya tersenyum pada Livia.
__ADS_1
"Kapan kalian saling mengenal..bagaimana awal pertemuan kalian, dan bagaimana kesannya." ucap Livia dengan penasaran.
"Kesannya." kata-kata Elena terdengar lemah, apakah dia harus jujur tentang kesannya pertama kali bertemu dengan pria ini. bahkan Rafael langsung mengambil miliknya yang berharga tanpa sedikitpun berp[ikir.
"Kesan kami ketika bertemu adalah manis, dia gadis yang manis untukk tapi aku tidak ingin bertunangan dengannya Mah."
Semua yang ada di meja makan itu saling menatap bahkan Elena pun terkejut dan menoleh pada wajah Rafael yang dingin. bukankah semalam dia menjanjikan pernikahan. astaga mulut lelaki ini mana bisa dipercaya.
"Apa maksudmu Rafael, jangan bercanda mama tidak menerima penolakan." suara mama Livia meninggi.
Salah satu penebusan rasa bersalahnya pada Roni adalah menjodohkan anak-anak mereka dan itu sudah menjadi kesepakatan dari awal ketika Rafael dan Elena lahir. Livia tidak akan membiarkan semua yang telah disusunnya gagal.termasuk oleh putranya sendiri.
Livia kembali menatap tajam ke arah Rafael yang masih diam dan menundukkan kepala. seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Rafael, jawab mama dulu apa maksud dari kata-katamu." ucap Mama Livia sedikit tidak sabar.
Elena yang melihat ketegangan antara ibu dan anak itu menjadi tidak enak, lalu berdehem memecah keheningan yang mengerikan untukknya.
"Tante Livia, kami masih muda dan lagi aku masih kuliah..bukan saatnya membicarakan tentang pertunangan..lagipula aku...."
"Tidak bisa Elena.." ucap mama Livia bersikap keras.
Rafael bangkit dari meja makan dan menatap semua yang ada di meja makan termasuk Elena dengan tatapan dingin.
"Aku tidak ingin tunangan dengannya Mah...karna aku...."
Haii.....penasaran ya sama jawaban Rafael, ditunggu ya...
jangan lupa Like, Koment yang banyak tentang cerita ini karna author senang sekali mendengar pendapat kalian tentang mereka di dalam novel ini, juga berikan Vote ya..biar Author tetap semangat Up setiap hari...Love u All...❤❤❤❤
__ADS_1