Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Penyesalan Rusell


__ADS_3

Rusell merasa tubuhnya melayang ketika tiba di depan pintu kamar. sudah banyak penjaga yang menundukan kepala tak berani menatap matanya. Rusell melangkah seolah kehilangan semua kekuatannya. terus melangkah menyeret tubuhnya dengan sisa kekuatan yang ada, menuju ranjang tempat Livia terbaring tidak sadar. Livia terlihat begitu pucat hingga untuk pertama kali dalam hidupnya Rusell merasa ketakutan. luka bekas tamparannya masih begitu membekas seakan membiarkan Rusell tersiksa didalam penyesalannya.


Sementara beberapa Dokter dan beberapa petugas lainnya sedang memeriksa Livia, Rusell begitu frustasi, melihat tidak ada tanda-tanda Livia bergerak, atau menunjukan bahwa dia akan hidup, setidaknya Rusell hanya meminta sedikit petunjuk agar dia merasa lebih tenang. berada lebih lama diruangan ini membuatnya seakan menjadi gila sendiri.


ia mendekati dokter dengan kesal.


"Apa saja kerjamu dokter, mengapa istriku juga belum bangun."?


"Maafkan kami tuan Rusell,tapi ketika kami sampai nyonya Livia sudah dalam keadaan sekarat,jadi kami akan...."


Rusell begitu marah mendengar kata sekarat keluar dari mulut dokter itu. ingin raasanya Rusell mencabik-cabik tubuh sang dokter agar dia berpikir dua kali untuk memberi informasi yang begitu menakutkan bagi Rusell.


"Kau mau mati ya...beraninya kau bilang istriku sekarat." Rusell meraih ujung jass dokter itu ds mencekiknya dengan kekuatan penuh. sementara ruangan hening seketika. tidak ada yang berani menegur Rusell. termasuk dokter lain yang ikut memeriksa Livia.


"Tuaan..aku hanya mengatakan hal yang jujur, aku minta maaf jika itu menyakiti anda..jika anda membunuhku bagiku tidak masalah tapi...istri anda tidak mungkin bisa selamat." ucap dokter itu tegas di sela kesakitan yang berusaha di tahannya.


Cekikan itu melemah hingga lambat laun terlepas. Rusell seperti tersadar bahwa dokter ini hanya datang untuk menolong. mengapa ia malah mengulur waktu saja..?


"Maafkan aku dokter aku hanya..."


"Aku mengerti tuan, tapi bolehkan anda menuggu diluar saja, kami akan berusaha menolong istri anda tuan Rusell." ucap dokter itu dengan tegas.


Rusell mengangguk setuju walau sangat berat meninggalkan Livia. sebelum menjnggalkan ruangan ia mendekati Livia, menatap sekali lagi tubuh pucat itu dri jarak yang dekat. Rusell kehilangan kata, melihat betapa rapuhnya istrinya dalam menghadapi kemarahannya Rusell hanya bisa menyesal. sungguh demi apapun, dia berjanji jika Livia bangun...Rusell akan mencabut semua hukumannya, Livia bisa kembali menjadi istrinya. Rusell akan melupakan kenyataan bahwa wanita yang ia cintai ini pernah melarikan diri untuk kembali kepada mantan kekasihnya. asal Livia bangun, maka Rusell akan melakukan semua yang dimintanya kecuali berpisah. Rusell tidak akan melepas Livia.


"Livia..,bangunlah sayang, ini perintah dariku suamimu."


Rusell menunduk sebentar mencium Livia dan memejamkan matanya. rasanya sakit sekali melihat tubuh Livia kaku tidak bergerak.


"Tuan Rusell, ijinkan kami.,menolong istri anda sekarang." pinta salah satu dokter dengan menundukkan kepala.


"Baiklah dokter, aku akan keluar sekarang."

__ADS_1


💓


Rusell kekuar dari kamar Livia dengan wajah dinginnya. dan Pedro kembali menunduk dihadapannya. Rusell kembali menghela nafas, ada apa lagi.?


"Ada apa Pedro."? Rusell memijit dahinya yang terasa sakit.


"Maaf tuan, aku harus menunjukan kebenaran soal nyonya Livia." ucapnya dengan nada tegas.


"Tentang cctv itu? Pedro aku sudah bilang kalau aku tidak ingin melihat atau mendengar jika Livia sendiri mengungkapkan akan kembali kepada Roni, musnahkan saja ccctvnya Pedro."


Rusell akan melangkah namun sekali lagi Pedro menahan langkahnya dan memaksanya berhenti. hanya Pedro satu-satunya yang mendapat perlakuan istimewa itu.


"Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukan padaku Pedro, aku sedang kesal sekarang."


"Tapi tuan harus mendengar kebenaran."


"Kebenaran apa."?


"Silahkan ikut aku tuan Rusell."


Pedro tersenyum melihat Rusell menurut kepadanya. anak muda ini memiliki sikap yang keras seperti Ayahnya dulu. Pedro sudah menjadi saksi betapa Rusell memiliki sikap lebih kejam dari Ayahnya. dan tak ada yang bisa merubah itu kecuali satu orang yaitu nyonya Livia.


Rusell menyandarkan tubuhnya dengan malas menghadap layar tv dan melihat lagi pembicaraan Meri dan Livia.


Rekaman itu diputar, satu persatu gambar itu menjelaskan keadaan yang sesungguhnya terjadi. bahwa Livia sebenarnya tidak pernah ingin melarikan diri. bahwa berkali-kali ia menyatakan dia sudah bersuami namun Meri tetap memaksa agar Livia meminta maaf. bahkan obat bius yang disembunyikan Meri juga tertangkap kamera. di rekaman itu bahkan Livia bilang dia mencintai suaminya.


Rusell kembali terdiam seakan kehilangan semua kekuatannya. bagaimana mungkin dia menyakiti istrinya dengan kedua tangannya sendiri. menyiksanya sampai di batas yang mampu ditanggung Livia. Rusell mengenang ketika Livia berulang-ulang memohon maaf. dan ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi namun, Rusell bahkan tidak percaya sedikitpun dan lebih memilih egonya. yah....apakah memang dia pantas untuk dicintai oleh Livia, wanita itu..,terlalu baik untuk dirinya, wanita itu sudah menahan semua siksaan yang mampu ditanggungnya. Rusell hanya mampu terdiam memejamkan matanya dan menyesali semua yang ia lakukan. sementara Pedro hanya menghela nafas dengan berat lalu mendekati Rusell dan menepuk bahunya.


"Tuan Rusell, terkadang kita harus sedikit bersabar untuk melihat kebenaran itu muncul dipermukaan."


"Kesabaran..aku tidak pernah memiliki itu didalam diriku Pedro, aku telah menyiksa istriku sendiri..wanita yang telah aku rampas kehidupannya dan yang lebih penting dari semua itu adalah dia mencintaiku dan setia."

__ADS_1


"Hahahahha, dia setia kepadaku Pedro dan aku, menyakitinya dengan sangat kejam." Rusel, tertawa keras namun disaat bersamaan airmatanya menetes. iapun menundukan kepala dihadapan Pedro satu-satunya pria yang melihat kerapuhan seorang Rusell Wins. seperti tatapan seorang Ayah, Pedro menatap Rusell pria gagah yang saat ini begitu disegani banyak orang, Pedro bangga dia adalah satu-satinya anak buah Rusell yang menyaksikan bagaimana Rusell tumbuh dari bayi sampai saat ini.


"Aku sangat menyesal pedro, aku bahkan tak bisa memaafkan diriku sendiri..bagaimana kalau Livia tidak selamat, aku akan kembali kehilangan wanita yang mencintaiku." Rusell kembali menundukan kepalanya.


"Berdoalah tuan Rusell, agar Tuhan menyelamatkan hidup nyonya Livia." ucap Pedro menenangkan.


Rusell hanya mampu terdiam kehilangan suaranya.


"Nyonya Livia mempunyai hati yang bersih, aku yakin nyonya akan segera bangun." ucap Pedro yakin.


Dan tak berselang kemudian pintu ruangan diketuk. Pedro menekan sebuah tombol untuk mendengarkan suara anak buahnya.


"Ada apa." ucap Rusell mengerutkan dahi, mau tak mau hatinya mulai cemas.


"Dokter memanggil tuan untuk segera keruangan."


"Apakah sesuatu terjadi."?


"Aku tidak tau tuan, tapi dokter menyuruh anda untuk cepat..


Rusell melompat seketika dan segera berlari keluar ruangan dengan wajah pucat pasi. sementara Pedro hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Kau benar-benar sudah jatuh cinta tuan Rusell."



Tak butuh waktu lama Rusell sampai didepan kamar Livia dan terkejut melihat semua dokter menatapnya dalam diam.


"Ada apa, kalian semua mengapa diluar ruangan." jantung Rusell dipacu dengan kencang."


"Tuan Rusell, kami akan menyampaikan kabar bahwa nyonya Livia......"

__ADS_1


Haiiii....jangan lupa dukung Author yah, dengan Like, Vote dan beri Rating, dan jangan lupa Komen yang banyak tentang cerita ini.


Love u All 💚💚💚


__ADS_2